Latest Post

ATJEH - H.C. Zentgraaff

Buku ATJEH - H.C. Zentgraaff, Koninklijke Drukkerij De Unie- Batavia, 303 halaman, 23,5 X 31,5 cm. Diterbitkan tahun 1930-an. Atjeh karya H.C. Zentgraaff, mantan tentara Belanda yang pernah bertugas di Aceh dan beralih profesi menjadi wartawan dengan jabatan terakhir sebagai Redaktur di Harian Java Bode. 

Buku ini dilengkapi foto-foto menarik tentang kehidupan di Aceh kala itu.

Buku  “ATJEH” - H.C Zentgraaff -


 Password : www.atjehcyber.net - Size : 75 MB


Read more: http://www.atjehcyber.net/2011/12/download-buku-atjeh-karangan-hc.html#ixzz2LMX8czXK
 

Download Buku “ACEH SEPANJANG ABAD”

Dalam hubungan ini seyogianya para pembaca perlu memahami terlebih dahulu bahwa si pengarang tiada lain adalah seorang abdi tetapi 'juga "otak" dari kaum kolonialis yang dengan sendirinya' serta untuk kepuasan dirinya sendiri. Oleh karena itu baik uraian maupun tafsiran serta ungkapan-ungkapan si pengarang yang dianggap menyesatkan adalah semata-mata menurut alam pikiran dan pandangan pihaknya sendiri.

Buku ini adalah karya terjemahan THE ACHEHNESE edisi bahasa Inggris dari buku DE ATJEHERS karangan Dr. C. Snocuck Hurgronje (1857 - 1936) yang ditulis dalam bahasa Belanda. Edisi bahasa Belanda sebagai karangan asli, jilid I terbit tahun 1893 dan jilid II tahun 1894; edisi terjemahan dalam bahasa Inggris—jilid I dan II terbit enam belas tahun kemudian (1906) dengan kata Pengantar yang khusus ditulis oleh pengarangnya. Dengan demikian buku Snouck Hurgronje ini sudah lebih kurang sembilan puluh dua tahun menjadi bahan bacaan masyarakat berbahasa Belanda dan Inggris.

Maksud menerbitkan karya terjemahan ini adalah sekedar untuk memungkinkan para peminat berbahasa Indonesia yang berkeinginan untuk mengetahui lebih banyak mengenai peranan dan hubungan buku ini dengan kaum kolonialis Belanda (juga Inggris) dalam melihat Aceh dengan penuh gelegak nafsu angkara murka serta selanjutnya dengan segala cara dan daya upaya berusaha menaklukkannya. Oleh karena itu judul karya terjemahan ini : Aceh di mata kolonialis diangkat dari ungkapan bahasa Aceh: "Geutanyoe bak mata kaphe" (kita dimatanya, menurut pandangannya si kafir).

Disadari sepenuhnya bahwa tentu ada pihak-pihak yang kurang berkenan dengan isi buku snouck Hurgronje ini khususnya mengenai beberapa uraian serta tafsiran si pengarang yang cukup menyesatkan ditambah lagi dengan sejumlah ungkapan si pengarang yang sedemikiah lucahnya.

Terlepas dari ikhwal di atas yang menjadi kadar ukuran tersendiri atas martabat si pengarang sebagai seorang terpelajar (scholar) namun harus diakui pula bahwa buku ini menyimpan sejumlah besar rekaman dan catatan-catatan berharga mengenai kehidupan budaya Nusantara khususnya Aceh yang mungkin sudah tidak difahami atau pun tidak ditemui lagi dimasa kini bahkan sudah sulit pula memperoleh bahan rujukan dalam khazanah kepustakaan yang ada.

Tulisan Snouck Hurgronje ini tentu saja tidak terpisah dari keseluruhan pribadi Snouck Hurgronje dan kedudukannya selaku Penasehat terhormat kaum kolonialis Belanda. Ia telah memainkan peranan yang sedemikian majemuknya — ia seorang ilmuwan dan dengan kecerdasan yang dimilikinya ia mengabdi kepada kepentingan kaum kolonialis dengan cara-cara yang tercela. Oleh karena itu ia menjadi tokoh yang diperdebatkan (kontroversial).

Bahwa Snouck Hurgronje adalah musuh nomor wahid rakyat di Nusantara dan umat Islam (Indonesia) bahkan masyarakat Aceh melafazkan namanya dengan perasaan permusuhan yang mendalam : Tuan SEUNUET — penyebat dengan cambuk ataupun algojo yang menyiksa dengan cemeti, pecut (Seunuët - bahasa Aceh; menghajar/menyebat dengan cambuk).

Dalam hubungan tulisan Snouck Hurgronje ini yang menjadi landasan politik kaum kolonialis Belanda untukmenghancurkan tanpa mengenai ampun kerajaan dan suku bangsa Aceh, ternyata sejarah Nusantara mencatat bukti lain karena perang kolonial yang berlangsung cukup lama lebih kurang tujuh puluh tahun (Maret 1873 sampai dengan Maret 1942) hampir tidak pernah dimenangkan oleh pihak Belanda.

Sebagai akhir dari pengantar ini dapat dijelaskan bahwa dalam penerjemahan ini diusahakan menerapkan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan 1972, kecuali menganai tanda baca dalam bahasa Aceh yang masih mengikuti tanda-tanda yang digunakan Snouck Hurgronje.

Semoga karya terjemahan ini bermanfaat adanya.


***

Bagi para sahabat yang ingin mendownload Buku " ACEH DI MATA KOLONIALIS " bisa di dapatkan via Mediafire yang telah kami upload, Silahkan Klik Link Download di bawah, Jangan Lupa isi PASSWORD terlebih dahulu. Selamat membaca, dan mudah-mudahan bermanfaat bagi Sobat Aceh.

Buku Aceh Di Mata Kolonialis oleh Snouck .H

Download Buku "Aceh Di Mata Kolonialis" Jilid I
Password : www.atjehcyber.net  - Size : 107.49 MB

***

Download Buku "Aceh Di Mata Kolonialis" Jilid II
Password : www.atjehcyber.net  - Size : 52.94 MB


"Note : Jika mengalami kesulitan, tinggalkan komentar sobat..."
 

Buku Aceh Sepanjang Abad Jilid I/II




Jika Anda salah seorang penikmat sejarah Aceh, maka tidaklah asing dengan buku "Aceh Sepanjang Abad". Buku ini merupakan buah karya dari Bapak Mohammad Said, dan merupakan satu-satunya buku sejarah Aceh terlengkap belum ada tandingannya hingga saat ini.

Buku ini dijadikan sebagai buku induk sejarah Aceh, dikarenakan isinya yang sangat lengkap dan menceritakan fakta sejarah Aceh yang pernah terjadi mulai abad ke-16 hingga abad ke-19. yang di terbitkan oleh P.T Percetakan dan penerbita Waspada Medan Tahun 1981 dalam Cetakan yang kedua.
Buku "Aceh Sepanjang Abad", merupakan buku sejarah terlengkap yang mengungkapkan peristiwa demi peristiwa sejarah Aceh dalam periode klasik hingga peristiwa-peristiwa sejarah Aceh kontemporer, Dengan perjalanan Aceh yang memiliki lika-liku sejarah yang sangat panjang dan unik. Penulis buku ini sendiri merupakan wartawan legendaris yang memadukan sumber-sumber dari dalam dan bahkan dari luar negeri.
Aceh yang dalam perjalanannya yang memiliki lika-liku sejarah yang sangat panjang dan unik dalam perlawanan terhadap Belanda seakan-akan tidak pernah habis-habisnya untuk dikupas. Ini dikarenakan sejarah Aceh merupakan sejarah yang berhubungan langsung dengan peristiwa sejarah dunia, baik sebelum Datangnya Islam maupun setelah Aceh dipengaruhi oleh agama Islam.
Hal ini dapat dilihat sejak jilid pertama buku Aceh Sepanjang Abad yang mengungkapkan sejarah Aceh sejak zaman pra-sejarah hingga ke Pemerintahan Aceh masa Sultan Mahmudsyah. Jika dibandingkan dengan apa yang ditulis Danys Lombard dalam buku 'Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda', maka buku "Aceh Sepanjang Abad" ini jauh lebih lengkap. Buku Mr. Lombard hanya mengungkapkan sejarah Aceh dalam periode 1607-1636. Sedangkan buku ini mengulas perjuangan Aceh hingga tahun 1945.
Buku-buku sejarah Aceh ini penting untuk dipelajari kembali oleh generasi sekarang dan yang akan datang dengan lebih memperbanyak kembali literatur-literatur sejarah Aceh termasuk upaya pemerintah mencetak ulang berbagai buku sejarah Aceh yang berkaitan dengan pergolakan bersenjata dengan penjajahan Belanda tempo dulu.
Sebenarnya, Apabila kita bicara lengkap, memang setiap buku yang menulis tentang sejarah tidak pernah ada lengkap. Namun keberadaan buku ‘Aceh Sepanjang Abad’ Jilid I dan II tersebut telah menambah referensi sejarah Aceh yang dinilai cukup lengkap dengan memadukan sumber-sumber dari dalam dan bahkan dari luar negeri.

Sedikit referensi saja yang di paparkan oleh penulis dalam Buku ASA Jilid ke-I dan II. Secara garis besar gerak sejarah Aceh dibagi dalam beberapa periodisasi, dimana setiap periode mengandung peristiwa sejarah tersendiri, yaitu periode sejarah klasik dan periode sejarah kontemporer. Periode klasik, tanah Aceh dimulai sejak zaman pra sejarah, kemudian zaman pengaruh Hindu, dan Budha, terus zaman msuknya agama Islam dengan berdirinya kerajaan Islam Samudra Pasai.
Periode selanjutnya adalah zaman bangkitnya kerajaan Aceh Darussalam yang disebut-sebut sebagai zaman puncaknya kejayaan peradaban Aceh. Di zaman itu, interaksi Aceh terjadi dengan berbagai dunia luar. Dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan agama, Aceh saat itu berinteraksi dengan ulama-ulama Haramain (Timur Tengah) dan Gujarat India, bidang teknologi berhubungan dengan Turki di zaman Daulah Usmaniah.
Setelah itu, Aceh memasuki periode sejarah yang menegangkan, karena dalam periode itu, Aceh mulai berhadapan dengan bangsa-angsa kolonial, Portugis, Inggris, dan Belanda. Periode kontemporer, dapat dibagi dalam beberapa peristiwa sejarah, terutama sejarah zaman Jepang, dan zaman awal kemerdekaan yang di dalam periode itu juga terjadi peristiwa yang sangat pedih, yaitu peristiwa perang Cumbok dan DI/TII.
Dan seperti yang kita ketahui, Setelah peristiwa itu usai, lalu terjadi peristiwa bangkitnya angkatan Darussalam sebagai sejarah bangkitnya kaum intelektual baru. Namun, di tengah-tengah kebangkitan kaum intelektual, Aceh juga membuat suatu periode lain yang dimulai dari tahun 1970-an hingga memasuki tahun 2000-an, yaitu sejarah terjadinya konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah Indonesia.
Di Buku "Aceh Sepanjang Abad" jilid 2 meskipun tergolong awal pengungkapan sejarah kontemporer Aceh yang lebih banyak menceritakan perlawanan rakyat dengan Belanda, namun sangat lengkap menggambarkan setiap peristiwa peperangan Belanda dengan Aceh.
Dalam buku jilid 2 ini terlihat secara sangat detail bagaimana kegigihan rakyat yang begitu heroik melawan serdadu kafe Belanda hingga sampai ke pedalaman-pedalaman Aceh. Jumlah korban, nama dan tempat kejadian setiap perlawanan rakyat Aceh dengan Belanda terurai lengkap di buku ini.
Bagi para sahabat yang ingin mendownload Buku "Aceh Sepanjang Abad" Jilid Pertama bisa di dapatkan via Mediafire yang telah kami upload, Silahkan download di bawah, Jangan lupa isi Password terlebih dahulu. Selamat membaca dan semoga bermanfaat.

***
Buku "ACEH SEPANJANG ABAD"

JILID PERTAMA : DOWNLOAD
Size : 151.62 MB

JILID KE-DUA : DOWNLOAD
Size : 78.69 MB

Password : www.atjehcyber.net

Read more: http://www.atjehcyber.net/2011/04/download-buku-aceh-sepanjang-abad-jilid.html#ixzz2LMUnY4DK
 

Awas Kau PKS..!!! (Kritik Pemakan Bakso)


Oleh: Randy Syahrizal

Salah sendiri jika tulisan ini lebih memilih kritik moral ketimbang politik meskipun yang dikritik adalah seorang petinggi partai politik. Karena dagangan partai ini lebih dominan moral, maka kritiknya akan tertuju pada moralitas pelakunya. Tentunya tulisan ini bukan diperuntukkan bagi mereka yang gemar sekali dengan debat politik, atau orang yang mempunyai (setidaknya merindukan) kritik politik pada partai dakwah seperti PKS. Tentu saja saya akan memulai kritiknya.

Moralnya PKS tentu saja Islam, setidaknya begitulah mereka menyebutnya. Partai ini memang bukanlah partai sekuler seperti partai lainnya, melainkan partai yang menjadikan Islam sebagai landasan moral dan politiknya. Partai yang tidak baru ini memang berhasil membesar, terutama dikota-kota besar.

Dengan sekejap saja kebesaran itu runtuh justru karena moral dan sepak terjang pelaku politiknya. Bukan tanggung-tanggung, pelakunya justru orang nomor satu di PKS, yakni Luthfi Hasan.

Luthfi Hasan adalah tersangka kasus suap impor sapi (politik) dan gratifikasi seks (moral) sebagai pelengkapnya. Soal moral tentu saja bukan yang pertama kalinya, beberapa tahun yang lalu Anggota fraksi PKS juga tertangkap kamera wartawan saat melihat video porno ditabletnya justru saat berlangsungnya rapat diparlemen.

Namun sebagai konsumen Bakso yang baik, saya hanya membatasi kritikan ini hanya pada persoalan suap impor sapi. Saat terkuaknya kasus ini, hati saya panas (moral), betapa Bakso yang saya konsumsi itu, saya ragukan keasliannya. Faktanya beberapa bulan yang lalu, saat daging sapi melambung tinggi dipasaran, media memberitakan kasus daging bakso oplosan yang dicampur dengan daging babi hutan (celeng) membuat saya jijik mengkonsumsi bakso, meskipun saya sangat menggemarinya. Saya seorang Islam (moral), yang tentu saja mengharamkan Babi. Untuk beberapa saat saya sempat menyalahkan pedagang bakso yang mencari untung besar dengan mencampurkan yang halal dan yang haram (moral).

Saat malam hari saya sering melihat tayangan investigasi di Tv yang menceriterakan awal mula pedagang mencampurkan daging celeng kedalam bakso. Alasannya ekonomis. Untuk tetap bertahan berdagang bakso ditengah langkanya dan melambungnya harga daging dipasaran, dan untuk tetap mempertahankan harga (tidak menaikkan harga sepiring bakso) maka cara itupun ditempuh. Saya persis sangat yakin keppolosan pedagang bakso yang berani mengakui kesalahannya itu. Terlebih lagi saya yakin bahwa ilmu agamanya mungkin sangat minim, hingga dia tak merasa begitu bersalah dengan mencampurkan yang haram dan yang halal.

Tibalah saat yang mencengangkan itu, tepat seminggu yang lalu (awal februari 2013), media memberitakan penangkapan Luthfi Hasan sebagai tersangka kasus suap impor sapi, bersamaan dengan itu tertangkap juga tangan kanan sang presiden dengan PSK muda yang juga seorang mahasiswi di Jakarta. Media memberitakannya sebagai gratifikasi seks.

Ingatan saya kembali kepada Bakso oplosan. Indonesia bukanlah negara yang tak memiliki sapi (langka). Sebagai negara pertanian, peternakan adalah salah satu mata pencaharian utama. Tentu saja pilihan mengimpor bukanlah pilihan yang bijak. Impor sapi tentu saja dapat membunuh usaha peternak sapi, sama halnya dengan impor beras yang banyak menyengsarakan petani padi.

Kasus impor beras telah menempatkan harga daging sapi kita menjadi salah satu peringkat termahal didunia, yakni mencapai 9,3 USD, atau kurang lebih Rp100.000/kg, disusul India 7,3USD/kg, sedangkan Jepang, negeri yang tandus itu malah berada diposisi harga daging sapi terendah, yakni hanya 3,2USD/kg. Dengan kenyataan seperti itu tentu saja sebagian pedagang bakso yang tipis imannya (moral) mengambil jalan pintas dengan mengoplos.

Saya kaget bukan kepalang, ternyata pelakunya adalah petinggi nomor satu PKS yang berbasis moralitas Islam itu. Dia bertanggung jawab terhadap membumbung tingginya harga daging sapi dipasaran, dan juga akhirnya sebagai muara, dia juga harus memikul dosa-dosa pedagang bakso yang buta pengetahuan Islami itu. Dosa orang-orang yang mengutuk pedagang bakso curang itupun harus juga ikut dipikul olehnya, karena dirinya adalah otak dari krisis harga daging sapi.(Moral)

Pelakunya tentu sangat tahu dampak impor sapi bagi masyarakat. Tentunya sudah mengukur dampak negatifnya. Tentunya sudah faham betul ayat-ayat yang mengharamkan daging Babi berikut penjelasan rincinya. Pelaku tentunya tahu yang bakal dihina tentu saja bukan hanya dirinya, melainkan partainya juga, dan bisa jadi merembet pada moralitas Islam yang dipersalahkan (meskipun moralitas Islam tak pernah mengajarkan demikian)

Sebagai konsumen setia Bakso, saya sangat mengutuk orang ini, dan berharap sembari berdoa agar dia dan golongan yang membelanya mati-matian dimasukkan kedalam neraka Jahanam (Moral). Sekian.
 

Demokrat Sudah Gagal Sejak Awal Pendiriannya

Demokrat Sudah Gagal Sejak Awal Pendiriannya

Oleh : Randy Syahrizal


Demokrat, Partai Politik pemenang pemilu 2009 ini sangat panik menanggapi hasil survey Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menunjukkan pemerosotan elektabilitas, yakni berada diurutan ke tiga setelah PDI Perjuangan. Kubu Cikeas ramai-ramai angkat bicara dengan suara yang sama, yakni mengaitkan persoalan dugaan korupsi Hambalang yang melibatkan Anas Urbaningrum sebagai problem pokok menurunnya hasil survey tersebut.

Sebaliknya kubu Anas Urbaningrum sangat meragukan validitas hasil survey tersebut. Terlepas dari keraguan itu, hasil survei ini ternyata mampu menyedot perhatian sang ketua dewan pembina, yang notabene adalah Presiden RI. Seperti kebakaran jenggot, SBY pun merespon serius, hingga mengambil langkah-langkah darurat dengan mengeluarkan 5 poin pokok keputusan rapat Majelis Tinggi Partai.

Kepemimpinan harian partai diambil alih langsung oleh ketua Majelis Tinggi Partai, dan memberikan kesempatan bagi Anas untuk menyelesaikan persoalan dugaan korupsi Hambalang. Tidak hanya itu, Majelis Tinggi Partai juga meminta seluruh fungsionaris dan struktur partai untuk menjalankan instruksi partai yang tunduk dibawah kepemimpinannya. Kepanikan yang teramat serius berada di poin 4 dalam keputusan tersebut, yakni akan memecat siapa saja yang tidak patuh pada keputusan MTP. Bagi kubu Anas, tentunya ini sebuah ancaman serius.

Tentu saja dalam tradisi Partai Politik Modern, keputusan MTP adalah keputusan yang inkonstitusional, karena mengambil kewenangan eksekutif DPP dengan sepihak. DPP diangkat dan dipilih langsung didalam kongres, hanya kongres ataupun KLB lah yang dapat menurunkannya. Namun masalah kisruh yang akan saya bahas tentunya tidak hanya persoalan inkonstitusional semata, melainkan problem yang lebih besar tentang ketidakpercaya dirian Partai Politik yang tak membumi, tidak berbasis, dan bergantung pada satu tokoh, membuat Partai ini berada pada posisi ”Galau segalau galaunya”

Mendefinisikan (ulang) Partai Politik

Dalam realitas politik, Partai politik adalah suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai dan cita-cita yang sama dengan tujuan memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik (biasanya), dengan cara konstitusional guna melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka (Miriam Budiarjo).

Berpijak dari definisi diatas, harusnya yang jadi ”dagangan” Partai Politik adalah Idiologi dan Program politiknya, yang menjadi bahan propaganda utama dalam merebut hati dan pikiran rakyat untuk menjadi simpatisan dan pendukung setia, hingga memberikan suara, dan memenangkan pertarungan perebutan kekuasaan (Pemilu).

Bisa jadi Demokrat sebagai Partai Politik memang sudah salah sejak awal pendiriannya. Demokrat nyaris tidak punya pandangan politik sebagai kompas pemandu jalannya Republik ini. Pendirian Partai Demokrat semata-mata hanya untuk mendudukkan SBY sebagai Presiden RI setelah sebelumnya kalah dalam sidang pemilihan Cawapres oleh MPR pada 2001 silam (baca Sejarah Partai Demokrat/ http://www.demokrat.or.id/sejarah/. Sangat disesalkan, saya justru tak menemukan Manifesto Politik dalam website resminya.

Secara kasar, saya berani menyimpulkan bahwa Partai Demokrat adalah suatu kesatuan kelompok elit yang berinvestasi (modal) untuk memajukan dan memenangkan SBY (sebagai figur utama) dalam pertarungan pemilu. Partai Politik hanya kendaraan (pragmatis) untuk mengantarkannya pada pertarungan tersebut.

Dari satu sudut pandang yang utama ini, Demokrat memang sudah gagal sejak awal menjadi Partai Politik yang baik. Partai Demokrat lebih mirip realitas perkoncoan sekelompok elit yang ingin berkuasa dengan membokongi kenyataan politik (programatik) Indonesia dengan segala problematikanya, terlebih paska transisi 1998, dimana masyarakat Indonesia mendambakan kehidupan yang lebih baik setelah kediktatoran Soeharto (Orde baru).

Galau dengan Survei

Pemilu tentunya bukan barang baru dalam realitas politik di Indonesia. Pemilu sudah ada sejak tahun 1955 dengan puluhan Partai Politik. Tentunya partai-partai terdahulu (1955) tidak pernah risau akan hasil survei, karena memang belum ada lembaga survei pada masa itu. Namun, sepertinya Parpol-Parpol terdahulu faham betul bahwa politik adalah satu kesatuan tindakan yang terorganisir dalam memenangkan perebutan kekuasaan (pemilu) dan menggunakan kekuasaan tersebut untuk mewujudkan cita-cita politik partainya. Berangkat dari kesadaran tersebut, Partai Politik menghimpun basis pendukungnya dalam wadah-wadah politik partai, baik di struktur partai maupun organisasi pendukung partai (underbouw).

Kita tahu tahun 1955 adalah masa polarisasi politik dikalangan akar rumpun. Realitas tersebut membuktikan bahwa kesadaran politik masyarakat sangat tinggi meskipun persoalan baca tulis masih menjadi yang utama. Ada pendidikan politik yang kuat tentunya, baik melalui kursus-kursus lisan, ataupun pagelaran budaya yang sarat akan politik partai dan cita-cita partai. Lekra misalnya, lembaga kebudayaan yang berafiliasi dengan PKI ini ambil bagian dalam memperkenalkan politik partainya dalam serangkaian kegiatan seni dan budaya, begitu juga LKN yang berafiliasi dengan PNI.

Dengan pendidikan politik yang baik dan kesadaran politik yang tinggi, basis dukungan partai dapat diukur. Mereka tidak pernah khawatir akan hasil survei manapun karena mesin dan perangkat politik partainya bekerja sehari-hari, ada atau tidak ada pemilu sekalipun. Kesetiaan politik tersebut bisa saja masih melekat sampai hari ini. Kita tahu masih banyak yang mengaku simpatisan Masyumi, PNI bahkan PKI.

Kemenangan Demokrat tentunya bukan berbasis pada kesadaran politik rakyat yang tinggi seperti kemenangan PNI dimasa lalu. Kemenangan Demokrat pada pemilu 2004 adalah buah dari ekspektasi rakyat yang mendambakan perubahan namun buta sejarah dan gelap politik, sehingga emosi lebih dominan memimpin nalar logika mereka. Ini akibat depolitisasi selama 32 tahun kekuasaan Soeharto.

SBY nyaris tidak punya program Ekonomi konsentrasi seperti Repelita di jaman ORBA. Akhirnya perekonomian diserahkan pada pasar bebas dan Indonesia jatuh menjadi sumber pasar, sumber tenaga kerja murah dan sumber bahan baku oleh kekuatan modal asing. SBY tidak mampu membuat bangsa yang besar ini menjadi mandiri dan berdikari seperti yang diamanatkan oleh para pendiri dan pejuang kemerdekaan. SBY tidak punya sikap atas penjajahan modal didalam negeri, tak punya sikap atas penggusuran tanah oleh korporasi modal asing, tak punya sikap dengan politik upah murah, tak punya sikap atas monopoli kekayaan alam oleh asing dll. Namun rakyat yang buta sejarah seperti tak melihat korelasi modal asing dengan kemiskinan yang mereka alami secara berkepanjangan.

Terobosan baru yang dipraktekkan SBY adalah Pemberantasan Korupsi melalui badan yang dibentuknya sendiri, yakni Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Selain digunakan untuk melibas lawan-lawan politiknya yang korup, SBY juga menjadikan isu pemerintahan bersih sebagai dagangan politiknya. Tentu saja pemerintahan bersih juga hal yang paling ditunggu-tunggu oleh investor asing, yang sering kali mengeluh karena banyaknya pungli oleh pejabat-pejabat pemerintahan. Namun ironis, pelaku korupsi yang tertangkap adalah orang-orang disekeliling SBY sendiri, baik pengurus teras Partai Demokrat maupun pejabat tinggi pemerintahannya. Yang terbaru justru mengaitkan keterlibatan sang ketua umum Anas Urbaningrum dalam kasus korupsi besar Hambalang.

Lembaga Survei Saiful Mujani (SMRC) pun mengumumkan elektabilitas Demokrat yang merosot, sontak membuat panik para petinggi Partai Demokrat termasuk SBY (utamanya kubu Cikeas). Kepanikan tersebut justru sangat apolitis dan ahistory. Anas Urbaningrum menjadi satu-satunya pihak yang dipersalahkan tanpa melihat sejarah. ”Demi menyelamatkan Partai” adalah keyakinan kolektif kubu Cikeas yang berharap survei Partainya bisa meningkat setelah menghakimi Anas. Sungguh sangat apriori.

SBY sebagai Figur adalah Sebab Awal dan Akhir

Awal dan akhir, Alpha dan Omega. Partai yang berawal dari Figur akan berakhir dengan figur juga. Sesuati yang dimulai dengan niat yang keliru akan berakhir dengan kegagalan yang sempurna. Sangat benar adanya kalimat ini:”Semua berawal dari Niat”

Hasil survei SMRC adalah bagian dari realitas politik. Galau menghadapi survei adalah bukti dari kegagalan Demokrat menjadi Partai Politik. SBY gagal menempatkan realitas politik yang menimpa partainya dengan jalan keluar yang justru apriori dan dapat menuai serangan balik.

Kasus korupsi yang melibatkan petinggi-petinggi Demokrat bermuara pada Cost Politik yang tinggi. Tertangkapnya Nazaruddin, Angelina Sondakh, Andi Malarangeng, dan kasus lain yang booming sebelumnya yakni Century yang melibatkan Sri Mulyani dan Budiono juga terkait masalah pembiayaan politik 2009. Sindikat ini seperti bekerja untuk memenuhi Cost yang tinggi. Yayasan yang dikelola oleh keluarga Cikeas (Baca Gurita Cikeas/George Adi Tjondro) juga disinyalir memberikan kontribusi yang besar bagi pemenangan SBY.

Sejak awal periode ke 2 pemerintahan SBY, kasus korupsi yang menimpa petinggi Demokrat selalu dikaitkan dengan pembiayaan pemenangan Partai Demokrat. Sejak awal periode kedua, kasus korupsi memang lebih dominan dikaitkan sebagai kegagalan pemerintahan SBY, yang gagal mewujudkan Pemerintahan Bersih, dan sebaliknya malah tersandung kasus korupsi.

Dengan mengorbankan Anas, SBY sepertinya ingin membuktikan bahwa dia dan kubu Cikeas adalah kubu yang bersih dari korupsi dan tak ingin partainya tercemar oleh kader-kader yang korup (kader yang sudah tertangkap adalah orang-orang dekatnya Anas).

SBY mungkin berpandangan bahwa kemerosotan Demokrat lebih didasari pada kasus korupsi yang menimpa petinggi-petinggi partainya. SBY ingin membokongi realitas kegagalan pemerintahannya sebagai penyebab utama merosotnya kepercayaan rakyat kepada partai penguasa itu.

Jika saja benar bahwa uang hasil korupsi para petinggi Demokrat itu digunakan juga sebagai dana kolektif pemenangan Pemilu Demokrat ditahun 2009, maka SBY sedang menggali kuburan Partai Demokrat sendiri.





 

Pernyataan Sikap: Hentikan Kriminalisasi Aktivis & Petani! Tegakkan Pasal 33 UUD 1945!

Aparat kepolisian kembali merepresif perjuangan petani. Sebanyak 29 petani asal Pulau Padang, Bengkalis, Riau, dijadikan target kriminalisasi. Salahsatu aktivis petani, Muhamad Ridwan, ditangkap aparat kepolisian dengan tuduhan pasal-pasal karet (Penghasutan: Pasal 160 dan 163 KUHP, serta 355 KUHP).
Praktek kriminalisasi perjuangan petani ini sekaligus menambah daftar konflik agraria di Indonesia. Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA) menyebutkan, selama 8 tahun Pemerintahan SBY berkuasa, tidak kurang dari 618 konflik agraria yang meletus: sebanyak 941 orang dipenjarakan, 459 luka-luka terkena peluru aparat, serta 44 orang tewas.
Selain itu, Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) juga mencatat sebanyak 7000 konflik agraria di Indonesia berpotensi meletus. Daftar konflik agraria tersebut, terus akan bertambah sepajang politik agraria kita masih bercorak kolonialistik dengan ciri sebagai berikut:
Pertama, cara negara dalam mengelolah tanah menyingkirkan rakyat dari proses penguasaan dan pemanfaatan tanah tersebut. Cara yang sama dilakukan Pemerintah Kolonial Belanda dengan merampas tanah rakyat atas nama Undang-undang (Agraris Wet) 1870.
Akhir-akhir ini, lahir berbagai regulasi yang serupa Agraris Wet untuk melegalisir perampasan tanah milik rakyat, misalnya: Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan; Undang-Undang Nomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal Asing; Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan; dan UU Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah.
Semua produk Undang-Undang tersebut gagal menciptakan keadilan agraria atau keadilan sosial yang menjamin kebutuhan rakyat atas tanah. Sebaliknya, regulasi yang berwatak kolonial tersebut memberikan ruang kriminalisasiterhadap perjuangan petani; atau membolak-balik logika perjuangan atas tanah yang seharusnya mulia (benar), menjadi tercela (kriminal).
Kedua, posisi rakyat tidak pernah setara di depan hukum. Dari berbagai pasal yang ada di dalam sejumlah UU tersebut, justru hanya untuk mengkriminalisasi perjuangan petani. Semenara pihak perusahaan mendapat perlindungan hukum sekalipun mereka menggunakan praktek kekerasan: penembakan, pemabakaran rumah, penggusuran, dan sebagainya yang mengorbankan rakyat.
Pemerintah selalu menempatkan rakyat disudut yang bersalah. Ketika protes petani digelar, maka pengusaha dan pemerintah, serta aparat keamanan mencapnya sebagai aksi gangguan stabilitas (civil disturbances) atas jalannya investasi.
Cara-cara aparat keamanan dalam menyelesaikan konflik-konflik agraria sejak Orba tidak berubah, tindakan represif selalu dibenarkan atas nama Undang-Undang, dengan pasal-pasal karet (haatzai artikelen) petani dipaksa tunduk kepada kepentingan pemodal.
Ketiga, Cara pandang negara dalam pengelolaan tanah sangat berorientasi profit dan pro modal asing. Padahal, jika merujuk kepada pasal 33 UUD 1945, penggunaan tanah di Indonesia mestinya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Bukti bahwa tata-kelola tanah di Indonesia sangat pro-pebisnis besar adalah; dari 200-an Juta Hektar luas daratan Indonesia, 70 persen adalah sektor kehutanan yang sebagian besar habis diprivatisasi atau diserahkan kepada pemodal asing/dan swasta.
Inkonsisteni pemerintah terhadap konstitusi bukan saja menyebabkan konflik agraria terjadi dimana-mana, tetapi juga penyalahgunaan kekuasaan dan bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat, yang haknya dijamin oleh konstitusi.
Penangkapan terhadap aktivis dan petani yang sedang berjuang mempertahankan haknya, seperti di Pulau Padang (Riau), di Blitar (Jawa Timur), di Betung (Sumatera Selatan), atau di daerah lainnya,  merupakan bentuk kriminalisasi terhadap perjuangan rakyat. Tak ubahnya seperti kekuasaan kolonial tempo dulu yang memandang perjuangan rakyat untuk keadilan sebagai pemberontak, ekstrimis, provokator, dan berbagai stempel sejenis lain.
Karena itu, Partai Rakyat Demokratik menyampaikan sikap sebagai berikut:
  1. Menuntut kepada pemerintah untuk konsisten dan setia menjalankan amanat konstitusi khususnya: Pasal 33 UUD 1945, dan melaksanakan UU Pokok Agraria (UUPA) tahun 1960.
  2. Mengecam tindakan represif aparat dan menuntut penghentian kriminalisasi seluruh perjuangan petani.
  3. Menuntut pembebasan Sdr. Muhamd Ridwan, aktivis Partai Rakyat Demokratik oleh Polres Bengkalis, Riau.
Demikian pernyataan sikap ini kami buat. Atas solidaritas dan pembelaan pada rakyat, kami mengucapkan terimaksih.
Jakarta, 5 Februari 2013
Hormat Kami
Agus Jabo Priyono
Ketua Umum PRD
 

Profil Singkat



Saya lahir di Medan, 25 Agustus 1985, anak pertama dari 6 bersaudara. Sadar akan gemar menulis sejak usia 9 tahun, berawal dari kegemaran mengerjakan karangan bebas (essay) pada setiap tugas ataupun ujian pelajaran Bahasa Indonesia. Sejak saat itu saya sering menulis apa saja yang pernah saya alami, misalkan wisata bersama keluarga, tentang harapan, perkawanan dan lain sebagainya.

Memasuki SMP, saya hijrah ke kota kecil Pariaman, Sumatera Barat. Mendaftar di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pariaman. Tak lama waktu yang saya butuhkan untuk menyesuaikan diri, terutama bahasa daerah dan kebiasaan-kebiasaan masyarkat setempat. Meski kental berdarah Minang, tapi saya tak dibesarkan di Ranah Minang. Ditempat ini saya belajar kemandirian, sesekali bekerja mencari duit buat jajan sebagai buruh tani musiman (musim panen). Saya tinggal bersama nenek, mereka adalah golongan petani kecil dengan kepemilikan lahan yang sangat kecil.

Disini mayoritas lahan dimiliki bersama dan diolah dengan sistem kekerabatan. Tak ada yang boleh menjualnya. Kebijakan tertinggi atas tanah diurus oleh Ninik Mamak.

Setahun setelah itu saya dijemput Ibu, dan kembali pindah ke Kota kelahiran. Saya sekolah di SMP Negeri 11 Medan. Awal mula berkenalan dengan kenakalan remaja, seperti menghisap rokok dan berkelahi. Untung saja tak sampai berkenalan dengan Narkoba. Saat-saat ini juga saya lepas kontrol dari kedua orang tua, yang hijrah ke Jakarta untuk memulai usaha barunya. Keluarga kami terpisah di tiga tempat, saya dan adik nomor dua berada di Medan, dua lagi di Pariaman dan sisanya ikut ke Jakarta.

Tahun 2000 saya masuk ke sekolah swasta Dharmawangsa. Memiliki banyak teman, dan beberapa diantaranya adalah sahabat-sahabat yang memiliki keunikan dan keahlian sendiri-sendiri. Satu kemiripan adalah kegemaran bertukar pikiran.

Sejak tahun ini juga saya mulai menyeriusi dunia musik Metal, dengan membentuk Band Gothic Metal bernama Angel Of Darkness yang sukses melahirkan 3 buah lagu. Namun sayang, band ini tak bertahan lama, hingga akhirnya saya direkrut oleh Band Death Metal bernama Death Phenomenon sebagai Gitaris.

Saya pernah berpikir untuk tidak lagi menekuni ilmu pengetahuan lain selain seni musik. Sejak SMP keinginan meneruskan bakat musik memang tak mudah, selalu mendapat tentangan dari oraang tua. Akhirnya sang Anak juga yang harus mengalah. Tahun 2003 saya tamat dari Dharmawangsa dan memutuskan Ujian SPMB untuk masuk ke USU. Sumpah, saya sebenarnya berharap pilihan kedua dari 2 pilihan yanmg saya ambil, yakni Ilmu Sejarah dan Etnomusikologi. Namun sayang, pilihan pertama berjodoh dengan saya.

Tak sulit memang beradaptasi pada disiplin ilmu ini karena memang saya menyukai pelajaran Sejarah. Namun tetap saja saya menjalaninya dengan setengah hati. Hingga menjelang akhir tahun 2004 saya memutuskan untuk keluar dari Band, dan memutuskan konsentrasi penuh pada ilmu ini (diam-diam ilmu sejarah berhasil mencuri hati saya).
Pada masa-masa awal kuliah saya bergabung disebuah kelompok studi mahasiswa bernama Gerakan Mahasiswa Pro Demokrasi (GEMA PRODEM), sebuah kelompok studi kritis yang mengangkat nilai-nilai demokrasi, kesetaraan, dan persaudaraan. Saya mulai terlibat dalam pengorganisiran kampus dan mobilisasi massa aksi. Ada beberapa yang saya ingat, seperti mobilisasi menolak kenaikan SPP, menolak BHMN, dan bersatu pada aksi-aksi rakyat lainnya seperti peringatan 27 Juli, Hari Buruh Internasional, Hari HAM, Hari Perempuan, Hari Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda dll.

Hingga pada titik puncak keresahan anak muda yang melawan apa saja yang membelenggunya pun ikut pula saya hadapi. Saya keluar dari USU dan memilih bergabung dengan gerakan rakyat, tepatnya di akhir tahun 2005, bergabung bersama Serikat Tani Nasional (STN) Deli Serdang. Masa-masa ini saya jalani dengan hidup berpindah-pindah, dari desa ke desa, berjuang dan membangun organisasi massa tani dengan beberapa kader Partai Rakyat Demokratik (PRD) Sumatera Utara. Hingga setahun kemudian, saya dilantik menjadi Kader PRD, dengan tugas memimpin organisasi tani di Sumatera Utara.

Politik Intervensi Pemilu (2007) memaksa saya kembali ke Medan dengan menjadi pengurus Partai Persatuan Pembebasan Nasional (PAPERNAS), sebuah partai yang dibangun oleh beberapa organisasi massa yang memandang bahwa arena pemilu harus diintervensi oleh kaum pergerakan. Saya terpilih sebagai Ketua Departemen Pendidikan dan Kaderisasi Sumatera Utara.

Malang, Papernas tak diberi kesempatan oleh rezim neoliberal SBY, ditandai dengan penyerangan merata dimana-mana. Tahun 2008, perubahan besar di internal terjadi, Perdebatan panjang dibuka, dan memutuskan penilaian bahwa PAPERNAS tak mungkin bisa memenuhi persyaratan berat sebagai peserta pemilu 2009 dibawah teknan dan intimidasi. Pilihannya kemudian jatuh pada berkoalisi dengan PBR yang dipimpin oleh Burzah Zarnubi.

Ini lah babak perpecahan. Suara kader dan pengurus di Sumatera Utara pecah antara setuju dan tidak setuju dengan pilihan koalisi, hingga puncaknya adalah split. Saya memilih setia pada keputusan yang telah diambil secara demokratis, penuh pertimbangan dan berdasarkan suara terbanyak.

Koalisi pun terbina dengan baik. Tahun 2008 saya pindah ke Siantar untuk menjadi pengurus di partai koalisi, menjadi wakit ketua di DPC PBR kota Siantar. Tahun 2009 Partai memutuskan saya maju menjadi Caleg kota Siantar bersama kawan-kawan lainnya di daerah pemilihan yang berbeda.

Caleg-Caleg PRD ini pun kemudian membuat sejarah baru dalam kampanye Pemilu kontemporer, dengan memilih taktik kampanye turun ke bawah, melakukan long march ke kampung-kampung terpelosok, berjalan mengelilingi kota Siantar dan Simalungun dengan berjalan kaki, membawa selebaran, dan berdiskusi langsung kepada rakyat pemilih. Kami mengusung program mendesak, demokratisasi dan kesejahteraan. Namun sayang, kami memang tak cukup syarat untuk menang.
Tahun 2009 paska pemilu saya ditarik ke Medan, dan untuk kembali memimpin teritori wilayah. Konfrensi wilayah tahun 2010, saya terpilih menjadi ketua PRD Sumatera Utara periode 2010 – 2015.

Saat ini selain aktif di PRD, saya juga mencoba menekuni kembali kegiatan menulis di blog. Saya juga melakoni dunia marketing sebagai pertahanan diri (ekonomi) dengan menjadi marketing asuransi di Avrist Assurance.


Kontak Saya

Mobile 0857 6319 071 – 0852 9957 7640
Fb        : Randy Syahrizal
Twitter : @Randy Syahrizal

 

Surat untuk Fina

Fina. Nama mu bagus sekali. Aku mengira bahwa jatuh cinta adalah lelucon buatku. Apa lagi sampai mencintaimu, tidak mungkin rasanya. Ada baiknya rasa kagum ini hanya kusimpan didalam hati. Menikmatinya sendiri barangkali sudah lebih dari cukup. Aku tak berani mengutarakannya. Aku takut kehilangan banyak waktuku hanya untuk mengumbar sayang bersama mu. Itupun jika kau mau menerima ku. Tapi sudahlah, aku sudah putuskan untuk tidak melanjutkannya.

Aku adalah makhluk iseng yang sangat rajin memantau hari-hari mu. Meski sedang berdiskusi pun, pandanganku tak kubiarkan lupa melirikmu. Mungkin ini lah sedikit kebahagiaan yang masih kupunya.

Aku sering membayangkan bahwa kau bisa berjalan bersamaku disetiap waktu, bahkan disaat-saat paling terik dan lelah sekalipun. Aku pernah membayangkan betapa tidak terasanya lelah berjalan kaki saat longmarch menuju kantor gubernur dan gedung dewan, jika tanganku menggenggam tanganmu. Lalu kita bersama-sama meneriakkan yel-yel dan tuntutan. Aku tahu ini sangat sulit, terutama bagimu, seorang anak Pejabat Esselon II.

Fina, mungkin kau masih ingat saat kakimu bergetar dan rasa cemas hinggap di kepala mu, saat itu mobil orang tua mu sedang melintasi barisan massa aksi dan melihatmu tengah mengepalkan tangan kiri dan meninjunya ke awan. Saat itu juga telepon genggam di saku mu berdering, dan kau takut untuk menerimanya. Karena panggilan itu kau tolak, orang tua mu kemudian mengirim pesan singkat. Kalau aku tidak salah ingat, kira-kira isinya begini “ngapain kamu disitu? Kenapa tidak kuliah?”

Saat itu juga kamu langsung panik, dan bertanya padaku bagaimana kalimat yang baik untuk menjelaskannya kepada orang tua mu. Aku hanya menjawab senyum, kemudian aku katakana kepada mu, hal itu juga aku alami. Aku sendiri hanya menjawab ringan. Aku bilang pada orang tua ku, bahwa aksi demo adalah tradisi mahasiswa. Cukup sederhana bukan..? waktu itu aku malas menjawab dengan panjang lebar. Aku tahu orang tua ku tidak begitu peduli dengan aktifitas ku. Mereka lebih pusing memikirkan cara-cara bertahan hidup dihari-hari esok dan masa-masa mendatang. Untuk kesulitan hidup dimasa pemerintahan kita yang pro pasar bebas, orang tua ku lebih menaruh harapan pada demo-demo mahasiswa.

Aku tak ingat persis alasan mu bergabung dalam gerakan mahasiswa. Tapi yang aku ingat, bacaan-bacaan kritis mulai digemari mahasiswa saat itu. Dikantin-kantin selalu aja ada beberapa mahasiswa yang selalu berdiskusi mengenai persoalan-persoalan rakyat. Wacana-wawacana kritis begitu menghegemoni pemikiran mahasiswa dikampus kita, meskipun jumlahnya masih sangat minoritas. Tapi jika aku ingat-ingat seluk beluk tentang dirimu, paling tidak, kau lebih beruntung dalam banyak hal dibanding aku. Kau lahir dalam keluarga yang berkecukupan, punya fasilitas belajar yang baik, punya laptop, punya uang buat beli buku-buku terbaru, punya uang buat makan teratur meski kau sedang diluar rumah, dan punya banyak teman yang selalu mengingatkanmu untuk tetap fokus menyelesaikan kuliah. Untuk semua hal yang aku sebut diatas, aku patut cemburu.

Tahun 2006 aku berangkat ke kota Yogyakarta. Waktu itu aku sudah berjanji membantu pengerjaan skripsi mu. Aku tahu bahwa tidak ada kepastian kapan aku pulang, dan kau juga sadar betul tentang itu. Kau sempat marah pada ku dan memintaku untuk menjanjikan batas waktu. Tapi kau juga harus tahu, bahwa untuk memastikan itu, aku sungguh tidak mampu. Aku hanya sanggup berjanji akan menjadi teman diskusimu melalui telepon. Dan kita pun menyepakatinya.

Saat itu, waktu mendekatkan kita, mempererat kebersamaan kita. Waktu telah mengijinkan aku mengenalmu lebih jauh disebuah desa, saat kita sama-sama bertugas mengorganisir perjuangan sengketa tanah antara petani dan perusahaan asing. Aku ingat betul, kita bisa begitu dekat sekaligus bisa begitu sangat jauh. Dan waktu memperkenalkan kita akan kerinduan, sesuatu yang sangat indah untuk selalu di ingat.

Tiga bulan kemudian aku kembali menemuimu. Dan seperti dugaanku sebelumnya, kau pasti sanggup menyelesaikan penelitianmu dengan baik. Saat-saat tiga bulan, kita melaluinya dengan komunikasi yang terkadang datar dan kaku. Kau selalu membuka percakapan tentang tema skripsi, dan terkadang kita tak jarang berselisih pendapat. Tapi itu sangat berkesan buatku.

Dua jam yang lalu, aku kirim pesan singkat “semoga aku bisa menemuimu 3 jam mendatang” dan kau langsung menelpon ku. Kau bilang kabar itu adalah hal yang menggembirakan, dank au berjanji menjemputku di bandara. Untuk kemurahan hatimu aku ucapkan terima kasih.

Aku sangat terkesan bisa bertemu kau pertama sekali di kota kita, dank au benar-benar menepati janjimu. Kau tersenyum, dan aku membalas seadanya. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menganggap pertemuan itu adalah pertemuan yang biasa, yakni pertemuan antara kawan dengan kawan, meski secara jujur aku sangat senang dengan momen itu. Pelan-pelan aku mulai jatuh hati kepada mu. Tapi beberapa alasan kemudian masuk ke kepalaku untuk menghilangkan rasa ketertarikan itu.

“Kau kenapa..? kau sakit..? kenapa makin pucat..?”

Tiga pertanyaan yang saling berhubungan itu masih tersimpan baik di memori kepalaku. Aku jawab, “ah gak apa-apa kok.” Setelah menjawab pertanyaan itu, aku hanya diam. Sebenarnya aku berharap kau bertanya terus tentang apa pun . P aling tidak, aku ingin sekali kau rewel di hari itu. Dan benar saja, kau bertanya lagi.

“Kau kenapa sih..? kok diam terus..? kayak baru kenal aja..”

Aku tahu kita sudah saling kenal. Tapi aku baru sadar untuk tidak lagi mengenalmu secara biasa. Karena alasan itu lah aku gugup. Tapi alasan ini tidak aku ceritakan kepadamu saat itu. Waktu itu aku hanya menjawab “aku lapar..” dengan alasan itu kami pun berjalan menuju rumah makan.

Hari itu tanggal 12 Februari. Keesokan harinya aku sudah harus pergi ke Tarutung, sebuah kota kecil di Tapanuli Utara. Makanan yang terhidang sudah aku habiskan. Aku ingin memesan kopi panas.

Sementara kau membuka lagi percakapan soal skripsi. Aku kaget. Ternyata kau merubah judul skripsinya. Tema sebelumnya tentang keterwakilan perempuan dalam pemilu diganti dengan sengketa tanah di desa tempat kita bertugas. Awalnya aku sempat berpikir bahwa kau menyerah dengan tema sebelumnya, dan mencari jalan singkat dengan merubah judul. Pastinya sangat mudah bagimu menguraikan tema sengketa tanah, karena banyak data dan banyak orang yang dapat kau gali informasinya sebanyak mungkin. Tapi ternyata aku salah.

Satu jam kemudian kita pisah. Kau pulang kerumah dan aku ke sekretariat menemui kawan-kawan yang juga sudah menunggu dari tadi. Hari sudah malam rupanya. Sebelum tidur, kau masih sempat mengirim pesan singkat untuk membuat janji ketemu lagi esok hari. Dan aku setujui.
 

Pelecehan Muncul Karena Keinginan Konsumsi Jauh diatas Kemampuan Produksi

Dan ini adalah cerita singkat, sederhana, tentang konsumsi melebihi tingkat produksi.
Salam, Randy Syahrizal 

Ah, hujan tak kunjung reda rupanya. Aku tak bisa beranjak dari tempat ini. Butuh beberpa waktu lagi menunggu sampai reda. Aku coba bertahan saja. Aku tahan kebosanan dan aku coba hiraukan suara-suara usil itu. Tapi semakin aku bertahan berdiam, suara itu semakin gencar. Bahkan tak kenal menyerah. Selalu saja merayuku untuk menyebut nama. Andaikan aku sebut, apa lagi yang dimintanya..? apa harus aku ladeni orang itu..?

Jujur aku tak punya banyak waktu untuk hal ini. Tapi aku tak punya pilihan. Aku mulai berpikir bahwa kebisingan ini akan selesai jika aku ladeni. Baiklah, aku coba untuk meladeninya.

“Sombong amat sih, namanya siapa..?” ujar salah seorang pria dari ketiga pria yang duduk dibelakangku.

Dengan berat hati aku jawab juga,

“Nia..” kataku.

“Mau kemana Nia..? Mau dianterin gak..? abang bawa mobil tuh..” sambung lelaki itu.

Benar dugaanku, kebisingan ini tak berhenti sebatas nama. Ini sudah terlanjur, terpaksa aku teruskan menjawabnya. Jujur, aku sudah ketakutan. Hanya ada kami berempat di warung kopi itu.


“Mau pulang..” jawabku singkat.

“Diantar ya..”

“Gak usah, trima kasih” sambil melempar senyum kecil.

“Wah senyumnya manis.” Celetuk dari pria disebelahnya.

Aku mulai merasa tak nyaman. Aku teringat kisah teman kos ku yang tak sengaja melihat kamar kos tetanggnya milik mahasiswa yang mempermainkan kelaminnya karena melihat tontonan porno. Aku lantas teringat perkataan temanku bahwa lelaki bisa terangsang lewat pandangan. Astaga, aku kaget. Jangan-jangan ada yang salah dengan dandananku. Kali ini aku semakin tak nyaman, dan aku putuskan bergegas menuju toilet.

Aku bercermin dan memperhatikan pakaiannku. Aku pikir cukup sopan. Aku memakai kemeja lengan panjang berwarna putih dan rok hitam panjangnya sedengkul. Rambutku terikat, dan bagiku tak ada yang aneh. Tapi kenapa komplotan pria itu melihatku seperti mangsa..?

Aku bekerja sebagai pengantar minuman disebuah karaoke keluarga. Aku cukup tahu menjaga kesopanan. Aku lulusan SMK Pariwisata, tak punya biaya buat melanjutkan kuliah. Bagiku kerja adalah mulia. Manusia yang baik adalah manusia yang bekerja, karena dengan kerja, kemanusiaannya akan terbentuk.

Aku adalah pekerja, menggunakan tenaga dan pikiran, setidaknya selalu berpikir ramah kepada semua pelanggan, meskipun ada diantara mereka yang kurang ajar sekalipun. Itulah kerja ku, dan aku di program untuk menjadi makhluk paling ramah. Ini kulakukan karena kepatuhanku pada atasan, karena dia selalu bilang kepada kami bahwa keramahan adalah kunci kesuksesan usaha ditempatku bekerja.

Aku kembali tak menghiraukan lagi ocehan lelaki-lelaki itu. Semakin lama ocehannya semakin keji. Semakin membuatku telanjang dihadapan mereka. Meskipun terdengar bisik-bisik, tapi sangat jelas ditelingaku. Mereka sedang membahasku seperti yang ada di tontonan porno. Wah, keterlaluan. Aku harus pergi dari tempat ini.

Aku pergi ke meja kasir dan membayar minumanku. Seorang yang banyak bicara dari tadi menghampiriku dan..

“Mau pulang..? kan masih hujan..”

Aku diam saja. Dan bergegas pergi, tapi lelaki itu menarik tanganku. Dia meminta akan mengantarku. Aku tidak mau dan menarik keras tanganku dari pegangan tangannya. Aku tak terima diperlakukan begitu. Karena menurutku ini pelecahan, aku balik dan menatapnya tajam..

“Ku peringatkan kau, jangan kurang aja kepada wanita.” Lelaki itu hanya membalas dengan senyuman.

“Aku hanya ingin menolong.” Bela lelaki itu.

“Aku sudah bilang, aku bisa pulang sendiri.” Aku langsung membuang wajahku dari depan wajahnya dan berbalik badan menuju bibir jalan. Aku tak perduli hujan membasahi tubuhku, niatku hanya satu, cepat-cepat pergi dari ocehan-ocehan itu.

“Wah, transparan cuy..bulat bener..hahahhahahha” lelaki yang banyak bicara itu kembali melontarkan ocehannya.

Astaga, bajuku tembus pandang karena tersiram hujan. Aku panggil becak dan bergegas pulang.

Tiba lah aku di kamar kecil yang aku sewa untuk hidup di kota Medan. Aku berpapasan dengan Meli, tetanggaku.

“Mandi hujan dimana..?” sambil terssenyum sedikit mengejekku.

“Kehujanan dijalan, tadinya berteduh diwarung kopi depan karaoke.”

“Warung kopi yang besar atau yang kecil..? Tanya Meli kembali.

“Yang besar.”

“Oh, tempat nongkrongnya Tubang (Tua Bangka/Lelaki berumur mata keranjang).”

“Oh ya, aku gak tau. Pantesan tadi ada 3 orang laki-laki melihatku seperti mangsa.”

“Mereka berani bayar mahal tuh.”

“Maksudnya..?” tanyaku memperjelas.

“Yah anak-anak kalau gak sanggup bayar hutang larinya juga kesitu. Mereka mau melunasi hutang dengan imbalan temani dia semalam.”

“Najis. Aku gak tipe kayak gitu.”

“Syukur lah..” kata Meli singkat.

Aku membilas rambut dan bergegas menuju kamar. Didalam kamar, aku masih saja kepikiran kata-kata Meli barusan. Aku teringat Rahel, gadis kecil di depan kamarku. Umurnya 17 belas tahun, dan masih sekolah. Gaya hidupnya persis artis, semua hal ingin dibeli, dari yang aku tau fungsinya sampai yang aku tak tahu lagi apa kegunaannya. Dia selalu tunjukkan barang-barangnya padaku. Dan dia selalu mengaku dikirim oleh Om nya di luar kota.

            ”Apa jangan-jangan Rahel..?” Ah sudahlah, semoga dia tak sama seperti remaja lainnya yang besar keinginannya tapi tak tahu bagaimana cara mencarinya.
 

Soal Logika Formal dari Sudut Pandang yang Ringan


Saya melihat berita di TV bahwa sebanyak 65 Punker’s di provinsi Nanggroe Aceh Darusallam ditangkap dan digunduli paksa oleh polisi syariat.

Asumsi penangkapan itu adalah kekhawatiran berlebih oleh polisi syariat yang khawatir merebaknya ajaran sesat atau pencemaran dan penodaan agama Islam. Saya pribadi patut heran ketika mendengar alasan penangkapan tersebut lebih didasari oleh ketidaknyamanan polisi syariat dengan gaya dan penampilan Punkers yang urakan, yang kemudian menyeret praduga kriminal (kecendrungan pelaku kriminal) didalam kepala polisi-polisi tersebut. 

Paling tidak, peristiwa tersebut menyimpulkan paradigma formal yang kaku, bahwa penampilan yang tak rapi (urakan) adalah cerminan dari pelaku kriminal, dan sebaliknya penampilan rapi selalu jauh dari kecurigaan tindakan kriminal. Kesimpulan formalis ini lebih didasarkan pada penampakan “penampilan seseorang” sangat menentukan penilaian kepribadian seseorang, baik atau buruk. Lebih jauh lagi, penilaian akan penampilan juga bisa berakar pada pengelompokan masyarakat pada klas-klas sosial. 

Seseorang dengan penampilan yang kumal, bisa dengan sangat mudah disimpulkan sebagai pekerja kasar dan sebaliknya penampilan rapi adalah cerminan pekerja otak. Pekerja kasar yang berpenampilan kumal lebih pantas diwaspadai melakukan tindakan kriminal (mencuri), dengan asumsi bahwa dia (pekerja kasar) tentu sangat sulit memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari hanya dengan mengandalkan upah rendah, dan sebaliknya pekerja otak pastilah jauh dari asumsi “pencuri” dikarenakan penampakannya yang bersih serta merta membawa aura positif terhadap dirinya. Lagi-lagi hal ini juga memperlihatkan kepada kita betapa kacaunya pola piker masyarakat kita yang selama puluhan tahun dijejali oleh hegemoni-hegemoni logika formal yang sangat sesat.  

Era Kolonial
Penjajah selalu datang dengan penampilan terbaik, dengan baju yang terjahit dari bahan-bahan terbaik, perhiasan yang berkilau, dan kapal pesiar yang besar. Sedangkan masyarakat jajahan selalu berpenampilan kumal,tradisional, bahkan jika film-film sejarah perjuangan bangsa dapat mewakili visualisasi zaman penjajahan kolonial, kita bisa dengan sangat jelas melihat bagaimana masyarakat jajahan (pribumi) ditampilkan dengan sangat sederhana, bahkan tidak memakai alas kaki. 

 Raja-raja diwilayah Nusantara yang juga berpenampilan menarik, umumnya tidak menaruh curiga pada tuan-tuan eropa tersebut. Dalam beberapa kasus kontemporer, saya juga sering berpikiran bahwa seseorang yang berpenampilan baik dan rapi sering kali menghilangkan kewaspadaan saya akan asumsi-asumsi jahat pada dirinya. Barangkali, perasaan yang sama juga dirasakan oleh Raja-raja di Nusantara dahulu kala. Mereka menerima dengan baik tuan-tuan eropa, selayaknya saudara (segolongan) yang harus disambut istimewa. Barangkali tidak ada yang menyangka bahwa tahun-tahun berikutnya berbuah malapetaka massal yang berkepanjangan.  

Paska Kolonial 

Sejak pakaian menjadi kebutuhan primer manusia, dan telah dipatenkan sebagai produk kebudayaan masyarakat modern yang paling penting, pakaian kemudian menjadi industri pesat dengan tingkat inovasi yang padat. Tak terkecuali di Indonesia. Sebelum dan sesudah kemerdekaan, pakaian dapat mewakili akar kelas seseorang, apakah dia ningrat atau birokrat, atau usahawan atau petani dan buruh pabrik, dan atau tuna wisma sekali pun. 

Singkatnya, jenis dan cara seseorang berpakaian dapat mengundang asumsi yang melihat akan keberadaan klas-nya. Dalam logika ekonomi-politik, saya pikir ini masuk akal. Bagaimanapun, seorang petani tak mungkin menganggap pakaian ala birokrat sebagai kebutuhan pokok bagi dirinya. Namun jika dipakai untuk menyimpulkan penilaian baik-buruknya seseorang (criminal ukurannya) akan menjadi masalah yang laten. Masalah ini masuk ke persoalan serius, karena dia sudah menjadi “mindset” masyarakat berkelas. 

Randy Syahrizal, penulis adalah Kader PRD Sumatera Utara
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. RANDY SYAHRIZAL - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger