Latest Post

Demokrat Sudah Gagal Sejak Awal Pendiriannya

Demokrat Sudah Gagal Sejak Awal Pendiriannya

Oleh : Randy Syahrizal


Demokrat, Partai Politik pemenang pemilu 2009 ini sangat panik menanggapi hasil survey Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menunjukkan pemerosotan elektabilitas, yakni berada diurutan ke tiga setelah PDI Perjuangan. Kubu Cikeas ramai-ramai angkat bicara dengan suara yang sama, yakni mengaitkan persoalan dugaan korupsi Hambalang yang melibatkan Anas Urbaningrum sebagai problem pokok menurunnya hasil survey tersebut.

Sebaliknya kubu Anas Urbaningrum sangat meragukan validitas hasil survey tersebut. Terlepas dari keraguan itu, hasil survei ini ternyata mampu menyedot perhatian sang ketua dewan pembina, yang notabene adalah Presiden RI. Seperti kebakaran jenggot, SBY pun merespon serius, hingga mengambil langkah-langkah darurat dengan mengeluarkan 5 poin pokok keputusan rapat Majelis Tinggi Partai.

Kepemimpinan harian partai diambil alih langsung oleh ketua Majelis Tinggi Partai, dan memberikan kesempatan bagi Anas untuk menyelesaikan persoalan dugaan korupsi Hambalang. Tidak hanya itu, Majelis Tinggi Partai juga meminta seluruh fungsionaris dan struktur partai untuk menjalankan instruksi partai yang tunduk dibawah kepemimpinannya. Kepanikan yang teramat serius berada di poin 4 dalam keputusan tersebut, yakni akan memecat siapa saja yang tidak patuh pada keputusan MTP. Bagi kubu Anas, tentunya ini sebuah ancaman serius.

Tentu saja dalam tradisi Partai Politik Modern, keputusan MTP adalah keputusan yang inkonstitusional, karena mengambil kewenangan eksekutif DPP dengan sepihak. DPP diangkat dan dipilih langsung didalam kongres, hanya kongres ataupun KLB lah yang dapat menurunkannya. Namun masalah kisruh yang akan saya bahas tentunya tidak hanya persoalan inkonstitusional semata, melainkan problem yang lebih besar tentang ketidakpercaya dirian Partai Politik yang tak membumi, tidak berbasis, dan bergantung pada satu tokoh, membuat Partai ini berada pada posisi ”Galau segalau galaunya”

Mendefinisikan (ulang) Partai Politik

Dalam realitas politik, Partai politik adalah suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai dan cita-cita yang sama dengan tujuan memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik (biasanya), dengan cara konstitusional guna melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka (Miriam Budiarjo).

Berpijak dari definisi diatas, harusnya yang jadi ”dagangan” Partai Politik adalah Idiologi dan Program politiknya, yang menjadi bahan propaganda utama dalam merebut hati dan pikiran rakyat untuk menjadi simpatisan dan pendukung setia, hingga memberikan suara, dan memenangkan pertarungan perebutan kekuasaan (Pemilu).

Bisa jadi Demokrat sebagai Partai Politik memang sudah salah sejak awal pendiriannya. Demokrat nyaris tidak punya pandangan politik sebagai kompas pemandu jalannya Republik ini. Pendirian Partai Demokrat semata-mata hanya untuk mendudukkan SBY sebagai Presiden RI setelah sebelumnya kalah dalam sidang pemilihan Cawapres oleh MPR pada 2001 silam (baca Sejarah Partai Demokrat/ http://www.demokrat.or.id/sejarah/. Sangat disesalkan, saya justru tak menemukan Manifesto Politik dalam website resminya.

Secara kasar, saya berani menyimpulkan bahwa Partai Demokrat adalah suatu kesatuan kelompok elit yang berinvestasi (modal) untuk memajukan dan memenangkan SBY (sebagai figur utama) dalam pertarungan pemilu. Partai Politik hanya kendaraan (pragmatis) untuk mengantarkannya pada pertarungan tersebut.

Dari satu sudut pandang yang utama ini, Demokrat memang sudah gagal sejak awal menjadi Partai Politik yang baik. Partai Demokrat lebih mirip realitas perkoncoan sekelompok elit yang ingin berkuasa dengan membokongi kenyataan politik (programatik) Indonesia dengan segala problematikanya, terlebih paska transisi 1998, dimana masyarakat Indonesia mendambakan kehidupan yang lebih baik setelah kediktatoran Soeharto (Orde baru).

Galau dengan Survei

Pemilu tentunya bukan barang baru dalam realitas politik di Indonesia. Pemilu sudah ada sejak tahun 1955 dengan puluhan Partai Politik. Tentunya partai-partai terdahulu (1955) tidak pernah risau akan hasil survei, karena memang belum ada lembaga survei pada masa itu. Namun, sepertinya Parpol-Parpol terdahulu faham betul bahwa politik adalah satu kesatuan tindakan yang terorganisir dalam memenangkan perebutan kekuasaan (pemilu) dan menggunakan kekuasaan tersebut untuk mewujudkan cita-cita politik partainya. Berangkat dari kesadaran tersebut, Partai Politik menghimpun basis pendukungnya dalam wadah-wadah politik partai, baik di struktur partai maupun organisasi pendukung partai (underbouw).

Kita tahu tahun 1955 adalah masa polarisasi politik dikalangan akar rumpun. Realitas tersebut membuktikan bahwa kesadaran politik masyarakat sangat tinggi meskipun persoalan baca tulis masih menjadi yang utama. Ada pendidikan politik yang kuat tentunya, baik melalui kursus-kursus lisan, ataupun pagelaran budaya yang sarat akan politik partai dan cita-cita partai. Lekra misalnya, lembaga kebudayaan yang berafiliasi dengan PKI ini ambil bagian dalam memperkenalkan politik partainya dalam serangkaian kegiatan seni dan budaya, begitu juga LKN yang berafiliasi dengan PNI.

Dengan pendidikan politik yang baik dan kesadaran politik yang tinggi, basis dukungan partai dapat diukur. Mereka tidak pernah khawatir akan hasil survei manapun karena mesin dan perangkat politik partainya bekerja sehari-hari, ada atau tidak ada pemilu sekalipun. Kesetiaan politik tersebut bisa saja masih melekat sampai hari ini. Kita tahu masih banyak yang mengaku simpatisan Masyumi, PNI bahkan PKI.

Kemenangan Demokrat tentunya bukan berbasis pada kesadaran politik rakyat yang tinggi seperti kemenangan PNI dimasa lalu. Kemenangan Demokrat pada pemilu 2004 adalah buah dari ekspektasi rakyat yang mendambakan perubahan namun buta sejarah dan gelap politik, sehingga emosi lebih dominan memimpin nalar logika mereka. Ini akibat depolitisasi selama 32 tahun kekuasaan Soeharto.

SBY nyaris tidak punya program Ekonomi konsentrasi seperti Repelita di jaman ORBA. Akhirnya perekonomian diserahkan pada pasar bebas dan Indonesia jatuh menjadi sumber pasar, sumber tenaga kerja murah dan sumber bahan baku oleh kekuatan modal asing. SBY tidak mampu membuat bangsa yang besar ini menjadi mandiri dan berdikari seperti yang diamanatkan oleh para pendiri dan pejuang kemerdekaan. SBY tidak punya sikap atas penjajahan modal didalam negeri, tak punya sikap atas penggusuran tanah oleh korporasi modal asing, tak punya sikap dengan politik upah murah, tak punya sikap atas monopoli kekayaan alam oleh asing dll. Namun rakyat yang buta sejarah seperti tak melihat korelasi modal asing dengan kemiskinan yang mereka alami secara berkepanjangan.

Terobosan baru yang dipraktekkan SBY adalah Pemberantasan Korupsi melalui badan yang dibentuknya sendiri, yakni Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Selain digunakan untuk melibas lawan-lawan politiknya yang korup, SBY juga menjadikan isu pemerintahan bersih sebagai dagangan politiknya. Tentu saja pemerintahan bersih juga hal yang paling ditunggu-tunggu oleh investor asing, yang sering kali mengeluh karena banyaknya pungli oleh pejabat-pejabat pemerintahan. Namun ironis, pelaku korupsi yang tertangkap adalah orang-orang disekeliling SBY sendiri, baik pengurus teras Partai Demokrat maupun pejabat tinggi pemerintahannya. Yang terbaru justru mengaitkan keterlibatan sang ketua umum Anas Urbaningrum dalam kasus korupsi besar Hambalang.

Lembaga Survei Saiful Mujani (SMRC) pun mengumumkan elektabilitas Demokrat yang merosot, sontak membuat panik para petinggi Partai Demokrat termasuk SBY (utamanya kubu Cikeas). Kepanikan tersebut justru sangat apolitis dan ahistory. Anas Urbaningrum menjadi satu-satunya pihak yang dipersalahkan tanpa melihat sejarah. ”Demi menyelamatkan Partai” adalah keyakinan kolektif kubu Cikeas yang berharap survei Partainya bisa meningkat setelah menghakimi Anas. Sungguh sangat apriori.

SBY sebagai Figur adalah Sebab Awal dan Akhir

Awal dan akhir, Alpha dan Omega. Partai yang berawal dari Figur akan berakhir dengan figur juga. Sesuati yang dimulai dengan niat yang keliru akan berakhir dengan kegagalan yang sempurna. Sangat benar adanya kalimat ini:”Semua berawal dari Niat”

Hasil survei SMRC adalah bagian dari realitas politik. Galau menghadapi survei adalah bukti dari kegagalan Demokrat menjadi Partai Politik. SBY gagal menempatkan realitas politik yang menimpa partainya dengan jalan keluar yang justru apriori dan dapat menuai serangan balik.

Kasus korupsi yang melibatkan petinggi-petinggi Demokrat bermuara pada Cost Politik yang tinggi. Tertangkapnya Nazaruddin, Angelina Sondakh, Andi Malarangeng, dan kasus lain yang booming sebelumnya yakni Century yang melibatkan Sri Mulyani dan Budiono juga terkait masalah pembiayaan politik 2009. Sindikat ini seperti bekerja untuk memenuhi Cost yang tinggi. Yayasan yang dikelola oleh keluarga Cikeas (Baca Gurita Cikeas/George Adi Tjondro) juga disinyalir memberikan kontribusi yang besar bagi pemenangan SBY.

Sejak awal periode ke 2 pemerintahan SBY, kasus korupsi yang menimpa petinggi Demokrat selalu dikaitkan dengan pembiayaan pemenangan Partai Demokrat. Sejak awal periode kedua, kasus korupsi memang lebih dominan dikaitkan sebagai kegagalan pemerintahan SBY, yang gagal mewujudkan Pemerintahan Bersih, dan sebaliknya malah tersandung kasus korupsi.

Dengan mengorbankan Anas, SBY sepertinya ingin membuktikan bahwa dia dan kubu Cikeas adalah kubu yang bersih dari korupsi dan tak ingin partainya tercemar oleh kader-kader yang korup (kader yang sudah tertangkap adalah orang-orang dekatnya Anas).

SBY mungkin berpandangan bahwa kemerosotan Demokrat lebih didasari pada kasus korupsi yang menimpa petinggi-petinggi partainya. SBY ingin membokongi realitas kegagalan pemerintahannya sebagai penyebab utama merosotnya kepercayaan rakyat kepada partai penguasa itu.

Jika saja benar bahwa uang hasil korupsi para petinggi Demokrat itu digunakan juga sebagai dana kolektif pemenangan Pemilu Demokrat ditahun 2009, maka SBY sedang menggali kuburan Partai Demokrat sendiri.





 

Pernyataan Sikap: Hentikan Kriminalisasi Aktivis & Petani! Tegakkan Pasal 33 UUD 1945!

Aparat kepolisian kembali merepresif perjuangan petani. Sebanyak 29 petani asal Pulau Padang, Bengkalis, Riau, dijadikan target kriminalisasi. Salahsatu aktivis petani, Muhamad Ridwan, ditangkap aparat kepolisian dengan tuduhan pasal-pasal karet (Penghasutan: Pasal 160 dan 163 KUHP, serta 355 KUHP).
Praktek kriminalisasi perjuangan petani ini sekaligus menambah daftar konflik agraria di Indonesia. Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA) menyebutkan, selama 8 tahun Pemerintahan SBY berkuasa, tidak kurang dari 618 konflik agraria yang meletus: sebanyak 941 orang dipenjarakan, 459 luka-luka terkena peluru aparat, serta 44 orang tewas.
Selain itu, Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) juga mencatat sebanyak 7000 konflik agraria di Indonesia berpotensi meletus. Daftar konflik agraria tersebut, terus akan bertambah sepajang politik agraria kita masih bercorak kolonialistik dengan ciri sebagai berikut:
Pertama, cara negara dalam mengelolah tanah menyingkirkan rakyat dari proses penguasaan dan pemanfaatan tanah tersebut. Cara yang sama dilakukan Pemerintah Kolonial Belanda dengan merampas tanah rakyat atas nama Undang-undang (Agraris Wet) 1870.
Akhir-akhir ini, lahir berbagai regulasi yang serupa Agraris Wet untuk melegalisir perampasan tanah milik rakyat, misalnya: Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan; Undang-Undang Nomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal Asing; Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan; dan UU Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah.
Semua produk Undang-Undang tersebut gagal menciptakan keadilan agraria atau keadilan sosial yang menjamin kebutuhan rakyat atas tanah. Sebaliknya, regulasi yang berwatak kolonial tersebut memberikan ruang kriminalisasiterhadap perjuangan petani; atau membolak-balik logika perjuangan atas tanah yang seharusnya mulia (benar), menjadi tercela (kriminal).
Kedua, posisi rakyat tidak pernah setara di depan hukum. Dari berbagai pasal yang ada di dalam sejumlah UU tersebut, justru hanya untuk mengkriminalisasi perjuangan petani. Semenara pihak perusahaan mendapat perlindungan hukum sekalipun mereka menggunakan praktek kekerasan: penembakan, pemabakaran rumah, penggusuran, dan sebagainya yang mengorbankan rakyat.
Pemerintah selalu menempatkan rakyat disudut yang bersalah. Ketika protes petani digelar, maka pengusaha dan pemerintah, serta aparat keamanan mencapnya sebagai aksi gangguan stabilitas (civil disturbances) atas jalannya investasi.
Cara-cara aparat keamanan dalam menyelesaikan konflik-konflik agraria sejak Orba tidak berubah, tindakan represif selalu dibenarkan atas nama Undang-Undang, dengan pasal-pasal karet (haatzai artikelen) petani dipaksa tunduk kepada kepentingan pemodal.
Ketiga, Cara pandang negara dalam pengelolaan tanah sangat berorientasi profit dan pro modal asing. Padahal, jika merujuk kepada pasal 33 UUD 1945, penggunaan tanah di Indonesia mestinya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Bukti bahwa tata-kelola tanah di Indonesia sangat pro-pebisnis besar adalah; dari 200-an Juta Hektar luas daratan Indonesia, 70 persen adalah sektor kehutanan yang sebagian besar habis diprivatisasi atau diserahkan kepada pemodal asing/dan swasta.
Inkonsisteni pemerintah terhadap konstitusi bukan saja menyebabkan konflik agraria terjadi dimana-mana, tetapi juga penyalahgunaan kekuasaan dan bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat, yang haknya dijamin oleh konstitusi.
Penangkapan terhadap aktivis dan petani yang sedang berjuang mempertahankan haknya, seperti di Pulau Padang (Riau), di Blitar (Jawa Timur), di Betung (Sumatera Selatan), atau di daerah lainnya,  merupakan bentuk kriminalisasi terhadap perjuangan rakyat. Tak ubahnya seperti kekuasaan kolonial tempo dulu yang memandang perjuangan rakyat untuk keadilan sebagai pemberontak, ekstrimis, provokator, dan berbagai stempel sejenis lain.
Karena itu, Partai Rakyat Demokratik menyampaikan sikap sebagai berikut:
  1. Menuntut kepada pemerintah untuk konsisten dan setia menjalankan amanat konstitusi khususnya: Pasal 33 UUD 1945, dan melaksanakan UU Pokok Agraria (UUPA) tahun 1960.
  2. Mengecam tindakan represif aparat dan menuntut penghentian kriminalisasi seluruh perjuangan petani.
  3. Menuntut pembebasan Sdr. Muhamd Ridwan, aktivis Partai Rakyat Demokratik oleh Polres Bengkalis, Riau.
Demikian pernyataan sikap ini kami buat. Atas solidaritas dan pembelaan pada rakyat, kami mengucapkan terimaksih.
Jakarta, 5 Februari 2013
Hormat Kami
Agus Jabo Priyono
Ketua Umum PRD
 

Profil Singkat



Saya lahir di Medan, 25 Agustus 1985, anak pertama dari 6 bersaudara. Sadar akan gemar menulis sejak usia 9 tahun, berawal dari kegemaran mengerjakan karangan bebas (essay) pada setiap tugas ataupun ujian pelajaran Bahasa Indonesia. Sejak saat itu saya sering menulis apa saja yang pernah saya alami, misalkan wisata bersama keluarga, tentang harapan, perkawanan dan lain sebagainya.

Memasuki SMP, saya hijrah ke kota kecil Pariaman, Sumatera Barat. Mendaftar di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Pariaman. Tak lama waktu yang saya butuhkan untuk menyesuaikan diri, terutama bahasa daerah dan kebiasaan-kebiasaan masyarkat setempat. Meski kental berdarah Minang, tapi saya tak dibesarkan di Ranah Minang. Ditempat ini saya belajar kemandirian, sesekali bekerja mencari duit buat jajan sebagai buruh tani musiman (musim panen). Saya tinggal bersama nenek, mereka adalah golongan petani kecil dengan kepemilikan lahan yang sangat kecil.

Disini mayoritas lahan dimiliki bersama dan diolah dengan sistem kekerabatan. Tak ada yang boleh menjualnya. Kebijakan tertinggi atas tanah diurus oleh Ninik Mamak.

Setahun setelah itu saya dijemput Ibu, dan kembali pindah ke Kota kelahiran. Saya sekolah di SMP Negeri 11 Medan. Awal mula berkenalan dengan kenakalan remaja, seperti menghisap rokok dan berkelahi. Untung saja tak sampai berkenalan dengan Narkoba. Saat-saat ini juga saya lepas kontrol dari kedua orang tua, yang hijrah ke Jakarta untuk memulai usaha barunya. Keluarga kami terpisah di tiga tempat, saya dan adik nomor dua berada di Medan, dua lagi di Pariaman dan sisanya ikut ke Jakarta.

Tahun 2000 saya masuk ke sekolah swasta Dharmawangsa. Memiliki banyak teman, dan beberapa diantaranya adalah sahabat-sahabat yang memiliki keunikan dan keahlian sendiri-sendiri. Satu kemiripan adalah kegemaran bertukar pikiran.

Sejak tahun ini juga saya mulai menyeriusi dunia musik Metal, dengan membentuk Band Gothic Metal bernama Angel Of Darkness yang sukses melahirkan 3 buah lagu. Namun sayang, band ini tak bertahan lama, hingga akhirnya saya direkrut oleh Band Death Metal bernama Death Phenomenon sebagai Gitaris.

Saya pernah berpikir untuk tidak lagi menekuni ilmu pengetahuan lain selain seni musik. Sejak SMP keinginan meneruskan bakat musik memang tak mudah, selalu mendapat tentangan dari oraang tua. Akhirnya sang Anak juga yang harus mengalah. Tahun 2003 saya tamat dari Dharmawangsa dan memutuskan Ujian SPMB untuk masuk ke USU. Sumpah, saya sebenarnya berharap pilihan kedua dari 2 pilihan yanmg saya ambil, yakni Ilmu Sejarah dan Etnomusikologi. Namun sayang, pilihan pertama berjodoh dengan saya.

Tak sulit memang beradaptasi pada disiplin ilmu ini karena memang saya menyukai pelajaran Sejarah. Namun tetap saja saya menjalaninya dengan setengah hati. Hingga menjelang akhir tahun 2004 saya memutuskan untuk keluar dari Band, dan memutuskan konsentrasi penuh pada ilmu ini (diam-diam ilmu sejarah berhasil mencuri hati saya).
Pada masa-masa awal kuliah saya bergabung disebuah kelompok studi mahasiswa bernama Gerakan Mahasiswa Pro Demokrasi (GEMA PRODEM), sebuah kelompok studi kritis yang mengangkat nilai-nilai demokrasi, kesetaraan, dan persaudaraan. Saya mulai terlibat dalam pengorganisiran kampus dan mobilisasi massa aksi. Ada beberapa yang saya ingat, seperti mobilisasi menolak kenaikan SPP, menolak BHMN, dan bersatu pada aksi-aksi rakyat lainnya seperti peringatan 27 Juli, Hari Buruh Internasional, Hari HAM, Hari Perempuan, Hari Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda dll.

Hingga pada titik puncak keresahan anak muda yang melawan apa saja yang membelenggunya pun ikut pula saya hadapi. Saya keluar dari USU dan memilih bergabung dengan gerakan rakyat, tepatnya di akhir tahun 2005, bergabung bersama Serikat Tani Nasional (STN) Deli Serdang. Masa-masa ini saya jalani dengan hidup berpindah-pindah, dari desa ke desa, berjuang dan membangun organisasi massa tani dengan beberapa kader Partai Rakyat Demokratik (PRD) Sumatera Utara. Hingga setahun kemudian, saya dilantik menjadi Kader PRD, dengan tugas memimpin organisasi tani di Sumatera Utara.

Politik Intervensi Pemilu (2007) memaksa saya kembali ke Medan dengan menjadi pengurus Partai Persatuan Pembebasan Nasional (PAPERNAS), sebuah partai yang dibangun oleh beberapa organisasi massa yang memandang bahwa arena pemilu harus diintervensi oleh kaum pergerakan. Saya terpilih sebagai Ketua Departemen Pendidikan dan Kaderisasi Sumatera Utara.

Malang, Papernas tak diberi kesempatan oleh rezim neoliberal SBY, ditandai dengan penyerangan merata dimana-mana. Tahun 2008, perubahan besar di internal terjadi, Perdebatan panjang dibuka, dan memutuskan penilaian bahwa PAPERNAS tak mungkin bisa memenuhi persyaratan berat sebagai peserta pemilu 2009 dibawah teknan dan intimidasi. Pilihannya kemudian jatuh pada berkoalisi dengan PBR yang dipimpin oleh Burzah Zarnubi.

Ini lah babak perpecahan. Suara kader dan pengurus di Sumatera Utara pecah antara setuju dan tidak setuju dengan pilihan koalisi, hingga puncaknya adalah split. Saya memilih setia pada keputusan yang telah diambil secara demokratis, penuh pertimbangan dan berdasarkan suara terbanyak.

Koalisi pun terbina dengan baik. Tahun 2008 saya pindah ke Siantar untuk menjadi pengurus di partai koalisi, menjadi wakit ketua di DPC PBR kota Siantar. Tahun 2009 Partai memutuskan saya maju menjadi Caleg kota Siantar bersama kawan-kawan lainnya di daerah pemilihan yang berbeda.

Caleg-Caleg PRD ini pun kemudian membuat sejarah baru dalam kampanye Pemilu kontemporer, dengan memilih taktik kampanye turun ke bawah, melakukan long march ke kampung-kampung terpelosok, berjalan mengelilingi kota Siantar dan Simalungun dengan berjalan kaki, membawa selebaran, dan berdiskusi langsung kepada rakyat pemilih. Kami mengusung program mendesak, demokratisasi dan kesejahteraan. Namun sayang, kami memang tak cukup syarat untuk menang.
Tahun 2009 paska pemilu saya ditarik ke Medan, dan untuk kembali memimpin teritori wilayah. Konfrensi wilayah tahun 2010, saya terpilih menjadi ketua PRD Sumatera Utara periode 2010 – 2015.

Saat ini selain aktif di PRD, saya juga mencoba menekuni kembali kegiatan menulis di blog. Saya juga melakoni dunia marketing sebagai pertahanan diri (ekonomi) dengan menjadi marketing asuransi di Avrist Assurance.


Kontak Saya

Mobile 0857 6319 071 – 0852 9957 7640
Fb        : Randy Syahrizal
Twitter : @Randy Syahrizal

 

Surat untuk Fina

Fina. Nama mu bagus sekali. Aku mengira bahwa jatuh cinta adalah lelucon buatku. Apa lagi sampai mencintaimu, tidak mungkin rasanya. Ada baiknya rasa kagum ini hanya kusimpan didalam hati. Menikmatinya sendiri barangkali sudah lebih dari cukup. Aku tak berani mengutarakannya. Aku takut kehilangan banyak waktuku hanya untuk mengumbar sayang bersama mu. Itupun jika kau mau menerima ku. Tapi sudahlah, aku sudah putuskan untuk tidak melanjutkannya.

Aku adalah makhluk iseng yang sangat rajin memantau hari-hari mu. Meski sedang berdiskusi pun, pandanganku tak kubiarkan lupa melirikmu. Mungkin ini lah sedikit kebahagiaan yang masih kupunya.

Aku sering membayangkan bahwa kau bisa berjalan bersamaku disetiap waktu, bahkan disaat-saat paling terik dan lelah sekalipun. Aku pernah membayangkan betapa tidak terasanya lelah berjalan kaki saat longmarch menuju kantor gubernur dan gedung dewan, jika tanganku menggenggam tanganmu. Lalu kita bersama-sama meneriakkan yel-yel dan tuntutan. Aku tahu ini sangat sulit, terutama bagimu, seorang anak Pejabat Esselon II.

Fina, mungkin kau masih ingat saat kakimu bergetar dan rasa cemas hinggap di kepala mu, saat itu mobil orang tua mu sedang melintasi barisan massa aksi dan melihatmu tengah mengepalkan tangan kiri dan meninjunya ke awan. Saat itu juga telepon genggam di saku mu berdering, dan kau takut untuk menerimanya. Karena panggilan itu kau tolak, orang tua mu kemudian mengirim pesan singkat. Kalau aku tidak salah ingat, kira-kira isinya begini “ngapain kamu disitu? Kenapa tidak kuliah?”

Saat itu juga kamu langsung panik, dan bertanya padaku bagaimana kalimat yang baik untuk menjelaskannya kepada orang tua mu. Aku hanya menjawab senyum, kemudian aku katakana kepada mu, hal itu juga aku alami. Aku sendiri hanya menjawab ringan. Aku bilang pada orang tua ku, bahwa aksi demo adalah tradisi mahasiswa. Cukup sederhana bukan..? waktu itu aku malas menjawab dengan panjang lebar. Aku tahu orang tua ku tidak begitu peduli dengan aktifitas ku. Mereka lebih pusing memikirkan cara-cara bertahan hidup dihari-hari esok dan masa-masa mendatang. Untuk kesulitan hidup dimasa pemerintahan kita yang pro pasar bebas, orang tua ku lebih menaruh harapan pada demo-demo mahasiswa.

Aku tak ingat persis alasan mu bergabung dalam gerakan mahasiswa. Tapi yang aku ingat, bacaan-bacaan kritis mulai digemari mahasiswa saat itu. Dikantin-kantin selalu aja ada beberapa mahasiswa yang selalu berdiskusi mengenai persoalan-persoalan rakyat. Wacana-wawacana kritis begitu menghegemoni pemikiran mahasiswa dikampus kita, meskipun jumlahnya masih sangat minoritas. Tapi jika aku ingat-ingat seluk beluk tentang dirimu, paling tidak, kau lebih beruntung dalam banyak hal dibanding aku. Kau lahir dalam keluarga yang berkecukupan, punya fasilitas belajar yang baik, punya laptop, punya uang buat beli buku-buku terbaru, punya uang buat makan teratur meski kau sedang diluar rumah, dan punya banyak teman yang selalu mengingatkanmu untuk tetap fokus menyelesaikan kuliah. Untuk semua hal yang aku sebut diatas, aku patut cemburu.

Tahun 2006 aku berangkat ke kota Yogyakarta. Waktu itu aku sudah berjanji membantu pengerjaan skripsi mu. Aku tahu bahwa tidak ada kepastian kapan aku pulang, dan kau juga sadar betul tentang itu. Kau sempat marah pada ku dan memintaku untuk menjanjikan batas waktu. Tapi kau juga harus tahu, bahwa untuk memastikan itu, aku sungguh tidak mampu. Aku hanya sanggup berjanji akan menjadi teman diskusimu melalui telepon. Dan kita pun menyepakatinya.

Saat itu, waktu mendekatkan kita, mempererat kebersamaan kita. Waktu telah mengijinkan aku mengenalmu lebih jauh disebuah desa, saat kita sama-sama bertugas mengorganisir perjuangan sengketa tanah antara petani dan perusahaan asing. Aku ingat betul, kita bisa begitu dekat sekaligus bisa begitu sangat jauh. Dan waktu memperkenalkan kita akan kerinduan, sesuatu yang sangat indah untuk selalu di ingat.

Tiga bulan kemudian aku kembali menemuimu. Dan seperti dugaanku sebelumnya, kau pasti sanggup menyelesaikan penelitianmu dengan baik. Saat-saat tiga bulan, kita melaluinya dengan komunikasi yang terkadang datar dan kaku. Kau selalu membuka percakapan tentang tema skripsi, dan terkadang kita tak jarang berselisih pendapat. Tapi itu sangat berkesan buatku.

Dua jam yang lalu, aku kirim pesan singkat “semoga aku bisa menemuimu 3 jam mendatang” dan kau langsung menelpon ku. Kau bilang kabar itu adalah hal yang menggembirakan, dank au berjanji menjemputku di bandara. Untuk kemurahan hatimu aku ucapkan terima kasih.

Aku sangat terkesan bisa bertemu kau pertama sekali di kota kita, dank au benar-benar menepati janjimu. Kau tersenyum, dan aku membalas seadanya. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menganggap pertemuan itu adalah pertemuan yang biasa, yakni pertemuan antara kawan dengan kawan, meski secara jujur aku sangat senang dengan momen itu. Pelan-pelan aku mulai jatuh hati kepada mu. Tapi beberapa alasan kemudian masuk ke kepalaku untuk menghilangkan rasa ketertarikan itu.

“Kau kenapa..? kau sakit..? kenapa makin pucat..?”

Tiga pertanyaan yang saling berhubungan itu masih tersimpan baik di memori kepalaku. Aku jawab, “ah gak apa-apa kok.” Setelah menjawab pertanyaan itu, aku hanya diam. Sebenarnya aku berharap kau bertanya terus tentang apa pun . P aling tidak, aku ingin sekali kau rewel di hari itu. Dan benar saja, kau bertanya lagi.

“Kau kenapa sih..? kok diam terus..? kayak baru kenal aja..”

Aku tahu kita sudah saling kenal. Tapi aku baru sadar untuk tidak lagi mengenalmu secara biasa. Karena alasan itu lah aku gugup. Tapi alasan ini tidak aku ceritakan kepadamu saat itu. Waktu itu aku hanya menjawab “aku lapar..” dengan alasan itu kami pun berjalan menuju rumah makan.

Hari itu tanggal 12 Februari. Keesokan harinya aku sudah harus pergi ke Tarutung, sebuah kota kecil di Tapanuli Utara. Makanan yang terhidang sudah aku habiskan. Aku ingin memesan kopi panas.

Sementara kau membuka lagi percakapan soal skripsi. Aku kaget. Ternyata kau merubah judul skripsinya. Tema sebelumnya tentang keterwakilan perempuan dalam pemilu diganti dengan sengketa tanah di desa tempat kita bertugas. Awalnya aku sempat berpikir bahwa kau menyerah dengan tema sebelumnya, dan mencari jalan singkat dengan merubah judul. Pastinya sangat mudah bagimu menguraikan tema sengketa tanah, karena banyak data dan banyak orang yang dapat kau gali informasinya sebanyak mungkin. Tapi ternyata aku salah.

Satu jam kemudian kita pisah. Kau pulang kerumah dan aku ke sekretariat menemui kawan-kawan yang juga sudah menunggu dari tadi. Hari sudah malam rupanya. Sebelum tidur, kau masih sempat mengirim pesan singkat untuk membuat janji ketemu lagi esok hari. Dan aku setujui.
 

Pelecehan Muncul Karena Keinginan Konsumsi Jauh diatas Kemampuan Produksi

Dan ini adalah cerita singkat, sederhana, tentang konsumsi melebihi tingkat produksi.
Salam, Randy Syahrizal 

Ah, hujan tak kunjung reda rupanya. Aku tak bisa beranjak dari tempat ini. Butuh beberpa waktu lagi menunggu sampai reda. Aku coba bertahan saja. Aku tahan kebosanan dan aku coba hiraukan suara-suara usil itu. Tapi semakin aku bertahan berdiam, suara itu semakin gencar. Bahkan tak kenal menyerah. Selalu saja merayuku untuk menyebut nama. Andaikan aku sebut, apa lagi yang dimintanya..? apa harus aku ladeni orang itu..?

Jujur aku tak punya banyak waktu untuk hal ini. Tapi aku tak punya pilihan. Aku mulai berpikir bahwa kebisingan ini akan selesai jika aku ladeni. Baiklah, aku coba untuk meladeninya.

“Sombong amat sih, namanya siapa..?” ujar salah seorang pria dari ketiga pria yang duduk dibelakangku.

Dengan berat hati aku jawab juga,

“Nia..” kataku.

“Mau kemana Nia..? Mau dianterin gak..? abang bawa mobil tuh..” sambung lelaki itu.

Benar dugaanku, kebisingan ini tak berhenti sebatas nama. Ini sudah terlanjur, terpaksa aku teruskan menjawabnya. Jujur, aku sudah ketakutan. Hanya ada kami berempat di warung kopi itu.


“Mau pulang..” jawabku singkat.

“Diantar ya..”

“Gak usah, trima kasih” sambil melempar senyum kecil.

“Wah senyumnya manis.” Celetuk dari pria disebelahnya.

Aku mulai merasa tak nyaman. Aku teringat kisah teman kos ku yang tak sengaja melihat kamar kos tetanggnya milik mahasiswa yang mempermainkan kelaminnya karena melihat tontonan porno. Aku lantas teringat perkataan temanku bahwa lelaki bisa terangsang lewat pandangan. Astaga, aku kaget. Jangan-jangan ada yang salah dengan dandananku. Kali ini aku semakin tak nyaman, dan aku putuskan bergegas menuju toilet.

Aku bercermin dan memperhatikan pakaiannku. Aku pikir cukup sopan. Aku memakai kemeja lengan panjang berwarna putih dan rok hitam panjangnya sedengkul. Rambutku terikat, dan bagiku tak ada yang aneh. Tapi kenapa komplotan pria itu melihatku seperti mangsa..?

Aku bekerja sebagai pengantar minuman disebuah karaoke keluarga. Aku cukup tahu menjaga kesopanan. Aku lulusan SMK Pariwisata, tak punya biaya buat melanjutkan kuliah. Bagiku kerja adalah mulia. Manusia yang baik adalah manusia yang bekerja, karena dengan kerja, kemanusiaannya akan terbentuk.

Aku adalah pekerja, menggunakan tenaga dan pikiran, setidaknya selalu berpikir ramah kepada semua pelanggan, meskipun ada diantara mereka yang kurang ajar sekalipun. Itulah kerja ku, dan aku di program untuk menjadi makhluk paling ramah. Ini kulakukan karena kepatuhanku pada atasan, karena dia selalu bilang kepada kami bahwa keramahan adalah kunci kesuksesan usaha ditempatku bekerja.

Aku kembali tak menghiraukan lagi ocehan lelaki-lelaki itu. Semakin lama ocehannya semakin keji. Semakin membuatku telanjang dihadapan mereka. Meskipun terdengar bisik-bisik, tapi sangat jelas ditelingaku. Mereka sedang membahasku seperti yang ada di tontonan porno. Wah, keterlaluan. Aku harus pergi dari tempat ini.

Aku pergi ke meja kasir dan membayar minumanku. Seorang yang banyak bicara dari tadi menghampiriku dan..

“Mau pulang..? kan masih hujan..”

Aku diam saja. Dan bergegas pergi, tapi lelaki itu menarik tanganku. Dia meminta akan mengantarku. Aku tidak mau dan menarik keras tanganku dari pegangan tangannya. Aku tak terima diperlakukan begitu. Karena menurutku ini pelecahan, aku balik dan menatapnya tajam..

“Ku peringatkan kau, jangan kurang aja kepada wanita.” Lelaki itu hanya membalas dengan senyuman.

“Aku hanya ingin menolong.” Bela lelaki itu.

“Aku sudah bilang, aku bisa pulang sendiri.” Aku langsung membuang wajahku dari depan wajahnya dan berbalik badan menuju bibir jalan. Aku tak perduli hujan membasahi tubuhku, niatku hanya satu, cepat-cepat pergi dari ocehan-ocehan itu.

“Wah, transparan cuy..bulat bener..hahahhahahha” lelaki yang banyak bicara itu kembali melontarkan ocehannya.

Astaga, bajuku tembus pandang karena tersiram hujan. Aku panggil becak dan bergegas pulang.

Tiba lah aku di kamar kecil yang aku sewa untuk hidup di kota Medan. Aku berpapasan dengan Meli, tetanggaku.

“Mandi hujan dimana..?” sambil terssenyum sedikit mengejekku.

“Kehujanan dijalan, tadinya berteduh diwarung kopi depan karaoke.”

“Warung kopi yang besar atau yang kecil..? Tanya Meli kembali.

“Yang besar.”

“Oh, tempat nongkrongnya Tubang (Tua Bangka/Lelaki berumur mata keranjang).”

“Oh ya, aku gak tau. Pantesan tadi ada 3 orang laki-laki melihatku seperti mangsa.”

“Mereka berani bayar mahal tuh.”

“Maksudnya..?” tanyaku memperjelas.

“Yah anak-anak kalau gak sanggup bayar hutang larinya juga kesitu. Mereka mau melunasi hutang dengan imbalan temani dia semalam.”

“Najis. Aku gak tipe kayak gitu.”

“Syukur lah..” kata Meli singkat.

Aku membilas rambut dan bergegas menuju kamar. Didalam kamar, aku masih saja kepikiran kata-kata Meli barusan. Aku teringat Rahel, gadis kecil di depan kamarku. Umurnya 17 belas tahun, dan masih sekolah. Gaya hidupnya persis artis, semua hal ingin dibeli, dari yang aku tau fungsinya sampai yang aku tak tahu lagi apa kegunaannya. Dia selalu tunjukkan barang-barangnya padaku. Dan dia selalu mengaku dikirim oleh Om nya di luar kota.

            ”Apa jangan-jangan Rahel..?” Ah sudahlah, semoga dia tak sama seperti remaja lainnya yang besar keinginannya tapi tak tahu bagaimana cara mencarinya.
 

Soal Logika Formal dari Sudut Pandang yang Ringan


Saya melihat berita di TV bahwa sebanyak 65 Punker’s di provinsi Nanggroe Aceh Darusallam ditangkap dan digunduli paksa oleh polisi syariat.

Asumsi penangkapan itu adalah kekhawatiran berlebih oleh polisi syariat yang khawatir merebaknya ajaran sesat atau pencemaran dan penodaan agama Islam. Saya pribadi patut heran ketika mendengar alasan penangkapan tersebut lebih didasari oleh ketidaknyamanan polisi syariat dengan gaya dan penampilan Punkers yang urakan, yang kemudian menyeret praduga kriminal (kecendrungan pelaku kriminal) didalam kepala polisi-polisi tersebut. 

Paling tidak, peristiwa tersebut menyimpulkan paradigma formal yang kaku, bahwa penampilan yang tak rapi (urakan) adalah cerminan dari pelaku kriminal, dan sebaliknya penampilan rapi selalu jauh dari kecurigaan tindakan kriminal. Kesimpulan formalis ini lebih didasarkan pada penampakan “penampilan seseorang” sangat menentukan penilaian kepribadian seseorang, baik atau buruk. Lebih jauh lagi, penilaian akan penampilan juga bisa berakar pada pengelompokan masyarakat pada klas-klas sosial. 

Seseorang dengan penampilan yang kumal, bisa dengan sangat mudah disimpulkan sebagai pekerja kasar dan sebaliknya penampilan rapi adalah cerminan pekerja otak. Pekerja kasar yang berpenampilan kumal lebih pantas diwaspadai melakukan tindakan kriminal (mencuri), dengan asumsi bahwa dia (pekerja kasar) tentu sangat sulit memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari hanya dengan mengandalkan upah rendah, dan sebaliknya pekerja otak pastilah jauh dari asumsi “pencuri” dikarenakan penampakannya yang bersih serta merta membawa aura positif terhadap dirinya. Lagi-lagi hal ini juga memperlihatkan kepada kita betapa kacaunya pola piker masyarakat kita yang selama puluhan tahun dijejali oleh hegemoni-hegemoni logika formal yang sangat sesat.  

Era Kolonial
Penjajah selalu datang dengan penampilan terbaik, dengan baju yang terjahit dari bahan-bahan terbaik, perhiasan yang berkilau, dan kapal pesiar yang besar. Sedangkan masyarakat jajahan selalu berpenampilan kumal,tradisional, bahkan jika film-film sejarah perjuangan bangsa dapat mewakili visualisasi zaman penjajahan kolonial, kita bisa dengan sangat jelas melihat bagaimana masyarakat jajahan (pribumi) ditampilkan dengan sangat sederhana, bahkan tidak memakai alas kaki. 

 Raja-raja diwilayah Nusantara yang juga berpenampilan menarik, umumnya tidak menaruh curiga pada tuan-tuan eropa tersebut. Dalam beberapa kasus kontemporer, saya juga sering berpikiran bahwa seseorang yang berpenampilan baik dan rapi sering kali menghilangkan kewaspadaan saya akan asumsi-asumsi jahat pada dirinya. Barangkali, perasaan yang sama juga dirasakan oleh Raja-raja di Nusantara dahulu kala. Mereka menerima dengan baik tuan-tuan eropa, selayaknya saudara (segolongan) yang harus disambut istimewa. Barangkali tidak ada yang menyangka bahwa tahun-tahun berikutnya berbuah malapetaka massal yang berkepanjangan.  

Paska Kolonial 

Sejak pakaian menjadi kebutuhan primer manusia, dan telah dipatenkan sebagai produk kebudayaan masyarakat modern yang paling penting, pakaian kemudian menjadi industri pesat dengan tingkat inovasi yang padat. Tak terkecuali di Indonesia. Sebelum dan sesudah kemerdekaan, pakaian dapat mewakili akar kelas seseorang, apakah dia ningrat atau birokrat, atau usahawan atau petani dan buruh pabrik, dan atau tuna wisma sekali pun. 

Singkatnya, jenis dan cara seseorang berpakaian dapat mengundang asumsi yang melihat akan keberadaan klas-nya. Dalam logika ekonomi-politik, saya pikir ini masuk akal. Bagaimanapun, seorang petani tak mungkin menganggap pakaian ala birokrat sebagai kebutuhan pokok bagi dirinya. Namun jika dipakai untuk menyimpulkan penilaian baik-buruknya seseorang (criminal ukurannya) akan menjadi masalah yang laten. Masalah ini masuk ke persoalan serius, karena dia sudah menjadi “mindset” masyarakat berkelas. 

Randy Syahrizal, penulis adalah Kader PRD Sumatera Utara
 

Memajukan Gerakan Pasal 33 UUD 1945 Dalam Memimpin Gerakan Pengembalian Kekayaan Alam


Tahun-tahun sekarang ini adalah tahun kemenangan Neoliberalisme. Setelah sukses dalam konsolidasi besar meneguhkan kepemimpinan Neolin di Indonesia selama 2 periode, Neoliberalisme semakin mapan di Bumi Pertiwi. Hampir tidak ada lagi paket kebijakan Negara yang dapat menghempang jalan dan beroperasinya system ekonomi liberal. Negara yang dipimpin oleh Kabinet Neolib dengan sukses mencampakkan Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar bernegara, sebagai kepribadian Negara, sebagai moralitas Negara. Akhirnya, Neolib di Indonesia dengan sukses menempuh jalan tol dalam meng-goa-kan paket kebijakannya. Pemerintahan kita nyaris tidak punya proteksi dalam melindungi kekayaan alam yang dirampok di negerinya sendiri.

Kemenangan Neoliberal dan semakin matangnya laju neoliberalisme di Indonesia bias dilihat dalam kasus terbaru yang hamper setiap hari kita saksikan di TV, dan menyita waktu banyak orang di Indonesia dalam memperbincangkan kasus ini, yakni kasus kebrutalan PT Freeport.

Selama 44 tahun Freeport mengeksploitasi tambang emas dan tembaga di tanah Papua, pihak Indonesia mendapat 1% dan pihak Freeport (imperialis) mendapat 99%. Jadi, pihak yang diuntungkan dari situasi Papua saat ini adalah imperialis. Dahulu, rakyat Papua bebas mencari makan di tanahnya sendiri. Setelah kemerdekaan di interupsi oleh rezim ORBA, rakyat Papua tidak lagi merdeka mencari makan. Saat ini, Freeport yang tidak bermanfaat untuk rakyat Papua sudah leluasa menguasai aparatur Negara, terbukti dengan pengiriman pasukan TNI/Polri untuk menjaga kepentingan PT. Freeport di Papua. Ini bukanlah karena ekspresi nasionalisme Indonesia. Tetapi sebaliknya: hal itu dilakukan karena pemerintahan Indonesia sekarang adalah boneka imperialisme. TNI/Polri justru diperalat (dipergunakan) untuk menjaga kepentingan neo-kolonialisme di Papua.

Memang ada kemajuan dalam perlawanan gagasan jalan keluar krisis imperialisme, yakni dengan mengobarkan semangat kemandirian nasional. Paling tidak sentiment ini secara serentak dihembuskan oleh semua elemen-elemen yang anti Imperialisme. Sentimen tersebut kemudian meluas, dan tidak hanya menjadi perbincangan dikalangan aktivis saja, melainkan menjadi jualannya kaum brjuasi nasional di kancah Pemilu 2009 yang lalu.

Meski banyak gerakan Anti Imperialis bermunculan dengan menghembuskan irama yang serupa, namun masih belum menciptakan sebuah persatuan nasional yang kokoh, sebagai syarat untuk perimbangan kekuatan pro neolib. Padahal, fakta-fakta Indonesia menuju kebangkrutan sudah semakin nyata, diantaranya karena 1. Indonesia masih menjadi komoditas utama bahan mentah, yakni Batu Bara (70%), Minyak (50%), Gas (60%) dll. 2. Indonesia masih menjadi tempat penanaman modal asing, yakni hamper 70% Industri di Indonesia adalah modal asing, diantaranya Minyak dan Gas (80%), Perbankan (50%), Pelayaran (94%), Pendidikan (49%).Yang ketiga, Indonesia masih menjadi tempat pemasaran barang-barang hasil produksi Negara-negara maju. Dan terakhir Indonesia masih menjadi penyedia tenaga kerja murah.

Pasal 33 sebagai Alat Pemersatu dan Senjata Melawan Neolib

Didalam Pembukaan UUD 1945, Para pendiri Negara ini dengan tegas menuliskan tujuan-tujuan dan dasar-dasar kita bernegara, yakni untuk menghapuskan penindasan di muka Bumi, menciptakan perdamaian dan mensejahterakan seluruh tumpah darah Indonesia. Dan Pasal 33 adalah perisai Negara dalam membentengi rakyat Indonesia dari pengaruh jahat neoliberalisme. Dasar Negara kita tidak lagi dijalankan oleh Kabinet kaki tangan Asing seperti saat sekarang ini, sehingga dasar Negara tersebut tidak berfungsi sebagai perisai rakyat dalam melawan kepentingan serakah asing.

Ada 3 semangat didalam Pasal 33 UUD 1945, yakni 1. Sosio ekonomi, yaitu Perekonomian disusun secara bersama dan untuk kesejahteraan bersama, 2. Sosio Nasional, yakni Penguasaan kekayaan Alam oleh Negara dan diselenggarakan oleh Negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, 3. Sosio Kerakyatan, yakni usaha-usaha dalam membangun perekonomian rakyat dan menyejahterakan rakyat Indonesia.

Semangat tersebut tentu bertentangan dengan kepentingan Imperialisme ditanah air, yakni Penguasaan bahan baku melalui perampokan kekayaan alam, kedua penguasaan dan pelebaran pasar, dan ketiga yakni mendapatkan tenaga kerja murah. Jika pasal 33 UUD 1945 diterapkan oleh Rezim SBY-Budiono, mustahil Neoliberalisme mendapatkan pondasinya di negeri ini. Namun elit politik kita lupa pesan bung KArno, yakni “Biarkanlah kekayaan alam kita disini sampai Insinyur-Insinyur kita mampu mengelolanya.”

Pasal 33 mempunyai kekhususan tersendiri, yakni karena dia adalah bagian dari dasar Negara kita, dan kedudukannya sebagai UU adalah kedudukan tertinggi. Jadi perjuangan ditegakkannya Pasal 33 UUD 1945 adalah perjuangan konstitusional yang legal dan berkemampuan meluas.

Pasal 33 adalah antitesis dari kepentingan serakah asing didalam negeri. Pasal 33 adalah tembok raksasa dalam membendung keserakahan-keserakahan asing. Gerakan pasal 33 haruslah menjadi gerakan yang dapat mempersatukan semua kekuatan bangsa yang ingin melihat kemandirian bangsa Indonesia, yang tidak lagi ketergantungan kepada asing, dan yang mampu membuka lapangan kerja dengan penguasaan kekayaan alam oleh Negara. Pasal 33 UUD 1945 haruslah menjadi ruh dalam gerakan pengembalian kekayaan alam.



Randy Syahrizal, Penulis adalah Kader PRD Sumut
 

Cerita Lain Tentang Situasi Di Libya

Flavio Signore, seorang pembuat film berkebangsaan Italia, baru-baru ini melakukan perjalanan ke Libya. Bersama dengan Leonor Massanet, seorang psikolog yang sudah lima tahun tinggal di Libya, Signore berusaha mengungkap sejumlah fakta yang tak terlaporkan oleh media-media barat.

Keduanya berhasil merekam kejadian di Libya dalam sebuah film berdurasi pendek. Dalam video yang sudah banyak beredar di Youtube itu, Sigonore dan Leonor berusaha berbicara dengan rakyat Libya di beberapa tempat tentang kejadian sebenarnya.

Hasilnya sungguh menggemparkan: testimoni orang-orang itu sangat bertolak-belakang dengan apa yang terlanjur dilaporkan oleh media barat dan klaim sejumlah pemimpin terkemuka negeri-negeri imperialis.

Signore dan Leonor antara lain berkunjung ke Zawiya, Libya Barat. Ia tiba hanya beberapa saat setelah tentara Libya berhasil membebaskan kota itu dari para pemberontak dan teroris. Dalam rekaman Video yang dibuat Signore, warga sipil bercerita tentang siapa sebenarnya kelompok pemberontak itu dan apa yang dilakukannya kepada rakyat biasa.

“Kelompok bersenjata memasuki kota dan menembaki berbagai tempat dan mereka mulai membunuhi rakyat,” kata warga yang diwawancarai dalam video itu.

“Mereka menggunakan senjata terhadap warga sipil tak bersenjata.”

“Kami sangat menderita ketika mereka di sini.”

“Mereka memasuki rumah kami dan melakukan hal-hal mengerikan terhadap istri kami.”

“Sekarang, kami kebali normal. Rakyat sudah mulai bekerja dan Universitas dibuka kembali.”

Kota Zawiya dikuasai pemberontak selama 20 hari. Dan, selama hari-hari itu, mereka melakukan tindakan keji dan tidak manusiawi. Lalu, datanglah pasukan pemerintah membebaskan kota itu.

Kesaksian lain menceritakan: “Pada 22 Februari, kelompok Al-Qaeda dan Altakfir wa Alhejara (ekstremis islam) memasuki lapangan Ashushador di Zawiya, lalu membakar rumah dan bangunan lain. Rakyat bersembunyi di dalam rumah hingga tentara datang membebaskan mereka.”

Warga sipil juga memperlihatkan sebuah video amatir yang diambil dengan menggunakan ponsel. Video itu menggambarkan bagaimana para pemberontak memotong kepala orang dengan pisau dan menyembelihnya seperti hewan. Orang-orang mengatakan bahwa para pemberontak bukan orang Libya dan mereka mengenakan pakaian yang berbeda.

Kesaksian lain menyebutkan bahwa 90% para penyerang itu adalah orang asing. Mereka melakukan penjarahan. Mereka juga menghancurkan tempat kongres rakyat, kantor jaminan sosial, dan kantor pencatatan.

“Siapapun yang mendukung pemimpin, mereka akan memotong lehernya di depan umum dan mereka menggunakan masjid untuk berpesta,” kata seorang warga dalam kesaksiannya.

Signore dan Leonor, melalui wawancara dengan sejumlah pengungsi, mendapatkan cerita bahwa sebagian besar pemberontak mendapatkan suplai bantuan dari pemerintah Qatar dan ekstremis islam dari Aljazair dan Tunisia.

Ada banyak cerita yang hampir mirip dengan apa yang disampaikan oleh Signore dan Leonor. Salah satunya adalah Milovan Drecun, seorang wartawan perang berkebangsaan Serbia. Milovan membuat sebuah film pendek berjudul “Libya uprising: Crimes against humanity”, yang juga bisa ditonton di Youtube.

Dalam film pendek itu, Milovan membantah laporan media barat bahwa Khadafi telah memerintahkan pemboman terhadap sipil tak bersenjata. “Satelit menunjukkan bahwa hal itu tidak pernah terjadi. Tetapi kenapa media barat terus-menerus mengulang kebohongan itu?” tanya Milovan.

Ia juga membantah bahwa konflik internal di Libya dipicu oleh “musim semi di Arab”, yang sebagian besar merindukan “demokrasi dan kebebasan”.

Sebaliknya, ia justru menemukan fakta yang sangat penting, dari berbagai wawancara dan testimoni dengan rakyat Libya, bahwa para pemberontak Libya adalah para kriminal dan anggota Al-Qaeda.

Selama di Libya, ia juga mengetahui tentang adanya surat enam pemimpin suku dari timur Libya, daerah yang selalu diklaim sebagai wilayah pemberontak, kepada para pemimpin Uni-Afrika. Dalam surat enam pemimpin suku di bagian timur itu, dikatakan bahwa TNC (National Transitional Council)—pemerintahan sementara pemberontak di Libya—tidak pernah dipilih oleh rakyat, melainkan dibentuk sendiri oleh NATO.

Ia juga menemukan bahwa kebanyakan mereka yang disebut pemberontak di Libya tidak punya ide politik apapun. Katanya, ada dua kekuatan utama oposisi terhadap pemerintahan Khadafi di Libya: pemberontak dan Al-Qaeda. “Kedua kelompok ini bergerak secara independen, tetapi memiliki tujuan yang sama: menjatuhkan Khadafi dan membentuk pemerintahan baru,” katanya.

Anehnya, di front Afghanistan, negara-negara barat yang dikomandoi AS mengobarkan perang terhadap Al-qaeda. Sedangkan pada front di Libya, negara-negara barat bergandengan tangan secara tidak langsung dan membantu Al-Qaeda untuk menjahtuhkan Khadafi.

Abdel Hakim Al-Hasidi, mantan tahanan Guantanamo, dan Sulaiman Gumu, yang dikenal sebagai sekretaris Osama Bin Laden, melatih kelompok Al-Qaeda di Libya dan memimpin serangan terhadap pemerintah dan rakyat Libya.

NATO juga bertanggung-jawab dalam melatih dan mempersenjatai kelompok bersenjata di Benghazi. Tentara bayaran dari Barat juga diketahui melatih kelompok bersenjata oposisi dan malah terlibat dalam barisan oposisi.

Akan tetapi, Milovan menyimpulkan bahwa langkah pemberontak untuk mengalahkan Khadafi akan sangat sulit, sekalipun mendapat bantuan NATO. Sebaliknya, Milovan menunjukkan bahwa mayoritas rakyat Libya mendukung Khadafi. Dari sekitar enam juta penduduk Libya, ada dua juta orang yang merupakan tentara bersenjata.

“Kalau memang rakyat Libya menentang Khadafi, kenapa dua juta orang bersenjata itu tidak segera menggulingkannya. Rakyat berada di belakang Khadafi.”
Raymond Samuel

Milovan juga meliput pertemuan 2000-an suku di seluruh Libya. Pertemuan itu merekomendasikan sebuah dukungan kuat kepada Khadafi dan sekaligus deklarasi perlawanan terhadap intervensi barat.

Wartawan perang asal Serbia ini juga berhasil membuktikan bagaimana serangan NATO menghancurkan rumah, masjid, gedung pertemuan, sekolah, perkebunan, dan sarana-saran publik. Serangan NATO juga membantai ribuan sipil tak bersenjata, anak-anak, dan relawan kemanusiaan.

Kami mengira bahwa laporan dua jurnalis di atas bisa memberi sudut pandang lain tentang Libya. Setidaknya, dengan membaca artikel ini, ada pertanyaan-pertanyaan ulang di kepala pembaca tentang situasi di Libya. Kami tidak memaksa anda untuk percaya pada laporan kedua jurnalis itu, tetapi setidaknya ada berfikir dua kali untuk mengambil kesimpulan sederhana mengenai Libya.
 

KEJAHATAN KERAH PUTIH DI PEDESAAN JAWA MASA KOLONIAL

Oleh : Wasino

Pendahuluan

Pada saat ini, korupsi dan penyalahgunaan wewenang merupakan tindak kejahatan yang banyak menjadi sorotan. Pemerintah dan masyarakat berusaha untuk menghapuskan tindak kejahatan tersebut melalui berbagai macam cara. Meskipun belum menunjukkan tingkat keberhasilan yang prestisius, namun budaya takut korupsi sedang menghantua para pemegang kekuasaan dan penegak hukum.

Hal ini berbeda dengan masa Orde Baru yang tidak mengekspos kasus korupsi sebagai bahaya yang menghancurkan negara dan masyarakat. Korupsi merupakan penggunaan wewenang dan kekuasaan formal secara sembunyi-sembunyi dengan dalih menurut hukum. Onghokham mengemukakan bahwa korupsi baru timbul setelah adanya pemisahan antara kepentingan keuangan milik pribadi seorang pejabat negara dan keuangan jabatannya. Lingkungan yang baik berkembangnya korupsi diantaranya adalah berkembangnya birokrasi patrimonial, tidak hanya dalam bentuknya yang tradisional, tetapi juga dalam bentuk baru, yakni dengan menggunakan kedok birokrasi modern. Akan tetapi birokrasi modern itu tetap dikuasai oleh nilai-nilai birokrasi patrimonial. Makalah ini berusaha untuk melakukan refleksi historis dengan cara melihat kasus-kasus korupsi pada tataran mikro di pedesaan Surakarta, terutama di sekitar kebun tebu Mangkunegaran (Colomadu dan Tasik Madu). Selain itu juga dipaparkan tentang mekanisme kontrol pemerintah dan masyarakat dalam menghilangkan tindak kejahatan korupsi tersebut.

Korupsi Kasus Dana Pemberantasan Penyakit Pes

Lingkungan birokrasi pemerintahan yang berkembang di wilayah pedesaan Mangkunegaran masih bersifat tradisional. Raja dan aparat birokrasi sampai tingkat desa masih dipandang sebagai “bapak” dari “kawula”. Persoalannya adalah apakah dalam tatanan birokrasi seperti ini tumbuh subur korupsi, dalam bentuk apa korupsi itu muncul, dan bagaimana korupsi itu dikendalikan?.

Berdasarkan data-data yang berhasil ditemukan terlihat bahwa tindak korupsi di pedesaan Mangkunegaran memang terjadi. Korupsi, terutama dilakukan oleh pejabat birokrasi pemerintahan di supra desa. Tindak korupsi itu berupa permintaan uang, barang atau upeti di luar aturan yang berlaku kepada bawahannya, serta penggelapan dana pemerintah. Tindak korupsi tentu sulit diungkap karena perilaku itu umumnya dijalankan secara rapi. Akan tetapi dengan sistem pengendalian korupsi yang baik, tindak korupsi dan dugaan korupsi dapat diproses oleh atasan atau penegak hukum di Mangkunegaran.

Selain itu yang lebih penting adalah pengendalian dari bawah, mereka yang terkena dampak dari perilaku korupsi itu. Beberapa laporan kasus dugaan korupsi terlihat bahwa pejabat pada tingkat distrik dan kabupaten memberi peluang bagi rakyat atau aparat desa pada tingkat yang lebih rendah untuk melaporkan dugaan korupsi yang dilakukan atasanya. Berdasarkan laporan-laporan dari bawah itu kemudian dilakukan penyeledikan atas dugaan tindak korupsi atau penyalahgunaan wewenang. Laporan penyelidikan itu harus dibuat proces verbal dan wajib dilaporkan kepada Pemerintah Kolonial Belanda. Laporan tindak korupsi terlihat pada tahun 1916.

Laporan yang berupa proces verbal itu dibuat oleh komisi pemberantasan pes (pes bestrijding commissie), J.H.A. Logeman, Kontrolir I/c dan Raden Mas Hariya Suryasutanta, komisi W.V. Laporan itu menyebutkan, bahwa berdasarkan audit terhadap buku kas, terlihat bahwa Mantri Gunung Colo Madu , Raden Mas Ngabehi Harjasasmita telah melakukan tindak korupsi dalam penggunaan dana untuk perbaikan rumah penduduk dalam rangka pemberantasan penyakit pes. Tindak korupsi itu antara lain berupa penggelembungan harga pembelian gedek (dinding dari anyaman bambu).

Dalam buku kas ditulis f 0,75 sen per lembar, tetapi harga sesungguhnya hanya f 0,55 sampai 0,65 sen. Harga riil itu diperoleh dari laporan wong cilik (rakyat biasa) Colo Madu terhadap komisi itu.6 Komisi menanyakan ketidak cocokan itu kepada pelaku. Mantri Gunung Colo Madu memang mengakui bahwa harga gedek per lembar tidak lebih dari f 0,04 sen. Penggelembungan harga gedek perlembar karena digunakan untuk biaya angkut gedek itu dari kota Surakarta ke Colo Madu. Selain itu juga ia berkilah akan digunakan untuk memberikan uang prosen kepada penduduk yang menjaga pekerjaan. Meskipun sudah dikurangi dana-dana itu, berdasarkan perhitungan komisi biaya pembelian satu lembar gedek tidak melebihi f 0,75.

Selain menggelembungkan harga gedek, sebagai penanggung jawab pembuatan rumah untuk rakyat biasa dalam rangka pemberantasan penyakit pes, Mantri Gunung Colo Madu itu juga melakukan tindak korupsi lain. Ia menggunakan uang kas yang seharusnya segera digunakan untuk uang muka pembuatan rumah. Ini terlihat sikapnya yang begitu kebingungan ketika ada pemeriksaan tentang posisi uang kas yang dipegangnya. Pada tanggal 28 Jun 1916, pihak pemeriksa R.M.H. Suryosutanta memeriksa uang kas yang dipegang oleh pelaku. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa uang kas kurang f229,50. Setelah ditanyakan dimana posisi selisih uang itu, pelaku mengatakan bahwa yang f 200 sedang ditukarkan di Kartasura, dan yang f 29, 50 tidak dapat memberikan keterangan.

Setelah dilakukan investigasi dengan saksi lain ternyata uang f 200 itu pun juga digunakan oleh Mantri Gunung Colo Madu. Untuk dapat menunjukkan sejumlah uang itu dihadapan komisi, ternyata ia meminjam uang dari Mantri Pamajegan Gatak, Lemahbang yang datang di malam hari. Sementara itu , catatan dalam buku kas bahwa orang-orang kecil telah menerima uang muka untuk pembuatan rumah ternyata tidak benar. Sejumlah orang kecil yang diinvestigasi mengaku belum menerima uang muka. Komisi akhirnya berkesimpulan bahwa Wedana Gunung Colo Madu melakukan tindak korupsi. Oleh karena ia merupakan pejabat pemerintah Mangkunegaran, maka tindakan selanjutnya diserahkan pada pemerintah Mangkunegaran. Berdasarkan proces verbal terlihat bahwa pada masa itu telah terjadi korupsi. Korupsi dilakukan dengan cara penggelembungan harga beli barang dibandingkan dengan harga riil di pasar. Selain itu juga digunakannya uang proyek terlebih dahulu untuk kepentingan pribadi. Sementara itu pengendalian sosial dilakukan oleh pejabat birokrasi dari atas. Pungutan Liar oleh Demang Pancayuda
Korupsi juga dilakukan oleh kepala desa di wilayah Karang Anyar. Untuk keperluan pemeriksaan, pada tahun 1918 dibentuk sebuah komisi yang bertugas menyelidiki dugaan kasus korupsi yang dilakukan oleh seorang demang di Desa Dayu, Kemantren Gunung Tugu, Distrik Karang Anyar, bernama Demang Pancayuda. Komisi itu terdiri dari bupati Karang Anyar, Harjahasmara dan Mantri Gunung Karang Anyar, Sumaharyama. Mereka melaporkan hasil penyelidikannya kepada Gubernur Jenederal Hindia Belanda dalam bentuk proces verbal yang ditandatangani pada tanggal 21 Agustus 1918.

Munculnya komisi ini karena adanya keluhan yang disampaikan oleh sejumlah bekel dan nara karya yang merasa diperas oleh demang tersebut.10 Para saksi dalam pemeriksaan menyampaikan keterangannya di hadapan komisi. Kartaya, bekel desa Konang berumur 55 tahun Tindak korupsi ini mirip dengan yang terjadi pada masa Orde Baru dan masa sekarang. Korupsi dilakukan dengan cara penundaan proyek hingga menjelang batas akhir kontrak sehingga uangnya dapat diinvestasikan di tempat lain.

Selain itu juga permainan kuitansi dan laporan keuangan. menyampaikan bahwa dua bulan sebelum dilakukannya pemeriksaan oleh komisi ia dimintai uang lelesan sebesar f 1 ketika menjual sapinya. Dalam waktu yang hampir bersamaan ia juga dimintai uang lelesan sebesar f 1 ketika menjual kerbaunya. Sapawira, bekel desa Konang berumur 50 tahun menyampaikan bahwa, satu tahun sebelum diperiksa komisi ia pernah dimintai uang lelesan sebesar f 1 ketika menjual kudanya oleh Demang Pancayuda. Akan tetapi ia hanya bersedia membayar f 0,20, dan diterimanya. Ada sejumlah penduduk lain yang dimintai uang lelesan, yakni Pareja umur 33 tahun, bekel desa Puluhan; Sasemita umur 42 tahun, bekel desa Wates; Hiradikrama umur 45 tahun dengan pekerjaan nara karya tinggal di desa Wates; Hiradimeja umur 45 tahun seorang bekel yang tinggal di desa Kebak; Japawira umur 45 tahun bekel desa Ngentak; Sapawira umur 40 tahun, bekel dan tinggal di desa Kemiri; dan Kartawikrama umur 36 tahun dengan pekerjaan sebagai bekel dan tinggal di Kopenan. Ke delapan orang itu masing-masing dimintai uang lelesan seebsar 20 sen ketika menjual hewan, baik hewan itu laku-maupun tidak laku.

Selain persoalan pungutan liar dalam jual beli hewan, Demang Pancayuda juga terlibat korupsi pasca panen padi. Dalam setiap tahun sekali ia meminta padi “bawon alus” kepada bekel di wilayahnya sebanyak 2 gedeng padi untuk tiap bekel. Sembilan saksi di atas mengakui di hadapan komisi, bahwa setiap tahun sekali ia dimintai padi sebanyak 2 gedeng sebagai “bawon alus”. Tindak korupsi ini sudah berlangsung selama 8 tahun, sejak Demang Pancayuda diangkat sebagai demang di desa Dayu. Padi tersebut diterima baik oleh demang sendiri, maupun anggota keluarganya. Demang Pancayuda berkilah bahwa padi yang diterima dari sejumlah bekel dan nara karya, bukan sebagai bawon alus tetapi sebagai padi zakat. Pungutan lain terhadap penduduk yang dilakukan oleh Demang Pancayuda adalah uang untuk mendapatkan ijin memotong pepohonan di lingkungan rumahnya. Bekel Kartaya menyampaikan pada komisi bahwa Hiradikrama pernah dimintai uang sebanyak f 5 karena menebang 5 buah pohon. Kasus serupa dialami oleh Hiradikrama, ketika memotong pohon kelapa (glugu) dan nangka juga dimintai uang sebanyak f 5. Demikian pula Hiradimeja dimintai uang sebesar f 5 ketika ia memohon untuk memotong pepohonan di wilayahnya. Kartahikrama dimintai uang sebesar f 1,25 ketika meminta ijin untuk memotong pepohonan (karang kitri).

Perilaku Demang Pancayuda itu dipandang oleh komisi sebagai korupsi. Memang dalam aturan Pemerintah Mangkunegaran sorang kepala desa diperbolehkan menjadi saksi dalam jual beli di wilayahnya dan sebagai imbalannya memperoleh imbalan uang. Akan tetapi menurut Undang-Undang Mangkunegaran tanggal 13 Maret 1902 nmor 5/Q pasal 1 jumah uang yang diperoleh masing-masing saksi untuk setiap penjualan satu hewan hanya 10 sen. Akibat pelanggaran yang dilakukan oleh demang ini, komisi memberi saran yang agak lunak, yakni diturunkan pangkatnya dari demang menjadi rangga dan dipindahkan dari desa Dayu ke desa lain serta diancam akan dipecat jika mengulangi perbuatannya. Sementara itu Bupati Patih Mangkunegaran dalam rekomendasinya tertanggal 12 Desember 1918 menyatakan bahwa kepala desa itu pantas dipecat.

Data itu menunjukkan beberapa hal. Pertama, bahwa pernah terjadi tindak korupsi yang dilakukan oleh kepala desa di wilayah Mangkunegaran. Kedua, adanya keberanian rakyat yang posisinya berada di bawah birokrasi patrimonial melaporkan adanya tindakan menyimpang yang dilakukan oleh pejabat desa. Ketiga, adanya tanggapan positif dari pemerintah lokal dalam menangani kasus korupsi yang dilakukan oleh aparatnya sehingga mendorong keberanian rakyat untuk mengungkapkan kasus korupsi. Akan tetapi pemerintah Mangkunegaran tidak saja percaya pada laporan yang masuk, tetapi diikuti dengan tindakan investigasi. Dengan kata lain, sistem yang dibangun oleh pemerintah Mangkunegaran memungkinkan dapat diungkapkan dan ditanganinya kasus korupsi.

Dugaaan Korupsi terhadap Demang Jayeng Pranawa.

Meskipun tidak semua laporan masyarakat tentang dugaan tindak pidana korupsi yang dilakukan aparat benar-benar terjadi, namun usaha investigasi pejabat yang lebih tinggi terhadap sebuah kasus dugan korupsi menjadi sebuah keharusan. Jika memang dugaan atau keluhan masyarakat itu tidak terbukti, maka tim atau komisi yang dibentuk untuk menangani hal itu harus benar-benar dapat membuktikan bahwa dugaan itu tidak benar. Ini terlihat dalam kasus dugaan korupsi yang dilakukan oleh Demang Jayeng Pranawa. Dugaan korupsi terhadap Demang Jayeng Pranawa bermula dari surat kaleng yang ditujukan kepada Bupati Patih Mangkunegaran. Dalam surat kaleng itu Jayeng Pranawa, wakil kepala desa Jurug diduga melakukan sejumlah tindakan korupsi dan penyalahgunaan wewenang.

Pertama, tiap hari melakukan turne ke desa-desa yang dianggap menyusahkan para bekel yang didatangi. Selama turne, ia meminjam uang kepada para bekel dengan cara memaksa, hingga terkumpul sebesar f 750. Oleh karena tidak selalu memiliki uang sendiri, maka para bekel harus mengeluarkan uang pajak yang seharusnya diserahkan kepada Kemantren Gunung Jagamasan. Kedua, Ia meminta uang untuk pembuatan surat kitir (surat keterangan) terhadap penduduk yang bernama Wangsadikroama, dari desa Jomboran sebesar 30 sen yang hendak menjual berasnya ke Kota Solo. Selain itu juga para bakul di desa Guthekan banyak yang diperkirakan dimintai surat kitir.

Ketiga, ia melindungi pelaku durjana koyok yang melakukan tindak kejahatan di desa Klampok, Jagamasan sebab pencurinya kenal dengannya. Akibatnya pencurinya tidak berhasil ditangkap. Jayeng Pranawa juga dituduh melakukan tindakan beberapa pelanggaran hukum lain, yaitu meminta uang kepada para bekel se desa Kranggan masing-masing 10 sen ketika mereka menjual kambing dengan alasan untuk membeli kertas. Jayeng Pranawa melakukan korupsi waktu, dalam menjalankan pekerjaannya hanya sambil lalu, ia tidak tinggal di tempat bekerja, tetapi masih tetap tinggal di Jogomasan.

Dalam surat kaleng itu juga diceritakan, bahwa perilaku buruk Jayeng Pranawa sudah sejak sebelumnya, ketika menjadi kepala desa di desa Tunjungan, Bumiharja Ketika ia ia pernah mengambil tanaman di jalan umum (capuri) berupa mangga, bambu, dan semacamnya.14 Surat kaleng itu ditanggapi oleh Bupati Patih Mangkunegaran melalui surat rahasia no. 3923/38 teranggal 23 Jun 1919 yang ditujukan kepada Wedana Gunung Jogamasan agar dilakukan pemeriksaan tentang kebenaran isi surat kaleng itu. Wedana Gunung Jagamasan akhirnya melakukan pemeriksaan dengan melakukan uji silang pada pelaku, dan saksi yang disebut maupun terkait dengan orant-orang dalam isi surat itu. Mula-mula Wedana Gunung Jagamasan melakukan pemeriksaan secara sembunyi-sembunyi (papriksan alus) terhadap para bekel yang diduga dipinjami uang.

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa isi surat kaleng itu tidak benar. Berdasarkan hasil pemeriksaan dari semua bekel di wilayah Karnggan, Jurug diperoleh informasi bahwa lama turne Jayeng Pranawa selama 203 hari ke tempat para bekel. Tujuannya adalah untuk mempercepat pembuatan keranjang tempat bibit padi dari para nara karya. Selain itu juga untuk melihat kemajuan pertanian di pedesaan. Setelah dilihat di lapangan ternyata memang pengerjaan keranjang untuk bibit sudah selesai dan sudah diisi bibit padi.15 Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa memang Jayeng Pranawa meminjam uang kepada empat orang bekel, tetapi yang dipinjam uang dari para bekel sendiri, bukan uang pajak.

Menurut pembuat laporan pemeriksaan, informasi yang diberikan oleh para saksi dianggap benar karena selain mereka bersaksi di bawah sumpah, juga tidak terbukti adanya bekel yang kether (tidak mampu) membayar pajak pada negara. Para bekel yang dipinjami uang itu adalah: Krama Dana, desa Benawa sebesar f 10,2, Kartadikrama, desa Karang sebesar f 5, Krama Semita, desa Kreten sebesar f10, dan Hargasemita, desa Gutekan sebesar f 7,50. Uang pinjaman kepada para bekel itu sudah dikembalikan pada saat pemeriksaan. Dugaan penarikan uang dalam pembuatan surat kitir juga tidak benar. Wangsadikrama yang disebut-sebut dalam surat kaleng itu tidak merasa dipungut uang dalam pembuatan kitir. Ia memang mengeluarkan uang sebanyak 30 sen untuk membelikan teh Jayeng Pranawa di Solo, tetapi itu sebagai uang talangan, yang diganti setelah kembali dari Solo. Informasi yang sama juga diberikan oleh sejumlah bekel dan bakul, bahwa ketika mereka minta surat kitir tidak dikenakan biaya.

Dugaan tindak kolusi dengan melepas tahanan, berdasarkan hasil pemeriksaan itu tidak benar. Mantri gunung itu mengatakan bahwa ia mengetahui bahwa terdakwa kasus kecu yang bernama Sasadikrama dari dukuh Ngasem, desa Nangsri itu belum kenal dengan Jayeng Pranawa. Oleh karena pada saat itu terdapat dua tahanan kecu, agar tidak timbul masalah, maka kecu satu dititipkan di rumah Jayeng Pranawa dengan dijaga aparat kelurahan Kemiri. Terdakwa melepaskan diri sendiri dan berhasil ditangkap karena usaha Jayeng Pranawa yang meminta bantuan mantri gunung dan aparat desa. Jayeng Pranawa memang belum pindah tempat bersama keluarganya di desa Jurug.
Hal itu disebabkan ada keluarganya yang sakit panas. Jayeng Pranawa sudah bertempat tinggal di desa itu dengan indekos di rumah Jasentana, bekel di desa Jurug.

Berdasarkan informasi dari bekel Jurug, Jayeng Pranawa lebih banyak tinggal di desa Jurug, dan hanya sesekali mengunjungi keluarganya. Tuduhan lain juga tidak benar. Pepohonan yang ditebangi memang sudah rusak. Sementara itu bambu ori ditebang oleh Jayeng Pranawa untuk membuat pagar batas rumah loji, dan prasana desa seperi lumbung, rumah pamong dan prasarana lainnya milik pemerintah sebelum ada yang membeli. Jadi untuk keperluan negara bukan untuk keperluan pribadi. Berdasarkan hasil pemeriksaan itu, Mantri Gunung Jagamasan berkesimpulan bahwa isi surat kaleng sama sekali tidak benar. Surat kaleng itu diperkirakan hanyalah sebuah rekayasa karena merasa benci terhadap Jayeng Pranawa. Para bekel dan nara karya merasa berat dalam menjalankan program pengembangan pertanian desa yang dicanangkannya.

Catatan Reflektif

Berdasarkan uraian di atas terlihat bahwa dalam sebuah tatanan tradisional kerajaan, seperti Mangkunegaran telah terjadi mekanisme pengendalian korupsin yang cukup baik. Sebelum kasus-kasus korupsi diajukan ke pengadilan, mekanisme kontrol birokrasi terhadap tindak kejahatan korupsi aparat pemerintahan kerajaan, termasuk di tingkat pedesaaan telah dilakukan. Kontrol tidak hanya dari pejabat birokrasi yang lebih tinggi, tetapi juga dari rakyat kebanyakan. Akibat terciptanya mekanisme kontrol tersebut dapat menimbulkan efek jera dan rasa malu bagi aparat yang melakukan tindak korupsi. Aneh sekali di zaman sekarang yang memberi lebel dirinya pemerintahan modern, tetapi pengendalian pengendalian korupsi di Indonesia kurang efektif. Banyak lembaga diciptakan, tetapi tingkat keberhasilannya tidak sepadan dengan uang yang dikeluarkan oleh negara. Sehubungan dengan hal itu kita tidak usah malu untuk belajar dari kearifan masa lalu, termasuk dalam pengendalian korupsi tersebut.


DAFTAR PUSTAKA
Braz, H.A., “Beberapa Catatan mengenai Sosiologi Korupsi”, dalam Mochtar Lubis dan James C. Scott (ed.), Bunga Rampai Korupsi, (Jakarta: LP3ES, 1985).
Bundel P 1785 Arsip Rekso Pustoko Mangkunegaran.
Onghokham, “Tradisi dan Korupsi”, Prisma, no. 2, tahun XII, Februari 1983.
Proces – Verbaal Pemeriksaan Comissie Pestbestrijding di Colo Madoe, dalam arsip Rekso Pustoko kode YN 966 hlm I.
Proces Verbal Kasus Demang Pancayuda, Desa Dayu, Kemantren Gunung Tugu, Distrik Karang Anyar, Arsip Rekso Pustoko Mangkunegaran no. P 237.
Bundel P 1785 Arsip Rekso Pustoko Mangkunegaran.
Wasino, Pedesaan Jawa di Bawah Kapitalisme Bumi Putra: Perubahan Masyarakat di Wilayah Perkebunan Tebu Mangkunegaran, 1861-1942, (Disertasi belum diterbikan, Sekolah Pascasarjana UGM, 2005).
Artikel, 13 April 2009
 

Front Persatuan adalah Kebutuhan Obyektif Perjuangan Nasional



Front atau persatuan pada hakekatnya adalah praktek politik yang membutuhkan kerendahan hati untuk melihat kebutuhan obyektif yang sangat mendesak. Pembacaan situasi obyektif dalam tradisi perjuangan pasti akan menghasilkan resolusi-resolusi, dan front adalah resolusi yang paling tepat dalam menciptakan perimbangan kekuatan anti imperialis. dalam makna yang lebih luas, front dapat berguna untuk mengisolasi praktek politik musuh utama dan mendelegitimasinya dihadapan massa luas. namun dalam situasi yang bagaimanakah front persatuan luas menjadi kebutuhan mendesak..? lantas unsur-unsur apa saja yang patut terlibat didalamnya..?

Front Persatuan dalam Perang Gagasan

Gerakan revolusioner tentunya bukan sebuah gerakan yang lahir dari keinginan subyektif pendirinya, namun ia ada atas kehendak bersama dan termanifestasi dalam kerja-kerja sukarela. Gerakan revolusioner selalu menghendaki penjungkirbalikan tatanan lama yang bobrok dan usang, dan berusaha sekuat tenaga untuk membangun sistem yang lebih adil, setara, demokratis dan sejahtera. Oleh karena sifatnya yang radikal, gerakan revolusioner dimusuhi dimana-mana, terutama oleh pemerintahan pro imperialis dan negeri-negeri imperialis, serta unsur-unsur yang selalu diuntungkan oleh imperialisme.

Namun tidak sebaliknya bahwa gerakan revolusioner langsung mendapat tempat dihati rakyat kecil karena pengorbanan dan sikapnya yang selalu membela rakyat. Hal ini diakibatkan karena imperialisme selalu membangun perangkat yang lengkap dalam menjaga tidak terjadinya ledakan perlawanan. Untuk kasus ini, agen-agen imperialisme dalam negeri bekerja keras dalam meracuni pendidikan, menghabisi identitas nasional, memasok budaya liberal (individualis), membangun mainset agama/keyakinan yang damai (tidak menentang pemerintahan), mengubur sejarah/mendistorsinya, dll. ini lah mainset imperialisme, dan manakah mainset gerakan revolusioner untuk meraih dukungan massa..? satu kesatuan dari sumber-sumber masalah diatas bisa dirangkum dan disebut dalam satu kalimat pendek, yakni konflik kelas.

Karena beberapa alasan diatas, menjadi jelas kemudian bahwa kehadiran gerakan revolusioner tidaklah serta merta membesar, sebaliknya dia adalah upaya dari orang-orang yang sadar yang dengan sukarela merelakan dirinya menjadi pelopor-pelopor (vanguard) dalam  memasok kesadaran sosialisme kepada massa luas, dengan berhadapan langsung dengan gagasan-gagasan mainstream liberal. Dari sini lah kemudian gerakan revolusioner menempatkan pendidikan teori sebagai hal yang paling utama dalam program kerjanya.

Tak pelak lagi, bahwa untuk memenangkan ide-ide atau gagasan2 sosialisme, gerakan revolusioner memerlukan kerja-kerja pengorganisasian dan menempatkan pekerjaan ini sebagai pekerjaan utama. Dalam perjalanannya, kerja-kerja pengorganisasian sering kali menghadapi kegagalan, terutama ketika berbenturan dengan alat-alat negara dan himpitan ekonomi. Maka dari itu menjadi wajar (bagi yang mau menganggapnya wajar), jika pada akhirnya gerakan selalu berhadapan dengan situasi "jatuh bangun" atau kerontokan struktur kemudian membangunnya lagi dan rontok lagi, begitu lah seterusnya. Banyak unsur-unsur pergerakan malah menyalahkan keemampuan kadernya atau menyalahkan militansi kadernya dalam hal ini, namun yang terpenting mereka lupa bahwa imperialisme selalu membikin usaha untuk mengerdilkan gerakan revolusioner.

Dalam melihat permasalahan ini, lebih adil jika kita memohon kepada sejarah untuk menguraikan fakta sebanarnya, atau meluangkan waktu sejenak untuk memikirkan jalan keluarnya. Sederhana saja contohnya, yakni PKI (Partai Komunis Indonesia). Bagaimanakah PKI lahir..? sebab-sebab apa saja yang membuatnya lahir dan situasi yang bagaimana yang kemudian menjadikannya sebagai partai besar dan praktek apa yang membuatnya jatuh berserakan..? karena saya bukan PKI, mungkin ada banyak kekurangan2 dalam penjabaran soal ini. dengan rendah hati, saya mohon kawan2 pembaca ikut mengoreksinya.

Gagasan-gagasan sosial demokrat (komunisme) dibawa masuk ke nusantara oleh seorang Belanda bernama Sneviliet dan Bars. Murid pertamanya adalah Semaoen, seorang pemuda yang tergabung dalam serikat dagang islam (kemudian SI), yang merupakan ormas terbesar saat itu. waktu itu embrio pergerakan nasional telah dimulai, sesaat setelah politik etis mulai menghasilkan intektual-intelektual Indonesia yang banyak mempelajari teori2 ekonomi politik di eropa. syarat revolusi mulai tumbuh dengan berkembangnya tenaga produksi di nusantara/hindia belanda. Bersama-sama mereka kemudian mendirikan serikat buruh kereta api VSTP dan kemudian membentuk partai perjuangan yang bernama ISDV.

ISDV oleh karena masih kecil dan dikepung oleh lautan massa rakyat yang masih buta huruf dan hidup miskin, kemudian memilih bekerjasama dengan para saudagar islam yang tergabung di SDI. Serikat Dagang ini berisikan saudagar-saudagar lokal yang kepentingan ekonominya diganggu dan terhimpit oleh kolonialisme Belanda, sehingga mereka membutuhkan tenaga yang lebih besar lagi, yang pada akhirnya merubah organisasi mereka menjadi organisasi massa rakyat dan merubah namanya menjadi serikat Islam, dan organisasi ini lah kemudian  yang menjadi organisasi terbesar dan politis di masa-masa awal sejarah pergerakan nasional.

Melihat perkembangannya yang subur, Semaoen dan  Snevliet memandang bahwa SI adalah ranting kering yang siap dibakar. Keanggotaan organisasi SI mayoritas adalah rakyat biasa, yang berkepentingan untuk mendukung gagasan kemerdekaan. Ternyata benar,  ranting itu kemudian terbakar dan meluas. Tak lama kemudian, Semaoen tampili sebagai orang paling penting dalam tubuh SI dan kemudian mendeklarasikan SI Merah dan merubahnya menjadi Sarekat Rakyat, cikal bakal partai Komunis Indonesia.

PKI kemudian memainkan peran penting dalam menggalang persatuan-persatuan pergerakan, terutama dengan menyebar banyak kader-kadernya dibeberapa organisasi-organisasi pergerakan dalam memenangkan pertarungan gagasan akan hari depan kemerdekaan Indonesia. Namun PKI yang belum memaksimalkan perimbangan kekuatan harus terjebak dalam advonturisme politik dengan melakukan pemberontakan bersenjata pertama sekali terhadap belanda yang mengakibatkan kerusakan fatal ditubuh partai. Tapi siapa sangka pemberontakan itu juga lah yang membentuk mainset dikepala rakyat bahwa PKI tidak main2 dalam perjuangan kemerdekaan.. PKI menyadarkan banyak orang pada saat itu bahwa perjuangan melawan penjajah tidak bisa dengan jalan damai.

Paska itu PKI masuk dalam fase perjuangan bawah tanah, dimana banyak kader-kadernya yang berpolitik diluar PKI, tersebar luas dan berpropaganda terus menerus soalnya pentingnya persatuan massif. Banyak momentum yang lahir paska itu, dari kongres pemuda, sumpah pemuda, pendirian-pendirian partai-partai politik, dll. Bahkan lahir pula lah kesadaran darurat akan pentingnya meraih kemerdekaan terlebih dahulu. semboyan yang terkenal saat ini adalah Merdeka atau Mati..!!

Secara legal, PKI tidak legal tertulis dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, terlebih dispeutar tahun 1945. Namun nama-nama kader dan pimpinannya ikut bicara disitu. PKI bawah tanah  dengan jalur koordinasi yang konspiratif tetap dipertahankan. PKI lupa bahwa zaman  keterbukaan haruslah diimbangi dengan keterbukaan politik pergerakan. PKI mungkin lupa akan pentingnya bagi partai-partai komunis untuk mereorganisasi partai dalam mersepon situasi politik yang berubah. Muso yang melihat kondisi ini dari jauh seperti merumah kaca kan indonesia, kemudian yang terpenting adalah lahirnya sebuah kritik oto kritik yang menghasilkan Jalan Baru Partai Komunis Indonesia. seluruh kekuatan PKI dipersatukan dan PKI hadir kembali dalam arena legal.
bersambung...
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. RANDY SYAHRIZAL - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger