Latest Post

KURIKULUM KRITIS

  Menurut Peter L Berger seorang sosiolog (1966), manusia pada hakikatnya memproduksi dirinya sendiri melalui pengalaman dalam realitas sosial. Bagian paling hakiki dari potensi manusia adalah hasrat, sebagai tanda bahwa manusia merasakan kekurangan yang menuntut untuk dipenuhi. Hal inilah yang menjadi watak manusia dalam keterlibatan peserta didik pada proses pembelajaran aktif.
            
Sejak James Watt menemukan mesin uap pada tahun 1796, Revolusi Industri di Inggris yang dimulai sejak tahun 1750, semakin menunjukkan perkembangan yang luar biasa. Mesin-mesin industri telah mengubah cara kerja manusia dalam menghasilkan “barang” secara revolusioner. Sebelumnya, proses pembuatan barang dilakukan secara manual oleh kerja manusia, namun setelah mesin uap berhasil dikembangkan, mesin telah menggantikan cara kerja manual menjadi cara kerja yang mekanis dan otomatis.
            Sejak itu, manusia yang hanya mengandalkan tenaga saja mulai tergusur dari kegiatan produksi dan begeser menjadi kuli kasar. Sedangkan yang mengerti mengoperasionalkan mesin, mengerti pembukuan dan pekerjaan administratif mendapatkan posisi yang utama dalam corak produksi yang baru ini.
Permintaan pasar yang besar serta perluasan pasar secara terus menerus, berperan penting dalam menggeser orientasi pendidikan. Sejak itu, pendidikan harus mengabdi pada kegiatan industri. Dan kini, pendidikan tak lain adalah warisan dari revolusi industri dalam perkembangannya yang lebih tinggi.
Hari ini, akibat dari meluasnya pasar, berlakunya sistem perdagangan bebas yang diyakini mampu mengatasi krisis over produksi, mau tidak mau industri harus terus mengintervensi potensi pasar baru. Penetrasi pasar dilakukan dengan menggunakan jasa-jasa tenaga pemasaran untuk meluaskan pasar sampai ke pelosok-pelosok perkampungan.   Untuk memuluskan langkah tersebut, lagi-lagi lembaga pendidikan harus terlebih dahulu mengabdi kepadanya. Dan tentunya, Negara jugalah yang pertama sekali merestui langkah ini.

Kurikulum Industri
Sejak Industri mulai berkembang pesat, kegiatan industri pertama-tama harus menyesuaikan diri dengan permintaan pasar yang sudah menjadi “goal” kegiatan industri, dan tentunya “target” menjadi budaya baru dalam proses kerja manusia.
Tak mudah menjadikan target industri sebagai beban yang harus dipikul oleh manusia. Menyadari kesukaran itu, beban target pertama-tama harus menjadi kebiasaan sejak kecil dan selanjutnya dilatih terus menerus dalam lembaga pendidikan (sekolah).
Hegemoni kurikulum pasar dipersiapkan untuk mencetak tenaga-tenaga yang siap menerima pekerjaan yang sesuai dengan keinginan pasar tanpa sanggup mengelak darinya (kehilangan kekritisan).
Prakondisi sudah dimulai dari menciptakan masyarakat yang terprogram, kaku, formalis dan bisu dalam kreatifitas. Salah satu stimulusnya selain target Ujian Nasional (UN), target Indeks Prestasi (IP) atau beban SKS, adalah dengan memberikan penilaian (ponten) kepada peserta didik, tak perduli sekalipun pelajaran menggambar bebas dan mengarang. Tidak ada pelajaran yang bebas dari ponten, bahkan jawaban yang bersifat opini pun tak luput dari penilaian benar dan salah.
Saya masih ingat ketika SD, saat menulis karangan bebas, tanpa saya sadari seluruh peserta didik menulis kalimat pembukanya dengan “Pada suatu hari….” Bahkan dalam pelajaran menggambar bebas, ponten 9 adalah mereka yang menggambar dua bukit gunung dengan matahari ditengahnya dan hamparan sawah di kiri-kanannya. Karena demi mengejar ponten 9, peserta didik kehilangan imajinasi dan kreatifitasnya, lalu ikut-ikutan menggambar yang sama.
Menurut Paulo Freire, pendidikan tak ubahnya seperti kegiatan menabung di mana murid sebagai celengan yang dengan sesuka hati diisi oleh gurunya. Yang terjadi bukan proses komunikasi, tetapi guru menyampaikan pernyataan-pernyataan dan mengisi tabungan yang diterima, dihafal, dan diulangi dengan patuh oleh para murid. (Paulo Freire; 1987)
Inilah cikal bakal mindset tenaga kerja industri yang kehilangan kemanusiaannya, kehilangan kreatifitas dan kebebasan berpikir sejak awal, untuk memudahkannya beradaptasi dengan mesin dan cara kerjanya yang mekanik.

Kurikulum Kritis
            Indonesia sejak Orde Baru hingga saat ini adalah negara yang mengadopsi kurikulum industri didalam institusi pendidikan. Hilanglah sudah pelajaran dari Multatuli, Ki Hjar Dewantara dan Tan Malaka soal memanusiakan manusia sebagai tugas pokok lembaga pendidikan.
Mari kembali pada pengertian dasar sekolah. Dalam Bahasa Latin: skhole, scola, scolae atau skhola memiliki arti: waktu luang atau waktu senggang, dimana ketika itu sekolah adalah kegiatan di waktu luang bagi anak-anak di tengah-tengah kegiatan utama mereka, yaitu bermain dan menghabiskan waktu untuk menikmati masa anak-anak dan remaja. Ada makna kebebasan yang terkandung dalam definisi diatas.
Saya berpendapat, membebaskan peserta didik dalam belajar apapun yang disukainya adalah pilihan bijak untuk menanamkan rasa cinta pada pelajaran. Tugas lembaga pendidikan menurut saya harus diubah, tidak lagi memaksa peserta didik pada pemahaman dan tindakan yang kaku berdasarkan kebenaran-kebenaran yang terprogram. Tugas lembaga pendidikan harus diubah untuk tidak lagi melayani kepentingan pasar dengan terus menerus menciptakan generasi robot-robot industri yang siap bekerja tanpa kreatifitas dan dedikasi pada kemanusiaan.
Dewasa ini, rendahnya minat membaca adalah salah satu kegagalan terbesar yang dialami dunia pendidikan kita. Perpustakaan ditiap-tiap sekolah selalu saja sepi dan tak mampu menarik perhatian mereka, begitu juga toko-toko buku. Peserta didik dari hari ke hari semakin kehilangan cita-cita dan daya imajinasinya dalam mengembangkan kepribadiannya.
Sebagian kecil dari mereka yang memikirkan cita-cita juga masih takut untuk keluar dari penjara kurikulum pasar. Tak sedikit dari mereka memilih belajar diluar (Bimbingan Belajar) dengan tujuan lulus di jurusan yang dicari pasar (industri) pada perguruan-perguruan tinggi favorit.
            Sebagian besar diantaranya malah tidak menyenangi belajar di sekolah, hingga mencari kesibukan lain yang tidak kalah parahnya, seperti ikut geng motor, geng shopping, geng dugem, geng tawuran dll. Ini adalah kegagalan selanjutnya dari kurikulum kita yang kaku.
Apakah jika ada formula baru dari sistem pendidikan kita maka dunia pendidikan kita bisa berubah dalam arti peserta didiknya bisa menjadi manusia yang unggul dan berkrepribadian? Menurut saya bisa. Dan harus diawali dari merubah kurikulum pasar menjadi kurikulum yang kritis.
Dalam kurikulum kritis, yang terpenting adalah bukan bagaimana peserta didik mendapatkan hasil dari standar yang telah ditentukan dengan mengacu pada standar industri, tapi bagaimana sekolah dapat menanamkan rasa keinginan belajar dan belajar lebih dalam lagi tentang pelajaran itu sendiri. Pendeknya, kurikulum kritis adalah upaya menanamkan minat belajar kepada peserta didik, dan minat mengembangkan pelajaran yang didapatnya dalam realitas masyarakat.
Praksisnya, sebuah tugas pelajaran tak perlu dinilai dalam bentuk angka, tak perlu ada kompetisi simbolis. Tugas-tugas pelajaran hanya perlu di apresiasi secara lisan sebagai bentuk penilaian kritis dari usaha–usaha mereka dalam mengenal pelajarannya.
            Mari kembali membuka sedikit lembaran sejarah bangsa kita. Tan Malaka jauh-jauh hari telah memperkenalkan metode belajar yang dapat merangsang peserta didiknya untuk mencintai kegiatan belajar. Tan Malaka mempraktekkan pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia. Murid yang bersekolah di sana diberikan hak-hak hidup “sebenarnya”, yakni kebebasan memilih dan mengeluarkan ekspresi minat dan bakatnya berupa lingkungan pendidikan yang sosial..
Tan Malaka berkeyakinan bahwa pendidikan idealnya menjadi transformasi manusia menuju satu perubahan yang lebih baik. Realita ssosial tidak hanya diterjemahkan secara kognitif tetapi juga bentuk aksi. Sebab, pendidikan bukan semata memproduksi pengetahuan. Lebih dari itu, pendidikan adalah gerak yang mencipta.(Syaifudin; 2012)
Dalam konteks dunia kontemporer, Norwegia menurut saya patut dijadikan contoh. Kebijakan pendidikan Norwegia berakar pada prinsip kesamaan hak terhadap pendidikan bagi semua anggota masyarakat, tanpa memperhitungkan latar belakang sosial dan budaya atau tempat tinggal. Kegiatan mengajar di sekolah Norwegia diadaptasikan dengan kemampuan dan keahlian masing-masing siswa.
 Lalu, bagaimana dengan kita? Masihkah kurikulum pendidikan saat ini kita pertahankan?

Randy Syahrizal, penulis adalah Ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD) Sumatera Utara
 

Perang Kebudayaan


Kita tentunya masih ingat pada Trisakti Bung Karno, yakni mandiri di bidang ekonomi, berdaulat di bidang politik dan berkepribadian di bidang kebudayaan. Bung Karno mengaitkan kebudayaan dengan ekonomi dan politik. Bahkan, dalam perjuangan kebangsaan, ketiganya tak dapat terpisahkan. Kebudayaan tidak bisa lepas dari sistem ekonomi politik yang sedang berkuasa di satu negeri. Kesimpulan inilah yang akan membimbing beberapa uraian dalam tulisan singkat ini.

Masa Penjajahan


Belanda dengan kongsi dagangnya (VOC) yang di pimpin oleh Cornelis De Houtman memasuki bumi Nusantara (1595), mendarat di Banten dengan tujuan merampok kekayaan alam dengan kedok berdagang rempah-rempah. Pada awal abad ke 17 (tahun 1602), kedok itu terbuka. Parlemen Belanda menabalkan VOC sebagai wakil dari pemerintahan Belanda, yang bertugas untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah di Nusantara dan mengisi kas Belanda yang pada masa itu sedang menghadapi perang dengan Spanyol.

Dalam usaha mempertahankan dominasinya, VOC merasa perlu melakukan penyelidikan kebudayaan masyarakat Nusantara. Awalnya para misionaris dibebankan tugas untuk melakukan penelitian terhadap kebudayaan dan masyarkat Nusantara. Kegiatan tersebut tidak berjalan dengan baik karena pemuka agama Islam dengan cepat mengantisipasinya dengan cara menghalang-halangi misionaris masuk ke daerahnya.  Pada tahun 1778, Inggris menyerbu Jawa, dan kekuasaan VOC direbut oleh Inggris. Raffles ditunjuk sebagai Gubernur Jendral. Raffles mempunyai perhatian serius terhadap kajian ilmu pengetahuan dan kajian terhadap masyarakat Jawa. Raffles mendirikan Bataviasche Genootschap van Kusten en Westenscappen sebuah lembaga penelitian yang akan bekerja untuk mempelajari bahasa, hubungan sosial, adat dan kebudayaan masyarakat Jawa. Dari data-data yang telah dikumpulkan lembaga tersebut, Thomas Stamford Raffles menulis ”History of Java” pada abad ke 19.

Kesimpulan masyarakat Jawa kuno seperti yang dilukiskan Pramoedya dalam tetralogi Pulau Buru dengan mengutip Mpu Tantular menerangkan bahwa bangsa Jawa adalah masyarakat yang mudah menyesuaikan diri akibat peristiwa peperangan-peperangan masa lalu (konflik Mahayana dan Hinayana dalam Budha) yang banyak memakan korban nyawa, yang akhirnya melahirkan watak kompromi, karena hanya ada dua pilihan bagi bangsa yang kalah, yakni menyesuaikan diri atau melarikan diri. Kompromi ini juga bisa di lacak dari penggabungan dua keyakinan, yakni Wangsa Syailendra yang Budha dan Wangsa Sanjaya yang Hindu, hingga melahirkan Shiwa Budha ditandai dengan perkawinan Rakai Pikatan dan Pramodawardhani. Untuk persatuan Shiwa – Budha, dalam kitab Sutasoma, Mpu Tantular Menulis: ”Siwa Budha Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa”.

Akhirnya, Jawa juga menyesuaikan diri dengan pemerintahan kolonial Belanda, dengan menerima beban pajak, sewa tanah, tanam paksa (culturstelsel), dan hukum kolonial Belanda. Pemerintahan Hindia Belanda mereorganisasi tatanan pemerintahan raja-raja di Jawa dalam beberapa jabatan kepegawaian, yakni: Bupati, Wedana dan Asisten Wedana yang semuanya berada dibawah kendali Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Buitenzorg (Bogor).

Untuk mengukuhkan kekuasaannya, Belanda mendirikan sekolah–sekolah berbahasa Belanda, menyebarkan agamanya (Kristen), mengeluarkan hukum kolonial untuk mengadili perkara pribumi, mengajarkan kebiasaan–kebiasaan Belanda sebagai kebiasaan yang terpuji dan beradab, mengeluarkan paket kebijakan rasial yang intinya rakyat pribumi berkedudukan lebih rendah dari peranakan Belanda (Indo) dan Belanda totok, dan menghegemoni pikiran masyarakat pribumi dengan koran-koran berbahasa belanda.

Koran sebagai produk kebudayaan mempunyai arti penting dalam menundukan kebudayaan suatu bangsa. Didalam koran terbitannya sendiri, Belanda selalu memuji-muji pemerintahannya yang lebih baik daripada pemerintahan raja-raja Jawa yang memandang rendah kemanusiaan, gemar kawin dan berlaku bebas untuk mengambil anak gadis siapa saja yang hendak di peristrinya. Belanda mengutuk kekuasaan raja-raja jawa terdahulu dengan memberi label ”terbelakang dan biadab”, sementara dibawah pemerintahannya, Hindia Belanda menjadi beradab. Pendeknya, koran dijadikan media untuk membenarkan apa saja yang diperbuat pemerintahan Belanda.

Dalam hal ini, Belanda sudah mengukuhkan kebudayaan baru yang hendak ditujukan untuk menghabisi kebudayaan lama. Generasi awal intelektual Indonesia pun memuji-muji kemajuan Belanda dan Eropa, serta enggan berpakaian daerah (Jawa) dan lebih menyukai cara berpakaian Belanda, dan juga menulis dalam Belanda. Sedangkan bahasa Melayu di cap sebagai bahasa terbelakang dan hanya dipakai oleh rakyat pribumi yang terbelakang.

Perjuangan Membangun Kebudayaan Nasional di Zaman Pergerakan

Sumpah Pemuda (1928) adalah sebuah tekad untuk membentuk nation yang mempunyai arti penting dalam perkembangan membangun kebudayaan nasional. Satu bahasa Indonesia adalah tekad meruntuhkan dominasi bahasa Belanda sebagai bahasa penguasa, dan menjadikan bahasa Melayu (yang disempurnakan) menjadi bahasa persatuan nasional, menjadi bahasa pergerakan, dan bahasa perjuangan untuk kemerdekaan.
Perjuangan untuk mengukuhkan bahasa Melayu menjadi bahasa persatuan (resmi) juga mengalami perdebatan yang panjang. Periode 1935–1939 adalah masa penyempurnaan bahasa Indonesia dengan beberapa karya tulis dari intelektual Indonesia sebagai bahan acuannya, antara lain, karangan St. Takdir Alisyahbana, Amrin Pane, Amir Hamzah dan angkatan Balai Pustaka lainnya. Sebelum periode ini, beberapa tulisan Bung Karno dan Bung Hatta masih merupakan bahasa campuran, yakni bahasa Melayu bercampur Belanda. Lalu diadakan kongres Bahasa Indonesia di Solo pada tahun 1938 untuk menyempurnakan bahasa Indonesia.

Sejak Medan Priyayi merintis kelahiran koran pribumi dan dapat diterima baik oleh rakyat pribumi, beberapa koran berbahasa melayu pun bermunculan dan berposisi sebagai organ-nya organisasi pergerakan, seperti Pewarta Oemoem (Parindra), Adilpalametra dan Toentoenan Desa (Budi Utomo), Oetoesan Hindia (SI), Sinar Djawa dan lain-lain. Koran pribumi adalah counter opini dari koran-koran Belanda yang pro pada kepentingan politik dan akumulasi modal Belanda.

Pada masa pendudukan Jepang, lagu-lagu perjuangan menjadi bagian yang tak kalah penting dalam menyuarakan kemerdekaan kepada rakyat pribumi. Tahun 1942, saat negara sekutu dikalahkan oleh Jepang, lagu Indonesia Raya yang diciptakan oleh WR. Supratman dikumandangkan radio pusat di Jakarta. Untuk mengambil hati rakyat Indonesia, Jepang juga mengumandangkan lagu tersebut bersamaan dengan lagu Nippon Hosyo Kanri di radio Jepang yang berpusat di Tokyo. Tapi ternyata kegiatan itu hanya berlangsung singkat dan hanya bertujuan untuk menjinakkan bangsa Indonesia, dan segera melarangnya saat bangsa Indonesia tengah serius menyempurnakan kemerdekaannya dengan membentuk sistem pertahanan rakyat. Jepang yang sejak semula ingin berkuasa atas Asia lantas menghentikan sandiwara empati tersebut, dan menggantikannya dengan kewajiban mengumandangkan lagu ”Kimigayo” dalam setiap upacara kenaikan bendera Jepang.

Lahirnya lagu-lagu perjuangan Indonesia seperti ”Maju Tak Gentar” yang diciptakan oleh Cornel Simanjuntak, ”Satu Nusa Satu Bangsa” ciptaan Liberty Manik, ”Berkibarlah Bendera-ku” ciptaan Bintang Sudibyo (Ibu Sud), ”Syukur” ciptaan Husein Mutahar, dan ”Halo-halo Bandung” ciptaan Ismail Marzuki adalah hasil dari persatuan seniman yang tergabung didalam Badan Pusat Kesenian Indonesia (BPKI) pada tahun 1942 yang dipimpin oleh Sanusi Pane dan Mr. Sumanang, dan nama-nama diatas yang juga menjadi pengurusnya.

Setelah Jepang menyerah kepada sekutu, tantara NICA (Belanda) masuk kembali ke Indonesia dengan membonceng pada pasukan sekutu yang dikomandoi Inggris selaku wakil negara sekutu pada tahun 1945. Dua tahun kemudian muncullah ketegangan yang berlanjut pada Agresi Militer Belanda pertama dan setahun kemudian tindakan yang sama terulang yakni Agresi Militer Belanda ke II. Lagu-lagu perjuangan seperti yang tersebut diatas juga berperan penting dalam membakar semangat juang tentara rakyat yang masih bayi, laskar-laskar rakyat dan pemuda-pemuda Indonesia untuk berjuang mengangkat senjata membela dan mempertahankan kemerdekaan.

“Imperialisme Budaya” dan peran Media Massa

Herb Schiller dalam Communication and Cultural Domination berpendapat bahwa kemunculan teori Imperialisme Budaya dapat dilihat dari dominasi barat atas media diseluruh dunia. Barat sebagai perwakilan kekuatan modal, dengan kekuatan modalnya menguasai pemberitaan di dunia ini. Mereka cukup mempunyai akses diseluruh dunia, begitu juga dengan jaringannya. Dengan kecanggihan tekhnologi, kekuatan modal dan luasnya jaringan, media barat menjadi sangat mengesankan bagi dunia ketiga.

Barat kemudian meracuni alam pikiran rakyat dunia ketiga dengan berita-beritanya yang mewakili kepentingan korporasi modal dunia, menyensor berita-berita perjuangan rakyat dunia ketiga dan berita-berita lain yang menentang dominasinya, menyensor berita bahkan tidak memberitakan kejahatan-kejahatan yang dilakukannya (seperti kudeta terhadap Hugo Chavez tahun 2002), membelokan sejarah dengan film-filmnya (seperti film perang Vietnam misalnya), meracuni para pemuda dengan style berpakaian ala mereka, berpenampilan glamour, budaya kekerasan liar, gengster, mafia, sex bebas, narkoba, menayangkan kedermawanan mereka terhadap orang miskin dengan tayangan reality show dll.

Kehebatan media barat dengan propaganda massif yang terus menerus di konsumsi oleh negara dunia ketiga akan berbuah menjadi pengekoran, yakni peniruan secara vulgar apa-apa saja yang mereka lihat dan ditayangkan dalam kehidupan sehari-hari. Proses peniruan ini terjadi tanpa sadar dan nyaris berjalan tanpa counter yang sepadan. Proses peniruan inilah yang menghancurkan budaya asli negera dunia ketiga.
Kita tentunya masih ingat bagaimana media barat mempropagandakan ”terorisme dan penjahat perang” serta merasionalisasi tindakan AS menginvasi Irak sebagai upaya menciptakan demokrasi di Irak, begitu juga di Libya, Afghanistan, dan yang baru-baru ini sedang menghangat, yakni ketegangan AS dengan Iran dan Korea Utara. Begitulah media barat menyebarkan kebohongan-kebohongan di pikiran rakyat dunia ketiga.

Media barat juga mengkampanyekan ”klub malam” sebagai gaya hidup kaum profesional, sebagai hiburan pelepas penat bekerja, merendahkan derajat perempuan dengan menjadikannya bintang iklan mobil mewah (berpose seksi dengan menari eksotis dibadan mobil), mengkampanyekan kelestarian alam dan hutan padahal perusahaan mereka adalah pelaku pembalakan liar, menghapus ingatan sejarah dengan cerita-cerita kepahlawanan super hero dari negeri paman Sam, hingga anak-anak di Indonesia lebih mengenal Spider Man ketimbang Untung Suropati yang gagah berani, lebih mengenal Cat Women ketimbang Kartini dll.
Sepak terjang media barat yang begitu hebat dan massif juga di jadikan standard oleh media massa kita.

Stasiun TV kita misalnya, berlomba-lomba mirip dengan media barat. Bahkan beberapa acara memang sengaja di impor ke Indonesia, seperti Indonesian Idol, Take Me Out dan Xfactor misalnya. Begitu juga dengan perfilm-an kita, yang ramai-ramai memproduksi film horror dengan kombinasi cerita porno di dalamnya. Tayangan-tayangan yang menjauhkan orang miskin dari kesadaran kritisnya, dipelopori oleh tayangan reality show yang ber-empati terhadap orang miskin dan mengaburkan masalah kemiskinan menjadi persoalan takdir hidup dan tidak menyentuh akar persoalannya yakni tanggung jawab negara menyejahterakan rakyat-nya. Dan banyak lagi yang teramat panjang untuk disebutkan satu persatu.

Saya sendiri merasa beruntung pernah hidup di zaman Soeharto, dan besar di era reformasi. Paling tidak, peristiwa 1998 masih hangat diperbincangkan di kampus-kampus, termasuk kampus tempat saya kuliah. Saya ingat saat pertama kali bergabung kedalam organisasi pergerakan di USU, dan rangsangan itu saya terima karena peristiwa 1998 menjadi atmosfir dalam pergerakan mahasiswa. Sekarang, setelah 11 tahun berlalu, peristiwa itu tak lagi menarik dan hangat, tidak lagi menjadi atmosfir, dan dikalahkan dengan komunitas Sahabat NOAH, kelompok fans artis dan band ”ngak-ngik-ngok” dan yang tak kalah hebatnya, fenomena K-Pop yang ditiru habis-habisan, mulai dari musik, pakaian, sibak rambut, sampai apa saja yang berbau Korea (juga film bersambungnya).

Perjuangan kebudayaan di Indonesia memang akan menjadi berat, terutama karena saat ini yang sedang dilawan adalah ”Imperialisme budaya” yang berbentuk Industri (komersil) yang mengedepankan laba (keuntungan) dan pelipatgandaan keuntungan (akumulasi). Yang dilawan saat ini adalah dominasi kebudayaan ala ”Amerika” yang mengedepankan ”life style” rupanya tengah menjerumuskan rakyat dunia ketiga dalam pola hidup konsumtif, berbeda dengan dominasi kebudayaan kolonial yang berupa sekolah dan perguruan-perguruan tinggi yang mewakili gagasan kolonialismenya.

Imperialisme budaya mempunyai struktur (jaringan) dan infrastruktur yang kuat. Menghasilkan produk yang massif dengan perubahan terus menerus. Dia juga masuk ke institusi-institusi pendidikan (negara dunia ketiga) terutama untuk tetap mengokohkan akumulasi modalnya dengan mengembangkan kurikulum pendidikan yang hanya bisa melahirkan para konsumen, tidak lagi produsen. Dia juga masuk kedalam institusi agama untuk menyebarkan kepasrahan akan nasib kemiskinan yang di derita sebagai takdir dan ketetapan Tuhan.

Perang Gagasan adalah Perang Kebudayaan

Sekarang, dalam masa demokrasi liberal jalannya kesenian dan kesastraan berjalan dalam bingkai industri. Musik dimonopoli industri, tari-tarian juga demikian, film apa lagi, bahkan karya sastra pun begitu. Dalam masa demokrasi liberal sekarang ini, jalannya kebudayaan tidak identik dengan haluan politik tertentu. Sesuai bangunan sistemnya yang ”liberal” maka kesenian dan kesastraanya juga demikian nasibnya. Namun secara keseluruhan, kehadirannya justru merusak fikiran rakyat dan membikin demoralisasi berkepanjangan.

Perang gagasan adalah hal penting yang harus dilakukan terus menerus. Gagasan akan kebudayaan yang bergaris ”Realisme Revolusioner”  harus lahir mengiringi setiap karya yang mewakilinya. Menjadi sangat penting untuk mengurai sejarah lagu-lagu perjuangan dimasa pergerakan kemerdekaan saat mengulas sebuah album yang berisikan lagu-lagu perjuangan. Begitu juga dengan uraian  sejarah seni rupa yang melukiskan tentang penderitaan dan cita-cita perjuangan kemerdekaan, dan hal yang sama untuk karya-karya sastra yang mewakili semangat revolusioner. Uraian sejarah menjadi penting sebagai upaya mengembalikan ingatan sejarah, bahwa lahirnya seniman musik Indonesia berawal dari lagu-lagu perjuangan, lahirnya karya sastra Indonesia juga demikian bahkan film ”Nyai Dasima” produksi tahun 60-an juga lahir dari semangat yang sama.

Perang gagasan juga harus beriringan dengan perang media. Perang media adalah upaya membikin media massa alternatif untuk berdiri dengan jujur dalam pemberitaan, meng-counter opini sesat dan berpihak pada rakyat sebagai pelaksana perubahan kemajuan jaman.

Tentunya hal ini tak mudah, terutama jika kita sadari musuh yang kita hadapi adalah industri besar. Menjadi tidak mudah karena situasi sekarang berbeda dengan situasi dahulu dimana idiologi-idiologi politik sangat berakar kuat dalam pikiran masyarakat. Bagaimanapun sulit dan peliknya jalan revolusi kebudayaan, kita tetap harus membuka jalan.

Randy Syahrizal, Aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) Sumatera Utara. Ia bisa dihubungi di email: randy.syahrizal@yahoo.com
 

Beda Mayjend Agus Sutomo dengan SBY si kepala batu

Ada tiga contoh yang diberikan oleh Mayjen Agus Sutomo (Danjen Kopasus), dan itu membedakan dirinya dengan SBY :

1. Dia mengakui kesalahan prajuritnya dan menanggung beban tanggung jawab atas kesalahan tersebut. kesalahan bawahan adalah kesalahan pimpinan, begitulah katanya. tidak seperti SBY yang selalu mencari kambing hitam kesalahan pemerintahannya, termasuk kesalahan di partainya (kasus korupsi bawahannya di partai demokrat)

2. Didalam diri Mayjend Agus Sutomo ada "Leadership" mempertimbangkan kasus yang menimpa korps-nya dengan pertimbangan keutuhan NKRI yang dapat terancam akibat disintegrasi sosial, sedangkan SBY bermental "Bawahan" yang patuh pada nasehat Asing.

3. Mayjend Agus Sutomo sudah berlaku jujur, sedangkan SBY selalu berbohong tentang kondisi perekonomian rakyat yang dikatakannya selalu meningkat, padahal puluhan orang mati kelaparan di Papua.
 

Kisah ‘Haji Merah’ Dari Sumatera Barat

Pada tahun 1920-an, ketika benih marxisme mulai masuk ke Indonesia, yang menyebarkannya ke bumi—rakyat—adalah para Haji. Mereka mengibarkan panji-panji “Islam Komunis”.
Di Jawa, penggerak utamanya bernama Haji Misbach. Ia adalah seorang mubaligh didikan pesantren. Selain itu, Misbach sudah menunaikan ibadah Haji di Tanah Mekah. Dan, jangan salah, dia bisa berbahasa Arab.
Di Sumatera Barat, orang seperti Haji Misbach juga ada. Namanya: Haji Ahmad Khatib alias Haji Datuk Batuah. Ia lahir tahun 1895, di Koto Laweh, Padang Panjang. Ayahnya, Syekh Gunung Rajo, adalah seorang pemimpin Tarekat Syattariyah.

Datuk Batuah sempat mengenyam pendidikan dasar di sekolah Belanda. Setelah tamat, ia menuntut ilmu di Tanah Mekah selama 6 tahun, yakni dari tahun 1909 hingga 1915. Di sana ia berguru pada Syech Ahmad Khatib al-Minangkabawi.

Saat itu, di Sumatera Barat, sudah berdiri perguruan Islam bernama “Sumatra Thawalib”. Perguruan ini didirikan oleh kaum modernis Islam, yang berusaha melakukan pembaruan Islam melalui pendidikan. Salah satu gurunya bernama Haji Rasul—ayah dari Buya Hamka.

Audrey Kahin, dalam bukunya “Dari Pemberontakan ke Integrasi”, mencatat bahwa beberapa guru di Sumatera Thawalib tidak melarang murid-muridnya mempelajari teori-teori radikal, termasuk marxisme.
Begitu pulang dari Mekah, Datuk Batuah langsung bergabung dengan Sumatera Thawalib. Awalnya, ia menjadi murid Haji Rasul. Dia dianggap murid paling cerdas dan dinamis. Karena itu, ia pun diangkat menjadi Asisten pengajar oleh Haji Rasul.

Namun, karena pengaruh teori-teori radikal, Datuk Batuah sering berseberangan pendapat dengan Haji Rasul. Haji Rasul sendiri sangat otokratis dan konservatif. Ia menentang ide-ide radikal yang digandrungi oleh muridnya.

Pada tahun 1920-an, Haji Datuk Batuah ditugasi oleh Haji Rasul untuk meninjau keadaan sekolah Thawalib di Aceh. Namun, siapa sangka, di perjalanan inilah Ia bertemu dengan Natar Zainuddin, seorang propagandis serikat buruh kereta api (VSTP).

Datuk Batuah dan Natar Zainuddin langsung berkawan akrab. Pada tahun 1923, keduanya berangkat ke Jawa. Entah sengaja atau tidak, keberangkatan mereka bertepatan dengan Kongres Partai Komunis Indonesia (PKI)/Sarekat Rakyat (SR) di Bandung, Jawa Barat.

Datuk Batuah dan Natar Zainuddin jadi peserta di kongres itu. Saat itu, seorang Haji dari Surakarta, yaitu Haji Misbach, tampil berpidato di Kongres. “Saya bukan Haji, tapi Mohammad Misbach, seorang Jawa, yang telah memenuhi kewajibannya sebagai muslim dengan melakukan perjalanan suci ke Mekah dan Medinah,” begitulah Misbach memperkenalkan dirinya.

Namun, begitu Misbach masuk ke inti pidatonya, Datuk Batuah langsung terperangah. Menurut Misbach, ada kesesuaian antara ajaran Al-Quran dan Komunisme. Antara lain, Al-Quran mengajarkan bahwa setiap muslim harus mengakui hak azasi manusia. Tetapi hal itu juga menjadi prinsip dalam program komunis.
Selain itu, kata Misbach, Tuhan memerintahkan untuk melawan segala bentuk penghisapan dan penindasan. Hal itu juga menjadi jiwanya kaum komunis. Lebih penting lagi, komunisme tidak mentolerir diskriminasi pangkat dan ras. Ajaran Karl Marx ini juga mengutuk klas-klas di dalam masyarakat. Slogannya: Sama rasa, Sama rata!

“Siapa yang tidak bisa menerima prinsip-prinsip komunisme berarti dia belum benar-benar muslim,” kata Misbach di akhir pidatonya.

Pidato Misbach sangat membekas dalam pikiran Datuk Batuah. Begitu pulang ke Sumatera Barat, ia segera menyebarkan pandangan “Islam Komunis” ala Misbach itu kepada murid-muridnya di Perguruan Thawalib dan melalui koran “Pemandangan Islam”.

Sementara Natar Zainuddin, yang kembali ke Sumatera Barat pada Mei 1923, segera menyebarkan gagasannya melalui koran “Djago-Djago”. Dua koran ini pula yang menjadi terompet perjuangan menentang kolonialisme di Sumatera Barat.

Pada tanggal 20 November 1923, berdirilah PKI seksi Padang Panjang dengan susunan pengurus: Haji Dt. Batuah (Ketua), Djamaluddin Tamim (sekretaris dan bendahara), Natar Zainuddin (anggota), dan Dt. Machudum Sati (anggota).

Sejak itu, Datuk Batuah menjelma menjadi “propagandis komunis”. Rakyat banyak menyebutnya “ilmu kuminih”. Banyak pedagang terseret dalam propaganda “Islam Komunis”. Maklum, Islam mengharamkan praktek “Riba” dan melarang umatnya menumpuk harta. Ini selaras dengan propaganda Marxisme menentang kapitalisme.

Haji Datuk Batuah menikah dengan Saadiah. Hasil perkawinannya dikaruniahi tiga anak. Salah seorang anaknya diberinama: LENIN. Lalu, Datuk Batuah menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Zainab. Ia dikaruniai seorang putri bernama KARTINI.

Sebagai seorang komunis, Haji Datuk Batuah tetap taat pada agamanya. Audrey Kahim mengutip pernyataan Buya Hamka tentang Haji Datuk Batuah: “Rupanya dia menjadi pengikut setia komunisme hanya untuk hal-hal yang menyangkut (ajaran) ekonomi, tidak dalam hal-hal materialisme historisnya. Jadi, dia komunis tulen yang masih memeluk agama Islam. Konon kabarnya, orang-orang komunis yang anti-agama harus hormat kepadanya. Sebab dia tidak keberatan bersikap keras terhadap orang-orang yang mencela agamanya.”

Propaganda “Islam Komunis” sangat membumi. Rakyat pun berbondong-bondong menjadi anggoat PKI. PKI Padang Panjang punya pusat propaganda bernama: International Debating Club (IDC). Namun, rupanya, Belanda sangat khawatir dengan hal itu. Maklum, PKI adalah organisasi paling radikal dan paling keras menentang kolonialisme Belanda.

Akhirnya, baru 2 bulan beraktivitas di Padang Panjang, Belanda menggeledah IDC. Itu terjadi tanggal  11 November 1923. Saat itu, aktivis IDC sedang melipat-lipat koran Djago-Djago! Tiba-tiba datang Polisi bersenjata lengkap menggeledah tempat itu.

Natar Zainuddin dan Datuk Batuah ditangkap. Sehari kemudian, para aktivis PKI Padang Panjang dan anggota Redaksi Djago-Djago juga mulai ditangkapi oleh Belanda. Sebulan kemudian, Djamaluddin Tamin juga ditangkap.

Datuk Batuah dan Natar Zaimuddin dibuang ke Timor (NTT). Natar Zainuddin dibuang ke Kafannanoe (Kefamenanu), sedangkan Datuk Batuah dibuang ke Kalabai (Kalabahi, Alor). Namun, meski di pembuangan, Datuk Batuah tetap aktif berjuang.

Bersama dengan  Christian Pandie, aktivis Timor, mendirikan organisasi bernama Partai Serikat Timor. Tak lama kemudian, partai ini berganti nama menjadi Partai Serikat Rakyat. Azasnya tetap: Komunisme! Sayang, ketika meletus pemberontakan PKI tahun 1926, aktivis Partai Sarekat Rakyat turut ditumpas Belanda.
Pada tahun 1927, Datuk Batuah dan Natar Zainuddin dipindahkan ke Boven Digul, Papua. Tidak banyak dokumentasi terkait kehidupan Datuk Batuah dan Natar selama di Digul. Begitu Jepang merengsek masuk Indonesia, Datuk Batuah dipindahkan New South Wales, Australia.

Konon kabarnya, Datuk Batuah dan istrinya, Saadiah, sempat kembali ke Indonesia dan tinggal di Solo, Jawa Tengah. Dalam buku Soe Hok Gie, Orang-Orang Di Persimpangan Kiri Jalan, disebutkan bahwa Datuk Batuah masuk daftar anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Ia mewakili Solo bersama DN Aidit dan Alimin.

Tahun 1948, Ia kembali ke kampung halamannya: Koto Laweh, Padang Panjang. Di sana ia tetap berpropaganda komunisme. Datuk Batuah meninggal dunia tahun 1949.

Risal Kurnia, Kontributor Berdikari Online
 

Rakyat Kecil Menjadi Korban Ketidakadilan Hukum (Bercermin Pada Masa Pemerintahan Hindia Belanda)

Pada tahun 1903, Sastrawan Peranakan Tionghoa bernama Gouw Peng Liang juga turut menuliskan kisah yang bertemakan ”kriminalisasi” terhadap Tan Hin Seng seorang rakyat kecil (pedagang sayur) oleh seorang tuan tanah Lo Fen Koei, dimana kasus yang diperkarakan telah diskenariokan oleh Tuan Demang Tabri (Priyayi) untuk menawar pasal-pasal hukum dengan anak gadisnya yang cantik jelita. 

            Dalam cerita yang diambil dari kisah nyata di Jawa, Lo Fen Koei, seorang Tuan Tanah dan Pachter Opium di Residen Benawan, Afdelling Banjar Negara, punya keinginan untuk mengangkat gadis cantik bernama Tan San Nio sebagai istri mudanya, alias gundik. Ayah gadis cantik ini adalah seorang penjual sayur yang menyewa tanah di lahan milik Lo Fen Koei. Kehidupannya sangat miskin. Ayah gadis ini menyimpan rasa benci kepada tuan tanah Lo Fen Koei atas tindakan semena-mena terhadap para koeli dan tindakannya juga yang selalu menaikkan sewa atas tanah. Akhirnya, sang Ayah menolak lamaran Lo Fen Koei dengan sangat kasar meskipun di iming-iming mendapat rumah besar di Banjar Negara dan uang sebesar 500 Gulden, ditambah tidak perlu lagi membayar uang sewa tanah.
            Tuan tanah Lo Fen Koei marah atas penolakan itu. Kemudian menyuruh pesuruhnya untuk memasukan candu kedalam bakul sayur milik Ayah gadis cantik tersebut, dan juga mencari sekutu di dalam birokrasi pemerintahan Afdelling dengan membayar Tuan Demang Tabri untuk melakukan penggeledahan isi rumahnya bersama polisi Afdelling Banjar Negara. Setelah proses penggeledahan, Tuan Demang menjumpakan sang Ayah kepada Lo Fen Koei dengan bujuk rayuan untuk mendapatkan kebebasan dengan menukar pasal candu gelap menjadi candu kongsi, dan karena perubahan pasal itu dia tidak akan ditahan. Bujuk rayu itu tentunya mensyaratkan kerelaan sang Ayah untuk merestui pergundikan anaknya. 

            Tapi dia menolak mengakui kepemilikan candu itu, dan tetap berkeras untuk tidak menikahkan putrinya kepada tuan tanah Lo Fen Koei. Akhirnya, sang ayah harus mendekam di penjara, dan bertambah ingin nafsunya si tuan tanah karena si nona cantik sudah tanpa perlindungan ayahnya.

Masa Sekarang Ini
            Baru baru ini ketidakadilan hukum ditunjukkan oleh vonis ringan yang ditujukan pada Rasyid Amrullah, anak menteri perekomian Hatta Radjasa, terdakwa tabrakan maut yang menghilangkan nyawa orang lain, dengan hukuman percobaan selama 6 bulan. Sebelumnya Jaksa Penuntut Umum telah menjerat Rasyid dengan dua dakwaan, pertama dakwaan primer, yakni Pasal 310 ayat (3) dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara, karena menyebabkan luka berat, dan kedua dengan pasal yang sama ayat (2) dengan ancaman 1 tahun penjara karena telah menyebabkan kerusakan kendaraan dan atau barang. Sementara tabrakan ini tidak hanya menyebabkan kerusakan kendaraan dan luka berat saja, namun telah menewaskan dua korban jiwa sekaligus. Bagaimana tuntutan berat berubah menjadi sangat ringan?

            Di Medan, pada bulan Juli 2012, setelah diberlakukannya ketetapan MA mengenai perubahan pasal Tipiring, saya juga menyaksikan sendiri jalannya persidangan seorang buruh yang dituduh mencuri kabel baja sepanjang kurang dari satu meter. Kebetulan saya dekat dengan buruh ini, dan saya mengikuti kasusnya. 

            Sepulangnya dari pabrik (masih dilokasi pabrik) dia mendapati kabel bekas ditengah jalan pabrik, dan dia mengutipnya. Dia menyangka kabel itu tak dipakai lagi. Dalam pemeriksaan rutin di pos satpam sebelum pulang, satpam menemukan kabel bekas tersebut didalam tas nya. Kemudian buruh yang bekerja di Pabrik Keramik (PT. Jui Shin Indonesia) ini langsung dibawa ke kantor polisi Medan Labuhan dan diproses. 

            Dalam pembelaannya, dia mengaku keberatan dengan tuduhan pelapor bahwa kabel itu dicuri dan hendak dijual kembali. Dia mengatakan bahwa kabel bekas itu akan dipergunakan untuk menambah panjang tali jemuran dirumahnya. 

            Buruh tersebut mendapat hukuman 7 bulan kurungan. Hukuman ini bertentangan dengan amandemen soal Tipiring yang telah ditetapkan MA (Februari 20120) bahwa tindak pidana ringan alias Tipiring (dibawah 2,5 juta) tidak perlu dilakukan penahanan. Namun para priyayi dilingkungan kepolisian dan pengadilan ini tak pernah peduli ketetapan itu meskipun sudah pasti menerima sosialisasinya. 

            Sebelumnya, ancaman hukuman 5 tahun juga dialami seorang siswa SMK yang mencuri sendal seorang polisi. Juga seorang nenek yang bernama Minah, yang dilaporkan Perusahaan Perkebunan dengan tuduhan mencuri buah Kakao (Cokelat). Nenek ini kemudian menjalani hukuman tahanan rumah selama 1 bulan 15 hari. Motif Minah sebenarnya sederhana saja, mengambil buah kakao untuk dijadikan bibit tanaman, dan setelah dipergoki oleh petugas Perusahaan, nek Minah kemudian meminta maaf dan mengembalikannya. Namun tindakan ini menjadi tidak termaafkan oleh Perusahaan.
           
Mengapa Hukum Pidana dapat diperjual-belikan?

            Setelah Belanda merdeka dari penjajahan Prancis, Pemerintah Belanda pada tahun 1881 membuat kitab hukum pidana, yang secara otomatis juga berlaku bagi orang-orang Belanda di Hindia Belanda (Indonesia). Dan setelah Indonesia merdeka (1945) kitab ini (KUHP) juga-lah yang dipakai dalam mengadili kasus pidana di Indonesia hingga hari ini. Padahal, Belanda sendiri sudah lama meninggalkan kitab tersebut dan merevisinya berkali-kali.

            Menurut saya, tindakan copy paste tersebut membuat penerimaan masyarakat akan hukum menjadi kabur (karena tidak lahir dari ide kolektif masyarakat), bahkan hampir tidak dimengerti secara detail. Kurangnya pendidikan hukum kepada masyarakat menambah semakin kaburnya persoalan ini. Apalagi para Sarjana Hukum  yang berprofesi sebagai Pengacara tidak menempatkan hukum pada fitrahnya, melainkan menjadikannya sebagai pekerjaan (mata pencaharian) baru yang membuat persoalan hukum menjadi persoalan yang banyak memakan biaya.      Bagi rakyat kecil yang tidak mampu membayar pengacara, dia tidak akan mendapat pembelaan, bahkan tidak mendapat penjelasan hukum mengenai kasus yang menimpnya.

            Hal ini kemudian memudahkan para petugas hukum untuk bertindak sesukanya dengan menukar, menghilangkan bahkan menambahkan pasal-pasal didalam mengadili terdakwa.

            Bagi orang-orang ber-uang, seperti Perusahaan Perkebunan yang menuntut Nek Minah atau Perusahaan Bakri Group yang menuntut seorang nenek lainnya yang mencuri ubi untuk makan karena kehidupannya yang miskin, patut dicurigai bahwa hukum dibeli untuk menghukum siapa saja yang diduga sebagai ancaman terhadap Perusahaan, terutama ancaman terhadap akumulasi modalnya. Tak peduli seberapa kecil barang curian dan alasan apa yang mengiringi tindakannya

            Bagi rakyat kecil, pada umumnya mereka baru mengerti hukum setelah tersangkut persoalan hukum, dan menjadi korban penegakkan hukum. Mereka kemudian mengenal hukum sebagai permainan kotor orang yang ber-uang dengan petugas penegak keadilan.


Randy Syahrizal (randy.syahrizal@yahoo.com)
 

Surat untuk Surat untuk Idaman

Ceritaku ini kumulai sejak tahun 1952, sejak aku sekolah di Sekolah Rakyat, Kabanjahe.
Mungkin inilah tulisan pertamaku. Yang sengaja aku buat untuk kenang-kenangan kepada keluargaku kelak. Siapa tahu, ya siapa yang bisa tahu persis jumlah umurku ini? Aku bisa baca tulis, dan tentu harus kupergunakan sebaik-baiknya. Saat mulutku tak mampu lagi meneruskan cerita turun temurun ini, aku harap tulisan sederhana ini bisa menggantikan tugas mulutku, dan cerita ini harus pula sampai kepada generasi yang aku lahirkan.
Namaku Tjuram. Lahir disebuah desa kecil bernama Kandibata, sekarang menjadi daerah ibukota Tanah Karo, Kabanjahe. Aku lahir bulan september tahun 1945, tanggal berapa aku kurang tahu persis. Orang tuaku tak pernah mengingatnya. Demi kepentingan admisnitratif sekolah, orangtuaku menuliskan tanggal 1 September 1945. Bapaku waktu itu baru saja bisa membaca. Dan ditahun 1947, beliau meninggal dunia. Aku lahir beberapa hari sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Dan kabar proklamasi itu belum sampai ke Tanah Karo.
Keluargaku adalah keluarga pergerakkan. Tak ada satu orangpun diantara kami yang tidak berorganisasi. Bapaku sudah mengenal organisasi ditahun 1920-an, dan ikut memikul senjata melawan Belanda, saat partainya mengambil tindakan perlawanan bersenjata ditahun 1926. Pemberontakan itu dapat ditumpas, dan Bapaku dibuang ke Binjai untuk menjadi pekerja perkebunan Belanda. Dia mengalami masa hukuman tiga tahun, dan setelah masa hukumannya habis, beliau kembali ke Kandibata bersama kami. Saat dia kembali, aku masih belum lahir.
            Banyak cerita kepahlawanan yang kudengar sejak kecil. Cerita itu secara turun-temurun dikisahkan kepada kami, dan generasiku juga mengenalnya secara baik. Pa Garamata adalah yang paling kukenal. Matanya selalu merah menyala, penuh amarah, dan selalu kurang tidur karena terlibat pertempuran demi pertempuran melawan Belanda. Begitulah cerita yang kudengar.
            Di Kandibata ini adalah benteng pertahanan pasukannya yang paling depan, dari lintasan Kandibata – Kacaribu. Ditanah kelahiran dan ditempat aku dibesarkan ini, banyak darah pejuang Karo yang tertumpah demi melawan niat Belanda, niat keserakahannya yang ingin memperluas perkebunan kolonial.
            Sunggal, Binjai dan Langkat telah jatuh ketangan Belanda, setelah Perang Sunggal dimenangkan oleh Kolonial. Ya, perang ini memang dimenangkan oleh Belanda, tapi perang ini juga yang membawa nilai-nilai solidaritas, persaudaraan antara kami, rakyat Karo dengan rakyat Aceh, dan rakyat Melayu.
            Aku hafal betul cerita kepahlawanan Pasukan Simbisa, pasukan yang dipimpin Pa Garamata. Pasukan berpedang, tombak, parang, dan piso kecil ini dikenal sadis terhadap musuh, pantang mundur, dan tak henti-henti mengorganisir rakyat Karo, lelaki maupun wanita, untuk mengangkat Sumpah setia melawan Belanda. Karena sumpah setia itu, pasukan Simbisa bertambah banyak. Namun sangat sulit bagi mereka menang melawan serdadu Marsose Belanda yang berjumlah ratusan ribu dengan persenjataan lengkap. Pasukan Simbisa di Kandibata akhirnya mampu bertahan setelah mendapat bantuan dari Pasukan Gayo dari Kesultanan Aceh. Dan siapa pun bisa meramalkan, bahwa senjata mesin pastilah bisa mengalahkan senjata tradisionil.
            Cerita turun temurun ini juga yang kusadari membentuk kepribadianku. Abangku telah lebih dahulu berorganisasi. Dia lima tahun diatasku. Sejak berusia 15 tahun, dia telah bergabung dengan Pemuda Rakyat (PR). Dan aku tentu saja masih pelajar tingkat akhir di Sekolah Rakyat Kabanjahe. Aku sering melihat baris-berbaris, dan diantara barisan tersebut terdapat abangku. Mereka berseragam, mungkin seragam organisasinya. Mereka membawa panji-panji organisasi, berjalan tegap menuju Jambur (seperti Pendopo dalam Jawa). Dan banyak sekali orang-orang yang aku lihat, mereka meneriakkan kata-kata yang belum aku ketahui artinya. Saat itu aku berumur 10 tahun, dan disini aku menemani Bi Malem berjualan jagung bakar, dan baru aku tahu sekarang, acara itu adalah acara konferensi Partai, dan abangku mungkin telah menjadi anggota Partai seperti Bapaku. Lalu acara-acara serupa juga aku lihat dua tahun kemudian, dan itu adalah acara kampanye partai untuk pemilihan umum.
            Pemandangan itu aku jadikan kenang-kenangan yang luar biasa, dan kebanggaanku menjadi-jadi saat kuketahui diri ini berasal dari keluarga pejuang. Dan aku adalah generasi baru, generasi yang bisa baca tulis, generasi yang diharapkan Paduka Yang Mulia Presiden Soekarno sebagai generasi pengisi kemerdekaan.
            Aku mengenal nama Bung Karno saat melewati rumah pembuangannya di Berastagi, saat aku bersama kawan-kawan Sekolah Rakyat sedang berjalan-jalan di Berastagi, rencana hendak menuju kampung Cingkes, lalu berputar arah menuju bukit Gundaling, ingin menghabiskan sore melihat perkampungan dari atas. Waktu itu umurku sudah 11 tahun, dan dari keterangan abangku, Bung Karno hanya sebentar saja di Berastagi, lalu pindah ke Parapat, sebuah kota kecil dipinggiran Danau Toba yang menjadi bagian Keresidenan Tapanuli.
            Sekarang usiaku 13 tahun. Saat ini aku juga aktif berorganisasi. Aku adalah pelajar, aktif di Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) cabang Tanah Karo. Diusia lima belas tahun, posisiku menjadi penting di IPPI. Aku menjabat sebagai wakil ketua cabang. Dua tahun kemudian, aku diutus menjadi peserta Kongres ke VII yang dibuka oleh Presiden Soekarno di Jakarta. Aku mendapat beasiswa melanjut ke perguruan tinggi di Uni Sovyet, dan tentunya aku senang sekali.
            Saat itu aku sudah menaruh hati pada seorang penari, Bru Sembiring, yang juga anggota Lekra. Aku memang berniat melamarnya, dan sudah pernah ku utarakan niat itu kepadanya. Kami memang menaruh perasaan yang sama. Dia sangat cantik, dan bagiku tidak ada alasan untuk tidak menyukainya.
            Sepulangnya aku dari ibukota, dan sepulang sekolah, aku jumpai dia dirumahnya, tak jauh dari rumahku. Beginilah ceritanya. Aku katakan kepadanya :
            “Masihkah kam[1] menungguku, jika aku merantau kenegeri orang barang lima tahun?”
            “Aku sudah mendengar ceritanya dari teman ndu.[2] Kapan kam berangkat?”
            “Tahun depan, setelah kelulusan. Mengapa belum kam jawab pertanyaanku?”
            “Kalau memang kam jodohku, pasti ada jalan dan kesabaran buat menunggu kam kembali.” Jawabnya.
            “Terimakasih. Aku akan jaga kepercayaan ndu ini.”

Kabanjahe 1965

            Aku lulus. Dan saatnya tinggal menunggu undangan beasiswa dan tiket keberangkatan ke Jakarta. Rasa takut menghampiriku. Akan bagaimana nantinya Bru Sembiring saat aku tinggalkan? Apakah dia tidak terlalu tua untuk menungguku? Apa kata orang jika dia belum juga menikah? Aku tak yakin dia sanggup melewatinya. Sementara abangku sudah lima tahun menikah, dan sudah dua orang anak ada padanya.
            Dan hanya tinggal abangku, hanya dia waliku nanti diperkawinan. Masyarakat kampung ini tahu kalau aku menjalin perasaan dengan Bru Sembiring. Abangku pasti juga mengetahuinya. Aku berniat hendak membicarakannya hari ini kepada abang, dan hendak bertukar pikiran.
            “Lebih baik nikahi dia sekarang, itu akan membuatnya tenang dan menghindari prasangka buruk orang-orang.” Saran abang.
            Selama dua hari aku pertimbangkan, baik buruknya, dan aku putuskan juga, aku akan menikahinya jika dia setuju menikah dalam waktu dekat ini. Jika dia tidak bersedia, maka akan aku jauhi dia, dan memutuskan hubungan ini, dan aku akan fokus pada studiku diluar negeri.
            “Ya, aku setuju. Betapa senang hati ini mendapat lamaran dari kam. Bicaralah kepada Bapa ras [3]Nande, aku tunggu dirumah nanti malam.” Kata Bru Sembiring.
            Begitulah ceritanya, sampai aku lamar dia dihadapan orang tuanya, dan abangku turut juga hadir sebagai wali, dan kami membicarakan acara peradatannya. Dan menikahlah kami secara Islam dan juga upacara adat, di Jambur Kandibata.
            Kini aku dan Bru Sembiring tidak lagi sepasang kekasih, tapi juga suami istri, dan juga teman seperjuangan. Bru sembiring semakin meninggi aktifitasnya di Lekra, di bagian seni tari. Bersama teman-teman Lekra-nya, dia sering menampilkan pertunjukan-pertunjukan tarian daerah di Jambur-jambur, maupun diacara-acara pemerintahan.
            Kami berdua juga bersama-sama ke Juma (ladang), untuk mengurusi tanaman jeruk, ladang yang secara turun temurun berpindah kepada kami, mungkin juga akan berpindah ke anak cucu kami kelak.
            Empat bulan kemudian, istriku sudah mengandung. Saat itu alamat pos untuk surat menyurat masih ku alamatkan dirumah abangku. Pagi itu juga abangku memberikan surat kepadaku, dia menemuiku diwarung kopi tempat biasa aku membaca koran, di Kabanjahe. Surat dari seorang sahabat di Jawa. Aku buka, dan aku baca isinya.

            “Kepada kawanku tercinta, Tjuram. Hari ini, saat aku menulis surat ini kepadamu, adalah hari terkutuk buatku. Aku dikeluarkan dari sekolah secara tidak hormat melalui sebuah surat, bahwa aku turut terlibat dalam Gerakan 30 September. Aku tak tahu harus kepada siapa membela diri. Penyangkalan atas tuduhan itu sudah aku berikan kepada pimpinan sekolah, tapi tidak mendapat balasan. Aku berniat pergi ke Jakarta untuk menemui kawan ketua umum, untuk mendapat keterangan darinya. Tapi niat itu sia-sia. Segera aku mendapat larangan untuk bepergian meninggalkan kota Semarang. Aku ditahan, dan sudah sampai pula surat penahanan ini dirumahku. Sementara ini aku berstatus wajib lapor. Aku kirimkan surat ini kepadamu dan kepada kawan-kawan lainnya yang aku tahu persis alamatnya dengan tujuan agar kalian bisa bersikap. Dan sejujurnya aku membutuhkan solidaritas kalian atas kondisi yang menimpaku saat ini. Ketidakadilan harus dilawan. Demikian surat singkatku ini, dan semoga kau senantiasa sehat dan bersemangat. Aku harap surat ini bisa sampai ditanganmu. Aku harap, kau cukup kenal dengan tulisan ini, meski aku memakai nama samaran. Ini demi keselamatan kita.”

            “Dua minggu yang lalu, ada kejadian hebat di Jakarta. Pertentangan Dewan Jendral dan Dewan Revolusi yang dikomandoi Letkol Untung telah mencapai puncaknya, dan klimaksnya adalah terbunuhnya 6 Jendral dan 1 orang perwira menengah, di malam 1 Oktober. Pihak militer menuduh partai kita sebagai otak dari tindakan Letkol Untung. Lupakan beasiswamu, dan segera pergi dari sini. Dimana-mana, kita sudah diserang dan dipukul. Kita kehilangan arahan. Dan belum ada perintah untuk merespon keadaan ini.” Kata Abangku.
            “Lalu istriku?” tanyaku.
            “Istrimu masih beruntung. Dia lahir dari seorang Ayah yang Masyumi. Suruh dia bersembunyi dirumah mertuamu, dan dia akan aman. Militer mungkin hanya akan menghabisi Partai dan pengikut-pengikutnya. Dan kau, kau adalah kader partai, tingkatkan kewaspadaanmu, dan bersembunyilah. Bicaralah kepada istrimu dengan sangat sederhana, agar ia mengerti dan memakluminya.”
            “Baiklah. Jaga juga keselamatan kam, abangku.”
            Buru-buru aku pulang ke Kandibata. Kudapati istriku sedang membaca surat.
            “Apa yang sedang kam baca?”
            “Surat dari Kodim, tak jelas siapa yang mengantarnya, aku temui surat ini dibawah pintu, saat aku baru pulang dari ladang. Kam dipanggil Kodim untuk diperiksa.”
            “Sialan, secepat itu?”
            “Apa yang terjadi?” tanya istriku.
            “Sekarang kam pergi kerumah Bapa ndu, dan jangan pernah keluar dari rumah itu. Ambil barang-barang berharga dari rumah ini, dan sekarang juga kita tinggalkan rumah ini.” Kataku.
            “Kam mau kemana?” tanya istriku.
            “Aku janji, akan kembali lagi bersama kam setelah situasi ini aman.”
            Istriku menurutinya. Dia pergi setelah memelukku dan menangis. Tapi tak lama tangisan ini berlangsung. Aku segera menyuruhnya cepat pergi. Aku amati dia dari jauh untuk memastikan keselamatannya. Dia menaiki bendi, dan pergi menuju Kabanjahe.
            Aku sendiri masih bingung hendak pergi kemana. Aku keluar dari pintu belakang rumah, dan aku dapati pemandangan gunung Sinabung yang tinggi berselimut kabut. Tidak mungkin aku kesana. Apa yang hendak aku makan disitu?
            Aku kembali kedapur, dan duduk sambil memanaskan air ditungku. Pintu rumah digedor, dan aku hampiri perlahan sambil mengintip. Aku akan ingat pesan abang agar mempertinggi kewaspadaan. Yang aku lihat adalah Pa Tengah, saudara kandung Bapa ku. Aku buka pintu.
            “Abang ndu ditangkap tentara saat hendak pulang kerumah. Pergilah kau sekarang. Cari tempat yang paling aman. Aku tak bisa lama-lama. Jaga dirimu nak.”
            Aku menangis. Abangku telah tertangkap. Dia tidak hanya abangku, tapi juga pimpinanku. Saran dan nasehatnya juga harus berarti instruksi buatku sebagai bawahannya dipartai. Aku kembali menatap pemandangan pintu belakang rumah. Gunung Sinabung lagi yang kulihat. Baiklah, hanya tempat itu yang paling aman,
            Aku menunggu hari gelap. Tidak ada yang boleh tahu kepergianku. Tetanggapun tak seorang pun boleh tahu. Kandibata belum lagi mengenal listrik sebagai penerangan. Lampu-lampu hanya aku lihat di Kabanjahe, tapi tidak disini. Aku tak tahu persisnya sekarang pukul berapa. Tapi hari sudah sangat gelap, dan dingin sudah terasa menusuk tulang. Aku ambil jaket hitam tebal, dan aku bawa bekal secukupnya, beras dan kentang, juga korek api sebanyak mungkin.
            Ditanganku hanya ada senter kecil, kudapat dari pedagang alat elektrik di pasar Berastagi. Aku pakai sepatu boot, sepatu yang biasa aku pakai ke ladang. Sepatu ini akan melindungiku dari gigitan ular berbisa. Aku berjalan menyisiri hutan yang lebat, hutan yang lembab. Ketakutan pada hewan berbisa sudah terkalahkan, dan aku sudah berjanji pada istriku, untuk kembali dalam keadaan sehat tanpa kurang sedikitpun.
            Sudah enam jam aku berjalan. Kabut semakin tebal, dan jarak pandangku hanya tinggal setengah meter saja. Rasa haus dan lapar menyerangku. Tapi aku tak tahu hendak dimana aku meletakkan tubuh yang telah lelah ini. Aku duduk dibawah pohon besar, dan bersandar pada batangnya. Baru kusadari aku sudah berjalan mendaki keatas gunung. Baru ini aku tempuh perjalanan kesini. Astaga, mengapa jalan ini begitu mudah? Apakah sudah ada yang membuat jalan menuju puncak gunung?
            Aku melihat kebawah ada beberapa cahaya penerang disana, mungkin saja berasal dari perkampunganku, mungkin dari Kandibata atau Kacaribu. Akhirnya aku baringkan tubuh, dan sekarang mataku menatap keatas. Astaga, aku melihat cahaya, seperti obor, dan cahaya itu bergerak keatas. Aku harus waspada, tentu ada orang disana. Mungkin saja mereka tak melihatku. Aku tertidur.
            Dinginnya pagi membangunkanku. Dingin sekali, dan jaket tebal ini juga mampu ditembus dingin. Aku lihat kembali, tempat ini terlalu terbuka. Aku harus naik lagi, mencari tempat tertutup dan akan kuperiksa keamanannya, aman dari manusia dan juga aman dari binatang buas.
            Aku bertemu sebuah tenda, tapi tak menemukan orang-orang disekelilingnya. Tenda siapakah ini? Aku memperhatikannya dari jarak yang lumayan jauh. Aku dekati, dan telah aku timbang masak-masak, tidak mungkin tentara berada disini. Apalagi, tenda itu bukan tenda tentara. Aku semakin mendekati lagi, dan aku lihat ada seorang pria, mungkin lebih tua dariku 10 tahun, sedang tertidur. Aku perhatikan lagi dari dekat. Ya, kau Bapa Ginting.
            Aku beranikan untuk duduk disampingnya, dan kini aku berada didalam tendanya. Dia terbangun, dan terkejut melihat kehadiranku.
            “Kam itu Tjuram?”
            “Ya, Pa.” jawabku.
            Bapa Ginting langsung mengintip keluar melalui lubang-lubang kecil yang terdapat pada kain tenda.
            “Tidak ada siapa-siapa Pa, hanya aku seorang.”        
            Kami berdua terlibat percakapan, dan saling bertanya alasan masing-masing hingga sampai disini. Rupanya kami sama-sama mendapat pesan untuk menyelamatkan diri. Darinya aku ketahui banyak juga yang lari hingga ke Gayo (Aceh), ke Dairi, ke Tanah Pakpak, dan ada juga yang menyusuri hutan belantara untuk tiba di Pancur Batu dan Medan. Dan mungkin saat ini masih hanya kami berdua yang memilih tempat yang paling dekat, namun paling aman.
            “Kita bisa bergantian kembali kerumah masing-masing untuk melihat istri dan jika mungkin, untuk membawa kawan-kawan yang bisa kita selamatkan disini.”
            “Baik Pa.” jawabku menyepakatinya.
            Begitulah akhirnya, selama beberapa bulan kami disini, memakan apa saja yang bisa kami makan, dari buah-buahan hingga berburu Monyet dan Ayam hutan, dan juga burung-burung. Pendeknya apa saja yang terlihat akan kami makan.
            Hingga genaplah 4 bulan aku dan Bapa Ginting berada ditengah hutan, Gunung Sinabung. Sekarang aku mengutarakan niatku untuk turun gunung, dan dia menyetujuinya. “Ingat pesanku, bawalah kawan-kawan yang bisa kau selamatkan.” Katanya.
            Aku berjalan menuruni badan gunung ini. Perjalanan menurun ini memakan waktu kurang lebih 4 jam. Dan sudah terlihat dari kejauhan pintu belakang rumahku. Pelan-pelan aku masuk, dan belum ada yang berubah didalamnya. Tidak ada yang berserakan. Aku mengambil baju putih dan kopiah haji didalam lemari pakaian. Aku pakai semuanya demi penyamaran. Kumis dan janggut sudah tak terawat dan tumbuh sesukanya. Sebelumnya, setiap tiga hari sekali pasti aku cukur. Sekarang jika aku berjalan dimalam hari, orang-orang akan mengiraku sebagai Masyumi, apalagi aku hendak pergi menuju rumah seorang Masyumi, mertuaku sendiri.
            Aku masuk kedalam rumah mertuaku yang tak terkunci, dan aku disambut oleh istriku yang sedang duduk diruang tamu. Lalu Bapa mertua keluar kamar.
            “Kau kah itu Tjuram?”
            “Ya Pa.” jawabku.
            Lalu dengan pelan dia berbicara dihadapanku, juga istriku.
            “Sudah pernah aku minta kau untuk meninggalkan aktifitasmu di partai itu. Beginilah jadinya kalau tidak menurut pada nasehat orang tua. Kau juga anakku, menari bisa dimana saja, asal jangan di Lekra. Berapa kali sudah aku katakan kepadamu. Untung saja kau anak kandungku.”
            Aku diam saja, tak berani berdebat dengannya. Sudah kupikir-pikir dalam hati, memang tak penting berdebat dengannya. Aku hanya butuh perlindungannya dalam beberapa hari ini. Biarlah aku dengarkan saja petuah-petuahnya. Besok pagi aku akan jumpai beberapa kawan. Dan aku banyak mendapat informasi dari istriku, ternyata kawan-kawanku banyak bersembunyi di desa Guru Kinayan, sebuah desa yang sangat tertutup. Baguslah, mereka mungkin aman.
            Aku berencana pergi ke Kabanjahe pagi ini, tetap dalam pakaian penyamaran. Aku hendak mencari tahu keberadaan abangku. Aku tiba di dekat warung kopi biasa tempat aku membaca koran. Keadaannya sepi. Tapi warung tetap buka seperti biasa. Aku beranikan masuk. Aku jumpai pemilik kopi dan bertanya perihal abangku kepadanya.
            Menurut keterangan darinya, dan menurut informasi yang beredar, dan juga dari berita-berita koran, beberapa pimpinan partai yang ditangkap akan segera dieksekusi di Lau Gerbong. Dan tentu termasuk abangku didalam daftar eksekusi. Aku tak tahu pasti apa dia sudah meninggal atau belum. Tapi aku sudah merasa berpisah dengannya, untuk selamanya.
            Aku segera keluar dari warung, dan dua orang berpakaian militer menangkapku. Rupanya, namaku sudah beredar dimasing-masing papan pengumuman dikantor-kantor kelurahan, dan kantor-kantor kepala desa. Dan seorang dari tentara itu adalah teman sekolahku di SR. dan seorang lagi, mungkin tentara dari Jawa. Dari nama yang tertera diseragamnya bisa kutebak dia bukan orang Karo. Lalu aku berkata dengan bahasa Karo kepada tentara yang juga kawanku di SR. aku gunakan bahasa Karo agar seorang lagi tidak mengetahui percakapan kami. Beginilah percakapanku dengannya:
            “Mengapa aku harus kau tangkap? Tak pandaikah kau bersetia kawan?” tanyaku.
            “Tidak hanya aku yang tahu kau sedang berada disini, jadi lebih baik aku yang menangkap kam dari pada tentara lain. Inilah caraku bersetia kawan. Harap kam juga bisa bersetia kawan kepadaku.” Jawabnya.
            Tentu aku tak punya pilihan selain percaya pada kesetiakawanannya. Memang dari keterangannya, dia hanya menyatakan bahwa aku adalah pengurus di IPPI Tanah Karo, tapi aku tak mempunyai persinggungan langsung dengan PKI. Dan aku hanya diam saja saat diperiksa dikantor militer. Setelah pemeriksaan, aku ditahan tanpa sidang, dan tanpa putusan pengadilan, dan entah berapa lama. Dan mungkin kisah hidupku akan berakhir disini. Untuk melanjutkan cerita ini, aku tak tahu lagi harus bicara tentang apa. Dan aku sudahi cerita ini.

            Didalam penjara ini aku bertemu dengan beberapa kawan. Dipenjara ketidakadilan ini, aku masih harus bersyukur masih diberikan pena dan kertas. Dan istriku juga diperbolehkan mengantarkan makanan. Dan perut istriku sudah terlihat membesar.
            Dari kertas dan pena itu aku menulis. Dan tulisan itu sudah aku rampungkan. Sudah beberapa kali aku baca, dan sudah aku tuliskan secara jujur. Aku berikan beberapa lembar tulisan ini kepada istriku.
            “Jika aku mati sebelum bisa kusaksikan kau melahirkan anak kita, aku harap tulisan ini bisa kau bacakan kepada anak kita agar dia mengenal siapa Ayahnya. Dan sudah beberapa hari ini aku pikirkan, jika dia lahir, berikanlah nama “Idaman” kepadanya. Karena dia sangat aku idam-idamkan.
            Istriku menangis.
            “Apa kau akan dibunuh?” tanyanya dengan suara tertahan, dan terisak tangis.
            “Siapa yang akan tahu. Nyawaku tergantung maunya mereka. Baru aku rasakan kekalahan itu tiada indahnya. Berdoalah kau agar aku masih bisa berkumpul lagi dengan kam dan anak kita. Kelak akan aku jadikan kekalahan ini sebagai pelajaran berharga.”
            “Dan kam, istriku, teruslah belajar, jangan berhenti. Kehidupan ini lahir dari golonganmu, juga peradaban ini. Ibu yang baik dan bijak, akan melahirkan peradaban yang baik pula.” Mataku basah, dan meneteslah air mata.
            Jam besuk sudah habis. Istriku diminta pulang, dan aku masih tertunduk sedih.



Randy Syahrizal (randy.syahrizal@yahoo.com)

Juga dimuat di Berdikari Online http://www.berdikarionline.com/suluh/20130324/cerpen-surat-untuk-idaman.html

           
           
           



[1] Kam dalam bahasa Karo berarti Kamu
[2] Teman ndu berarti teman mu (kamu)
[3] Ras dalam bahasa Karo berarti Bersama, bisa juga berarti Dan atau Ikut.
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. RANDY SYAHRIZAL - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger